Quo Vadis Kompetensi Kepribadian Guru?

- Selasa, 7 Juni 2022 | 21:50 WIB
Penulis Refael Molina.  (Dok Pribadi)
Penulis Refael Molina. (Dok Pribadi)

Video penganiayaan pun menjadi viral di jagad maya. Tidak sedikit yang ikut berempati atas korban. Sebaliknya, banyak masyarakat yang mengutuk perbuatan sang kepala sekolah. Peristiwa ini seolah menambah potret betapa buramnya etika dan perilaku guru-guru kita.

Ibarat nila setitik merusak susu sebelanga, perilaku ini, tak hanya nama pribadi, namun profesi guru yang selama ini diagung-agungkan dan dimuliakan pun ikut tercoreng. Lantas, di manakah profesi personal guru?. 

Baca Juga: Kepsek Harus Jadikan Sekolah Sebagai Rumah Belajar

Dalam UU Guru dan Dosen, sangat jelas menyatakan bahwa kompetensi kepribadian adalah kemampuan kepribadian yang mantap, berakhlak mulia, arif dan berwibawa serta menjadi teladan peserta didik. Apa yang dipertontonkan sang kepsek, sangat bertolak belakang dengan perintah UU.

Hemat saya, AN tak hanya menjadi contoh yang baik bagi siswa, tetapi ia pun telah menjadi contoh buruk bagi sesama guru atau bawahan. Perilaku seperti ini tak layak ditiru. Sebab, pemimpin yang baik harus memimpin dengan teladan. Sebagaimana kata Mutiara; good leader leads by example.

Teladani Bapak Pendidikan

Hemat saya, tokoh yang layak menjadi teladan dan panutan dalam dunia pendidikan adalah Bapak Pendidikan kita, Ki Hadjar Dewantara. Meski saat ini, ia sudah tidak ada. Namun, Ki Hajar Dewantara telah berpikir jauh dari hari sebelumnya bahwa para guru akan berhadapan dengan peserta didik, sesama guru, maupun orangtua/wali murid yang memiliki perbedaan karakter dan pikiran. Semboyannya yang sangat terkenal dari dulu hingga sekarang adalah “Tut wuri handayani, Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madyo Mangun Karso”.

Baca Juga: Setelah Aniaya Guru, Kepala SD Negeri Oelbeba Kabupaten Kupang Buat Laporan Polisi

Ing Ngarso Sung Tulodo artinya menjadi seorang pemimpin harus mampu memberikan suri tauladan. Ing Madyo Mbangun Karso, artinya seseorang ditengah kesibukannya harus juga mampu membangkitkan atau menggugah semangat. Tut Wuri Handayani, seseorang harus memberikan dorongan moral dan semangat kerja dari belakang.

Kita berharap, perilaku tercoreng yang dilakukan AN tidak terjadi lagi pada guru-guru lainnya, agar dunia pendidikan bebas dari praktik kekerasan, baik fisik maupun verbal. Dengan demikian, upaya menghasilkan peserta didik yang memiliki kompetensi afektif, kognitif dan psikomotorik bisa terwujud. Merdeka! ***

Halaman:

Editor: Polce Siga

Terkini

Kedaulatan Pangan di Tangan Petani

Jumat, 9 September 2022 | 09:42 WIB

Panggilan Menularkan Literasi

Jumat, 9 September 2022 | 09:38 WIB

Bahaya Digitalisasi Chanel TV Indonesia

Senin, 5 September 2022 | 14:41 WIB

Membangun Kembali Fondasi Sepak Bola NTT

Senin, 22 Agustus 2022 | 09:45 WIB

Tantangan Penjabat Wali Kota Kupang

Senin, 22 Agustus 2022 | 06:00 WIB

Jadi Kita (Indonesia) Belum Merdeka?

Jumat, 19 Agustus 2022 | 06:15 WIB

Pancasila Menjadi Arah Kebijakan

Selasa, 16 Agustus 2022 | 05:15 WIB

Perang Atensi Terhadap Reels

Senin, 1 Agustus 2022 | 14:29 WIB

Cegah Stunting Itu Penting

Rabu, 20 Juli 2022 | 07:40 WIB

Titipan Bekal Buat Para Pemimpin

Senin, 4 Juli 2022 | 14:13 WIB
X