Eksistensi Anak Muda dalam Pengawasan Pemilu

- Kamis, 16 Juni 2022 | 14:34 WIB
Yuanita Wake (Dok. Pribadi)
Yuanita Wake (Dok. Pribadi)

Peminum kopi sejati mengejar Kopi Arabika murni, karena cita rasa yang khas, yang diyakini akan menenangkan jiwa saat kopi itu diseduh. Sensasi ini memiliki nilai khusus, sehingga tak jadi soal jika untuk menikmati 1 cangkir Kopi Arabika murni harus membayar mahal.

Pemilih milenial ibaratnya pendatang baru yang juga ingin mengecap indahnya sensasi minum Kopi Arabika murni. Untuk mendapatkan sensasi itu, ia harus mulai membaui kopi dari biji kopinya, lalu bubuk kopinya serta mulai mencicipi kopi itu.

Untuk mendapatkan sensai “khas” Arabika murni, ia juga perlu mencicipi Kopi Robusta atau campuran keduanya Arabika-Robusta, dan membedakannya sendiri. Pada akhirnya, ia sendirilah yang akan memilih kopi murni berdasarkan cita rasanya sendiri.

Demikian halnya dengan suara yang ia berikan di pemilu, haruslah semurni rasa kopi yang ia senangi.

Mengkawal “suara yang termandatkan”
Suara yang termandatkan adalah suara para pemegang hak pilih yang sudah diberikan di kertas suara di hari pemilu, yang kemudian dihitung di berbagai tingkatan dari perhitungan di TPS hingga di tingkat nasional.

Setiap suara yang diberikan memiliki nilai yang sangatlah mulia karena di dalamnya melekat keyakinan bahwa masa depan Negara dan daerah ada di tokoh dan partai politik yang dipilih. Sayangnya tidak semua pemilih hak pilih memiliki kesadaran untuk memantau suara yang telah diberikan tetap sesuai dengan yang ia berikan ataukah tidak.

Kendati telah ada pengawas pemilu Negara di berbagai tingkatan, namun wilayah pengawasan yang luas dan potensi pelanggaran yang selalu terjadi di berbagai tahapan pemilu menjadi tantangan suara yang diberikan tidak berubah hingga perhitungan akhir.

Oleh karenanya, pengawas partisipatif diinisiasi untuk dibentuk membantu BAWASLU menjalankan tugas pengawasan pemilu.
Pemilih milenial menjadi kelompok potensial yang perlu didorong untuk melakukan pengawasan partisipatif mengkawal suara yang termandatkan ini. BAWASLU terutama di tingkatan provinsi, kabupaten dan kota, wajib melibatkan mereka dalam kerja-kerja pengawasan partisipatif.

Jumlah mereka yang banyak dapat dijadikan kekuatan memperkuat kerja pengawasan, terutama mengkawal suara sesama milenial. Pengetahuan mereka tentang kerentanan pemilu perlu diperkuat, agar mereka mampu mengenali pelanggaran yang terjadi di komunitasnya.

Tantangannya saat ini ada pada pelibatan masyarakat termasuk pemilih milenial dalam pengawasan partisipatif harus terlembagakan dengan baik dan terdaftar di BAWASLU.

Halaman:

Editor: Beverly Rambu

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Kedaulatan Pangan di Tangan Petani

Jumat, 9 September 2022 | 09:42 WIB

Panggilan Menularkan Literasi

Jumat, 9 September 2022 | 09:38 WIB

Bahaya Digitalisasi Chanel TV Indonesia

Senin, 5 September 2022 | 14:41 WIB

Membangun Kembali Fondasi Sepak Bola NTT

Senin, 22 Agustus 2022 | 09:45 WIB

Tantangan Penjabat Wali Kota Kupang

Senin, 22 Agustus 2022 | 06:00 WIB

Jadi Kita (Indonesia) Belum Merdeka?

Jumat, 19 Agustus 2022 | 06:15 WIB

Pancasila Menjadi Arah Kebijakan

Selasa, 16 Agustus 2022 | 05:15 WIB

Perang Atensi Terhadap Reels

Senin, 1 Agustus 2022 | 14:29 WIB

Cegah Stunting Itu Penting

Rabu, 20 Juli 2022 | 07:40 WIB

Titipan Bekal Buat Para Pemimpin

Senin, 4 Juli 2022 | 14:13 WIB
X