Penanganan Stunting PR Bagi Kita Semua (Refleksi Peringatan Hari Keluarga Nasional 2022)

- Rabu, 29 Juni 2022 | 10:19 WIB
Yohanes Dion, S.Kep.,Ns.,M.Kes. Dosen Prodi Ners Universitas Citra Bangsa Kupang (Dok.pribadi)
Yohanes Dion, S.Kep.,Ns.,M.Kes. Dosen Prodi Ners Universitas Citra Bangsa Kupang (Dok.pribadi)

Baca Juga: Tadi Malam, Kabupaten Kupang Diguncang Gempa Magnitudo 5,0 SR, BMKG : Tidak Berpotensi Tsunami

Data gizi buruk di NTT yang tercatat hingga saat ini sebanyak 8.351 bayi dengan status gizi buruk, sementara gizi kurang sebanyak 28.363 bayi. Kabupaten yang tertinggi pertama dan kedua gizi buruk dan gizi kurang di Wilayah Nusa Tenggara Timur hingga 2020 adalah, pertama Kabupaten Kupang dan kedua adalah Kabupaten Timor Tengah Selatan.

 

Kabupaten Timor Tengah Selatan merupakan salah satu daerah penyumbang angka kejadian stunting dan gizi buruk tertinggi di NTT (BPS Provinsi NTT, 2018).


Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten TTS mengeluarkan kebijakan Peraturan Bupati Nomor 37 tahun 2019 tentang Pencegahan dan Penanganan Anak Kerdil (Stunting) Terintegrasi. Strategi yang tertuang dalam PerBup tersebut adalah edukasi (pelatihan dan penyuluhan gizi), kemandirian keluarga dan pendampingan oleh tenaga kesehatan.

Ketua Pokja Penanganan dan Pencegahan Stunting NTT Ir. Sarah Lery Mboeik mengatakan bahwa, berdasarkan hasil monev Pokja terkait 25 indikator penyebab stunting di sejumlah Kabupaten se-Nusa Tenggara Timur pada tahun 2021, ditemukan indikator Bina Keluarga Balita atau BKB dan Konseling atau Pola Asuh anak masih kurang. Banyak balita dititipkan kepada pengasuh sementara orang tuanya merantau di dalam dan di luar negeri.


Selain itu, kondisi ekonomi dan pemahaman terkait memaksimalkan pangan lokal sebagai sumber pangan yang bergizi juga masih rendah.

Baca Juga: ASN Jadi Organisasi Kelas Dunia, Tantangan Bagi ASN yang Berada di Zona Nyaman


Pokja NTT saat ini terus bergerak melakukan intervensi ke daerah-daerah tertinggi angka stuntingnya melalui pendekatan kultur maupun pola hidup sehat, agar masyarakat NTT yang masih tergolong stunting segera keluar dari kondisi keterpurukan mereka, sehingga target peningkatan Sumber Daya Manusia berkualitas di Wilayah Nusa Tenggara Timur.

Konteks Keluarga

Halaman:

Editor: Yance Jengamal

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Kedaulatan Pangan di Tangan Petani

Jumat, 9 September 2022 | 09:42 WIB

Panggilan Menularkan Literasi

Jumat, 9 September 2022 | 09:38 WIB

Bahaya Digitalisasi Chanel TV Indonesia

Senin, 5 September 2022 | 14:41 WIB

Membangun Kembali Fondasi Sepak Bola NTT

Senin, 22 Agustus 2022 | 09:45 WIB

Tantangan Penjabat Wali Kota Kupang

Senin, 22 Agustus 2022 | 06:00 WIB

Jadi Kita (Indonesia) Belum Merdeka?

Jumat, 19 Agustus 2022 | 06:15 WIB

Pancasila Menjadi Arah Kebijakan

Selasa, 16 Agustus 2022 | 05:15 WIB

Perang Atensi Terhadap Reels

Senin, 1 Agustus 2022 | 14:29 WIB

Cegah Stunting Itu Penting

Rabu, 20 Juli 2022 | 07:40 WIB

Titipan Bekal Buat Para Pemimpin

Senin, 4 Juli 2022 | 14:13 WIB
X