Sejarah Pergantian Nama Bandara Wunopito Menjadi Bandara Petrus Gute Betekeneng, Lembata-NTT

- Sabtu, 3 September 2022 | 10:13 WIB
Penulis Thomas B Ataladjar (Dok Pribadi)
Penulis Thomas B Ataladjar (Dok Pribadi)

Oleh : Thomas B.Ataladjar *)

Bandar Udara Wunopito sekilas pintas
lapangan terbang Wunopito dibangun tahun 1977 oleh Pemda tingkat II Flores Timur, sewaktu Lembata masih bergabung dengan Kabupaten induk Flores Timur beribu kota Larantuka. Saat itu Lembata masih berstatus Pembantu Bupati Flores Timur Wilayah Lembata, dipimpin oleh Sumarmo, SH. (1975-1980).

Mulanya disebut Lapangan Terbang Perintis Wunopito-Lewoleba. Nama Wunopito berasal dari dua kata Wuno berarti bukit dan Pito artinya tujuh. Jelas bukan sembarang nama. Pasti memiliki makna filosofis yang berkaitan dengan sastra dan kearifan lokal budaya Lembata.

Tujuh bukit ini juga melambangkan tujuh kecamatan yang ada di Lembata saat itu yakni, kecamatan Buyasuri, Omesuri, Lebatukan, IIe Ape, Nubatukan, Atadei dan Nagawutung. Saat itu belum ada kecamatan Wulandoni dan Ile Ape Timur.

Baca Juga: BPN Kabupaten Lembata Berkomitmen Wujudkan Zona Integras Menuju Wilayah Bebas Korupsi

Pemberian nama Wunopito ini tidak terlepas dari peran, campur tangan serta musyawarah para tokoh masyarakat dan tokoh adat Lembata saat itu. Selain memberi nama, juga melaksanakan acara serimonial adat oleh tua-tua adat dan tokoh masyarakat sebagaimana tradisi budaya dan adat orang Lamaholot.

Sebut saja beberapa nama seperti Petrus Gute Betekeneng, B. Laba Uran, Plewang Balaor, Silvester Samon Rewot, H. Muhammad Ali Rayabelen, Rafael Raya Atawatung, Jacob Wadu, Sebastian Mita Betekeneng, dan lain-lain serta Pembantu Bupati Flores Timur Wilayah Lembata saat itu, Sumarmo SH serta jajarannya .

Tujuan utama pembuatan bandar udara adalah dalam rangka memenuhi permintaan masyarakat pengguna jasa transportasi udara di Lembata dan merupakan salah satu unsur vital dari bagian pembangunan yang dilaksanakan di daerah ini, sekaligus sebagai perangsang dan penunjang yang berperan sangat penting bagi pembangunan sektor lainnya di Lembata.

Baca Juga: Terkait Mundurnya Pelatih Kepala, Ini Penjelasan Ketua Askab PSSI Lembata

Sejak tahun 1977 sampai dengan 1990 pengelolaan lapangan terbang perintis Wunopito-Lewoleba dilaksanakan oleh Pemda tingkat II Flores Timur/ Pembantu Bupati Flores Timur Wilyah Lembata. Pada tahun 1977 untuk pertama kali pesawat terbang jenis “MAF” mendarat di lapangan terbang Wunopito-Lewoleba membawa rombongan dari Pemda TK I Provinsi NTT.

Halaman:

Editor: Polce Siga

Tags

Terkini

Fenomena Belis: Wajah Baru Kekerasan?

Jumat, 25 November 2022 | 13:25 WIB

Observatorium Nasional Timau

Rabu, 2 November 2022 | 15:00 WIB

Regsosek: Optimisme Program Perlindungan Sosial

Senin, 17 Oktober 2022 | 14:22 WIB

Literasi: Batu Sendi Kompetensi dan Prestasi

Kamis, 13 Oktober 2022 | 21:59 WIB

Pelajaran Berharga Stunting yang Dianggap Spot Wisata

Senin, 10 Oktober 2022 | 09:50 WIB

Bahasa Inggris dalam UU Sisdiknas

Sabtu, 8 Oktober 2022 | 13:26 WIB

Kedaulatan Pangan di Tangan Petani

Jumat, 9 September 2022 | 09:42 WIB

Panggilan Menularkan Literasi

Jumat, 9 September 2022 | 09:38 WIB

Bahaya Digitalisasi Chanel TV Indonesia

Senin, 5 September 2022 | 14:41 WIB

Membangun Kembali Fondasi Sepak Bola NTT

Senin, 22 Agustus 2022 | 09:45 WIB

Tantangan Penjabat Wali Kota Kupang

Senin, 22 Agustus 2022 | 06:00 WIB

Jadi Kita (Indonesia) Belum Merdeka?

Jumat, 19 Agustus 2022 | 06:15 WIB

Pancasila Menjadi Arah Kebijakan

Selasa, 16 Agustus 2022 | 05:15 WIB
X