Kedaulatan Pangan di Tangan Petani

- Jumat, 9 September 2022 | 09:42 WIB
Yucundianus Lepa
Yucundianus Lepa

DAPATKAH petani negeri ini memiliki kedaulatan pangan sebagaimana impian banyak orang? Pertanyaan seperti ini akan terus mengganggu manakala petani kita tidak memiliki otonomi atas pangan yang dihasilkan, terpuruk tingkat kesejahteraannya, tidak terlindungi, menjadi mangsa para tengkulak dan hampir pasti menjadi sumber produksi kemiskinan.

Apakah kedaulatan pangan itu? Kedaulatan pangan merupakan pemenuhan hak manusia atas pangan yang berkualitas gizi baik dan sesuai dengan budaya lokal yang ada, serta diproduksi dengan sistem pertanian yang berkelanjutan dan ramah lingkungan tanpa adanya subordinasi dari kekuatan pasar internasional.

Sebagai sebuah pokok kebijakan, titik berat Kedaulatan pangan diletakkan pada kemandirian pangan. perlindungan terhadap petani dan ekosistem lokal. Dengan titik tumpuh pada kemandirian dan perlindungan petani serta ekosistem lokal, maka kerapuhan sistem pangan kita semakin terungkap ke permukaan. Tidak bisa kita tutupi bahwa sistem pangan kita rapuh.

Pandemi bukanlah justifikasi dari berbagai kegagalan dalam tata kelola sistem pangan nasional. Sistem pangan kita terpusat di Jawa. Pulau Jawa menjadi penghasil utama padi (51,7 persen produksi nasional), jagung (54,1 persen), kedelai (62,3 persen), gula (61,2 persen), dan lainnya. Peran wilayah lain di luar Jawa tidak signifikan. Dengan sistem pangan seperti ini, maka perlindungan terhadap ekosistem lokal terabaikan. Sistem pangan bergantung pada sedikit komoditas, terutama beras.

Sentralisasi sistem pangan ini mengakibatkan rantai pasok pangan menjadi panjang. Pada sisi lain, walaupun pemerintah senantiasa mengumbar semangat untuk swasembada pangan, namun sistem pangan bertumpu pada petani gurem dan miskin, yang jumlahnya 15,80 juta rumah tangga (58,07 persen dari total rumah tangga petani).

Baca Juga: Peserta Eksibisi Mars BNN dalam Pesparani NTT 2022 Dapat Penghargaan

Sementara dalam distribusi, sistem pangan bertumpu pada mekanisme pasar serta instrumen stabilisasi terbatas dan konsentrasi distribusi di tangan segelintir pelaku. Kondisi ini berakibat kelaparan terjadi bukan karena ketidaktersediaan pangan tetapi ketiadaan akses masyarakat terhadap pangan. Mungkinkah kedaulatan pangan terwujud dengan system pangan seperti ini?

Lingkaran Setan
Selain sistem pangan yang baruk, perlindungan terhadap petani dan ekosistem lokal pun tidak serius dilakukan. Petani kita sangat bergantung pada input produksi yang meliputi benih, pupuk, obat hama/penyakit dan sebagainya. Semua kebutuhan tersebut mesti dibeli di pasar. Harganya fluktuatif. Bahkan ia mengalami kelangkaan seperti sering terjadi pada pupuk. Petani sama sekali tidak memiliki kuasa kendali atas input produksi tadi.

Di sisi lain, kebutuhan pupuk dan obat-obatan kimia per satuan luas lahan semakin meningkat sebagai dampak dari penggunaan bahan-bahan kimia dalam waktu lama. Hal ini telah menyebabkan tanah miskin unsur hara, lingkungan tercemar dan kemunculan ragam penyakit dan hama baru atau meningkatkan resistensi mereka terhadap obat-obatan. Pada sisi yang sama, mereka telah kehilangan plasma nutfah alami akibat praktik pertanian monokultur. Dengan demikian, kemampuan mereka menyediakan benih sendiri semakin berat.

Praktik pertanian semacam itu telah menghasilkan produk pertanian yang mengandung residu bahan kimia yang berbahaya. Hal ini berdampak pada menurunnya kualitas kesehatan. Dewasa ini ragam penyakit degeneratif banyak ditemukan di pedesaan. Besar kemungkinan semua ini ada kaitannya dengan tercemarnya lingkungan dan produk-produk pertanian.

Halaman:

Editor: Paulus N

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Fenomena Belis: Wajah Baru Kekerasan?

Jumat, 25 November 2022 | 13:25 WIB

Observatorium Nasional Timau

Rabu, 2 November 2022 | 15:00 WIB

Regsosek: Optimisme Program Perlindungan Sosial

Senin, 17 Oktober 2022 | 14:22 WIB

Literasi: Batu Sendi Kompetensi dan Prestasi

Kamis, 13 Oktober 2022 | 21:59 WIB

Pelajaran Berharga Stunting yang Dianggap Spot Wisata

Senin, 10 Oktober 2022 | 09:50 WIB

Bahasa Inggris dalam UU Sisdiknas

Sabtu, 8 Oktober 2022 | 13:26 WIB

Kedaulatan Pangan di Tangan Petani

Jumat, 9 September 2022 | 09:42 WIB

Panggilan Menularkan Literasi

Jumat, 9 September 2022 | 09:38 WIB

Bahaya Digitalisasi Chanel TV Indonesia

Senin, 5 September 2022 | 14:41 WIB

Membangun Kembali Fondasi Sepak Bola NTT

Senin, 22 Agustus 2022 | 09:45 WIB

Tantangan Penjabat Wali Kota Kupang

Senin, 22 Agustus 2022 | 06:00 WIB

Jadi Kita (Indonesia) Belum Merdeka?

Jumat, 19 Agustus 2022 | 06:15 WIB

Pancasila Menjadi Arah Kebijakan

Selasa, 16 Agustus 2022 | 05:15 WIB
X