Dekonstruksi Terorisme: Mengenang 21 Tahun Serangan Teroris di WTC dan Pentagon – Amerika

- Selasa, 13 September 2022 | 10:54 WIB
Pater Mans Wenge, CSsR (dok. victorynews.id)
Pater Mans Wenge, CSsR (dok. victorynews.id)

SAYANG, Pesawat kami dibajak. Kayaknya kami semua akan mati. Tetapi beberapa di antara kami sudah memutuskan untuk melakukan sesuatu sebelum kami mati. Apapun yang terjadi, saya akan selalu mencintaimu. Selamat tinggal sayang”

Kata-kata pamit ini diucapkan oleh Thomas Burnett, Jr pada istrinya lewat panggilan telepon darurat dari atas pesawat United Flight 93 yang lepas landas kira-kira satu jam sebelumnya dari Bandara Internasional Newark Liberty pada hari Selasa 11 September 2001.

UF 93 sebelumnya mengalami kendala teknis sehingga lepas landas baru bisa dibuat hampir satu jam setelah jadwal yang tertulis di boarding pass.

Tetapi keterlambatan itu justru menjadi berkat bagi para penumpang di dalam pesawat itu walaupun tidak bisa menyelamatkan mereka dari maut yang menanti.

Baca Juga: Gubernur Papua Lukas Enembe Ogah Penuhi Panggilan KPK, Ada Apa

Dari layar HP mereka yang masih boleh diaktifkan karena delay, mereka menyaksikan berita live dari New York dan Washington tentang serangan teroris lewat pesawat yang dibajak yang baru saja terjadi pagi itu.

Tiga puluh menit setetelah pesawat lepas landas, Thomas Burnett, Jr dan beberapa penumpang yang lain mulai sadar kalau pesawat mereka juga ikut dibajak. Rupanya ada beberapa teroris yang ikut boarding sebagai penumpang dari bandara Newark Liberty.

Empat puluh menit setelah lepas landas, ada pengumuman dari pengeras suara yang menginformasikan bahwa pesawat sudah diambil alih oleh teroris.

Pada saat itu, Sandy Bradshaw, salah satu pramugari, menyelinap ke dapur pesawat dan mengisi beberapa konteiner air dengan air mendidih.

Baca Juga: Pembangunan Jalan Provinsi di Ende 89 Persen, Wabup Ende Apresiasi Gubernur NTT

Todd Beamer, salah satu penumpang memberi instruksi darurat ke penumpang lain untuk segera pindah ke kabin kelas satu.

Tidak lama setelah itu, bersama dengan Thomas dan Sandy, Todd memimpin para penumpang yang lain menyerang para teroris yang sudah menguasai daerah cockpit. Mereka memakai tabung gas dan air mendidih sebagai senjata.

Halaman:

Editor: Paschal Seran

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Fenomena Belis: Wajah Baru Kekerasan?

Jumat, 25 November 2022 | 13:25 WIB

Observatorium Nasional Timau

Rabu, 2 November 2022 | 15:00 WIB

Regsosek: Optimisme Program Perlindungan Sosial

Senin, 17 Oktober 2022 | 14:22 WIB

Literasi: Batu Sendi Kompetensi dan Prestasi

Kamis, 13 Oktober 2022 | 21:59 WIB

Pelajaran Berharga Stunting yang Dianggap Spot Wisata

Senin, 10 Oktober 2022 | 09:50 WIB

Bahasa Inggris dalam UU Sisdiknas

Sabtu, 8 Oktober 2022 | 13:26 WIB

Kedaulatan Pangan di Tangan Petani

Jumat, 9 September 2022 | 09:42 WIB

Panggilan Menularkan Literasi

Jumat, 9 September 2022 | 09:38 WIB

Bahaya Digitalisasi Chanel TV Indonesia

Senin, 5 September 2022 | 14:41 WIB

Membangun Kembali Fondasi Sepak Bola NTT

Senin, 22 Agustus 2022 | 09:45 WIB

Tantangan Penjabat Wali Kota Kupang

Senin, 22 Agustus 2022 | 06:00 WIB

Jadi Kita (Indonesia) Belum Merdeka?

Jumat, 19 Agustus 2022 | 06:15 WIB

Pancasila Menjadi Arah Kebijakan

Selasa, 16 Agustus 2022 | 05:15 WIB
X