Pelajaran Berharga Stunting yang Dianggap Spot Wisata

- Senin, 10 Oktober 2022 | 09:50 WIB
Refael Molina (Dok Pribadi)
Refael Molina (Dok Pribadi)

Oleh : Refael Molina

Adalah peserta dari Kecamatan Alor Tengah Utara (ATU) – pada Lomba Pemilihan Nyong dan Nona Alor di malam Expo Alor 2022 – ketika ditanya dewan juri, penyebab utama stunting (kekerdilan), Nelson menjawab stunting adalah salah satu spot wisata di Alor.

Meski dalam lomba tersebut, jawabannya diapresiasi dan tidak dipersoalkan, lantaran memiliki kepercayaan diri dan keberanian luar biasa. Namun, video jawaban Nelson ramai-ramai dibagikan dan viral di sejumlah platform media sosial, maupun dalam pemberitaan media massa.

Banyak narasi dan pertanyaan yang kemudian muncul usai stunting dianggap sebagai spot wisata: Pertama, benarkah istilah stunting atau kekerdilan belum dikenal luas di kalangan masyarakat bawah? Namanya saja tidak dikenal, apalagi dengan pengentasannya? Ini adalah pertanyaan serius lainnya.

Baca Juga: Kondisi 5 Unit Sepeda Motor Pelaku Begal di Kalabahi, Diamankan Kodim 1622 Alor 4 tanpa Nopol

Kedua, bagaimana pemerintah daerah, khususnya dinas kesehatan, dan lainnya menyosialisasikan bahaya atau dampak buruk dari stunting kepada masyarakat? Dan, bagaimana dengan pola pengentasan dan penurunan angka stunting yang dilakukan di Kabupaten Alor? Ketiga, apakah jawaban Nelson sebagai representasi dari rendahnya tingkat literasi, khususnya membaca di Kabupaten Alor?

Bagaimanapun apa yang dialami Nelson, hemat saya, telah memberi refleksi dan introspeksi mendalam bagi kita semua. Meski tidak sedikit yang merundung (bullying) Nnyong ATU itu, tetapi banyak pula yang memberi dukungan. Saya setuju, Nelson sebagai salah satu korban dari urusan stunting yang masih berkutat di ruang-ruang mewah. Sehingga, istilah stunting tidak mendarat di kepala sebagian masyarakat atau mahasiswa dan pelajar di Kabupaten Alor, NTT.

Pelajaran Berharga

Situasi ini tak hanya mengundang tanya, gelak tawa, namun perundungan dari masyarakat luas. Namun demikian, situasi ini mesti dijadikan sebagai pelajaran berharga bagi kita semua yang masih menghormati perbedaan, dan mencintai perubahan.
Pertama, setelah situasi ini terjadi, sejatinya kampanye penurunan angka prevalensi stunting mesti digalakkan dan ditingkatkan lagi.

Baca Juga: Bupati Alor Angkat Bicara Soal Stunting Jadi Destinasi Wisata: Ada Kampung Stati di Alor!

Halaman:

Editor: Polce Siga

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Mengenal Radang Telinga Tengah Akut

Minggu, 22 Januari 2023 | 20:29 WIB

Gotong Royong Membangun Pengawasan Partisipatif

Kamis, 12 Januari 2023 | 16:21 WIB

Laut

Kamis, 12 Januari 2023 | 04:00 WIB

Angka yang Miskin Nilai

Senin, 9 Januari 2023 | 18:27 WIB

Requiem untuk Sahabat

Minggu, 8 Januari 2023 | 15:47 WIB

Internet; Ilusi Pengetahuan?

Jumat, 30 Desember 2022 | 09:27 WIB

Argentina yang Unik dan Pembelajaran untuk Kita!

Selasa, 20 Desember 2022 | 12:43 WIB

Fenomena Belis: Wajah Baru Kekerasan?

Jumat, 25 November 2022 | 13:25 WIB

Observatorium Nasional Timau

Rabu, 2 November 2022 | 15:00 WIB

Regsosek: Optimisme Program Perlindungan Sosial

Senin, 17 Oktober 2022 | 14:22 WIB

Literasi: Batu Sendi Kompetensi dan Prestasi

Kamis, 13 Oktober 2022 | 21:59 WIB

Pelajaran Berharga Stunting yang Dianggap Spot Wisata

Senin, 10 Oktober 2022 | 09:50 WIB

Bahasa Inggris dalam UU Sisdiknas

Sabtu, 8 Oktober 2022 | 13:26 WIB
X