Orangtua Jadi Penentu Kualitas Keluarga

berbagi di:
ilustrasi-siluet-keluarga

Beam Bella

*Refleksi Peringatan Harganas Lampung

 

 

Peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-XXIV sudah usai, namun pesan dari peringatan itu tidak boleh luntur dalam ingatan keluarga Indonesia. Di Harganas ada banyak kegiatan yang dilaksanakan. Mulai dari seminar pembangunan keluarga, kemah keluarga Indonesia (KKI), dan gelar dagang. Beraneka kegiatan itu bermuara pada satu tujuan, yakni membangun keluarga yang berketahanan dan berkualitas sebagai fondasi pembangunan dan kemajuan bangsa.

Pembangunan keluarga menjadi fokus perhatian karena keluarga merupakan dasar dari suatu bangsa. Bila keluarga sebagai dasar memiliki kualitas yang mumpuni, bangsa juga akan berkualitas. Begitu pula sebaliknya.

Interaksi (komunikasi) antaranggota keluarga, kerja sama, saling memahami dan mendukung, adalah sejumlah faktor penentu kualitas keluarga. Di sinilah peran orangtua sebagai fondasi penentu kualitas keluarga.

Bagi Evi Ratnawati, Direktur Bina Balita dan Anak BKKBN, peningkatan kualitas SDM sebagai upaya mewujudkan manusia seutuhnya dan masyarakat Indonesia seluruhnya mencakup pembangunan manusia yang bertekanan pada harkat, martabat, hak dan kewajiban manusia yang tercermin pada nilai-nilai yang terkandung dalam diri manusia.

Kualitas SDM yang baik, secara otomatis mengangkat harkat dan martabat bangsa. Pemerintah, demikian Ambarawati, dituntut aktif membangun kualitas manusia demi tercapainya cita-cita bangsa yaitu bangsa yang mandiri dan berdaulat dari sisi sosial budaya dan ekonomi.

Investasi pada keluarga berencana, tegas Ambarawati, mutlak dilaksanakan untuk meningkatkan kualitas SDM manusia Indonesia. Persoalan penduduk yang semakin kompleks hanya bisa dilalui dengan penciptaan kualitas keluarga yang sehat dan sejahtera melalui ibu yang sehat. Dengan begitu, akan melahirkan generasi yang berkualitas. Untuk itu, program KB menjadi hal penting dalam kehidupan dunia di masa datang.

Program Kependudukan, Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga (KKBPK) merupakan langkah awal untuk mencapai kualitas SDM. Sebab Program KKBPK membantu keluarga Indonesia fokus pada peningkatan kualitas anggotanya yang akan berdampak pada kualitas penduduk dan kemajuan bangsa.

Wujudkan Nawacita
Program KB dan pembangunan keluarga senantiasa diarahkan untuk mewujudkan Nawacita ketiga, kelima, dan kedelapan. Nawacita ketiga adalah membangun manusia Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah dan desa. Berkaitan dengan itu, salah integrasi yang dilakukan BKKBN adalah menggalakkan kampung KB.

Nawacita kelima adalah meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia. Program KKBPK berkontribusi pada pembangunan kualitas manusia Indonesia agar menjadi modal pembangunan yang berdaya saing di era bonus demografi, globalisasi, dan masyarakat ekonomi ASEAN.

Nawacita kedelapan adalah melakukan revolusi karakter bangsa. Langkah awal untuk mewujudkan revolusi karakter bangsa yakni penanaman nilai-nilai karakter bangsa yang luhur sejak dini pada anggota keluarga, terutama anak selaku penerus bangsa.

Penanaman karakter atau pendidikan karakter pada anak dilakukan oleh orangtua melalui pengasuhan yang baik. Dengan demikian, dapat dikatakan orangtualah penentu keberhasilan revolusi mental dan revolusi karakter bangsa.

Oleh karena itu, orangtua perlu diberi pemahaman bagaimana menjadi orangtua hebat yang mendidik anak-anak menjadi generasi penerus bangsa yang berkarakter dan berkualitas, dimana implementasinya dalam program KKBPK adalah pelaksanaan revolusi mental berbasis keluarga melalui penerapan delapan fungsi keluarga. Delapan fungsi keluarga itu adalah fungsi agama, sosial budaya, cinta kasih, perlindungan, reproduksi, pendidikan, ekonomi, dan fungsi pembinaan lingkungan.

Pendidikan karakter merupakan proses pembentukan karakter yang memberikan dampak positif terhadap perkembangan emosional, spiritualitas, dan kepribadian seseorang, yang lebih menekankan pentingnya aspek keluarga dalam hal pemberian nilai karakter. Bentuk nyata pembentukan karakter dimulai dengan memberikan nilai moral kepada anak.

Pendidikan karakter, kata Ambarawati, dapat diterapkan dengan pengasuhan yang baik dari orangtua dan lingkungan keluarga. Pengasuhan erat kaitannya dengan kemampuan suatu keluarga dan komunitas dalam memberikan perhatian, waktu, dan dukungan, untuk memenuhi kebutuhan dasar anak dalam masa pertumbuhan.

Masa anak-anak merupakan masa yang menentukan kepribadian dasar seseorang. Perkembangan anak juga melibatkan lebih banyak faktor, bukan hanya perkembangan fisik, melainkan juga perilaku dan proses berpikir, emosional, moral, dan sikapnya.

Mengingatkan ketahanan keluarga untuk melahirkan generasi emas dan berkarakter hanya dapat diwujudkan dengan adanya kebersamaan antaraanggota keluarga dan antarkeluarga di dalam sebuah komunitas atau masyarakat. Karena itulah, dalam Harganas tahun ini dilaksanakan kemah keluarga Indonesia (KKI) dengan pendekatan empat konsep pola budaya atau empat kegiatan pokok dalam keluarga yaitu keluarga berkumpul, keluarga berinteraksi, keluarga berdaya, serta keluarga peduli dan berbagi.

“Hal ini dapat mendorong keluarga peserta KKI bekerja sama agar lebih berdaya dalam menerapkan delapan fungsi keluarga. Mengingat peran keluarga sebagai pilar pertama dan utama dalam pembangunan dan kemajuan bangsa dalam upaya mewujudkan masyarakat Indonesia yang makmur dan sejahtera,” tegasnya.

KKI bertujuan tersosialisasinya delapan fungsi keluarga dan empat kegiatan pokok keluarga dalam membangun ketahanan keluarga. Selain itu, tersosialisasinya pembangunan karakter bagi anak.

 

Bermula dari Keluarga
Sementara menurut Gubernur Lampung Muhammad Ridho Ficardo, salah satu kegiatan pokok keluarga adalah sebagai tempat berkumpul. Seringkali rumah tidak sebagai tempat berkumpul anggota keluarga. Padahal tinggal serumah.

Kadang rumah hanya sebagai tempat beristirahat, bukan tempat berkumpul. Di KKI seperti dalam Harganas yang baru pertama dilaksanakan ini, kemah sebagai rumah, sehingga anggota keluarga bisa lebih saling mengenal. Ini sebenarnya menjadi pembelajaran bagi orangtua.

“Di kemah juga sebagai tempat beraktivitas dan saling memahami. Juga memberdayakan lingkungan keluarga,” sebutnya.
Banyak anak, kata Ridho, menjadi korban penyalahgunaan narkoba karena keluarganya tidak berketahanan. “Ada masalah-masalah dalam keluarga. Orangtua berantem, orangtua pergi, anak-anak tidak terurus, orangtua tidak memahami anak-anaknya karena ada masalah di antara orangtua sendiri. Kakak bikin aneh-aneh, adiknya ikut-ikutan aneh, terjerat dalam penyalahgunaan narkoba,” paparnya.

Pangkal masalahnya di keluarga. Keluarga yang berketahanan membuat negara kuat. Bila terjadi masalah dalam keluarga, masalah dari luar akan masuk dan merusak keluarga.

Hakikat pembangunan Indonesia, lanjut Ridho, adalah membangun manusia Indonesia seutuhnya. Titik tolak dan lingkup terkecil dalam membangun manusia seutuhnya adalah keluarga. Sebab pendidikan formal terbatas. Karena itu, keluarga harus membangun ketahanan. Kebanyakan semua tergantung dari orangtua.

“Keluarga ibarat pohon. Karena itu, pohon baik menghasilkan buah yang baik baik dan buah jatuh tidak jauh dari pohon. Akan tetapi, bila pohon berantakan, patah, maka buah jatuh bertebaran ke mana-mana,” ujarnya.
Banyak persoalan di masyarakat bermula dari keluarga. Karena itu, keluarga menjadi fokus pembinaan. Keluarga harus dinomorsatukan.

“Makanya orangtua harus mengambil sejauh mungkin kedekatan dengan anak-anak. Di KKI ini menjadi tempat bagi anggota keluarga untuk lebih mengenal dan saling memahami. Dengan begitu, anggota keluarga saling mengisi, saling melindungi, dan saling menjaga,” sebutnya.

Kemampuan menjaga keluarga akan menentukan nasib bangsa. Hakekat pembangunan bangsa adalah membangun manusia Indonesia seutuhnya, bukan membangun gedung setinggi-tingginya atau jalan sepanjang-panjangnya. Ini tergantung pada keluarga dan orangtua memegang peranan penting dalam pembangunan kualitas keluarga Indonesia.

Di Harganas Lampung, NTT hanya menyertakan satu keluarga untuk mengikuti Kemah keluarga Indonesia. Menurut Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi NTT Marianus Mau Kuru, NTT hanya mengikutsertakan satu keluarga dalam KKI. Hal itu karena NTT jauh dari provinsi yang menjadi tuan rumah Harganas.

“Kita yang jauh mengirim perwakilan satu sampai dua keluarga. Kali ini satu keluarga yang ikut. Karena itu, kita harap keluarga ini membagikan pengalaman kepada keluarga lain di NTT mengenai empat kegiatan dalam keluarga, yaitu berkumpul, berinteraksi, berdaya, serta peduli dan berbagi,” katanya.

Keluarga perwakilan NTT dalam KKI adalah keluarga Jois Sanoe bersama istri dan dua anak perempuannya. Jois mengaku bangga keluarganya terpilih mengikuti kegiatan tersebut. Sebab tidak semua keluarga mendapat kesempatan mengikuti KKI.

“Kami dari Kelurahan Nunleu, Kota Kupang. Bergabung dengan banyak keluarga lain dari seluruh Indonesia. Kami bangga bisa berada di tengah mereka dan berinteraksi serta berbagi dengan mereka,” sebutnya.

Istri Jois, Ona mengatakan, ada banyak pengalaman berharga yang diperoleh kelurganya pada kegiatan yang berlangsung 13-15 Juli itu. Keluarganya telah berbaur dengan keluarga lain. Bahkan sudah sangat akrab hingga diantar ke pasar.

“Ini hal positif, pelajaran berharga bagi kami keluarga dan keluarga lain yang ikut kegiatan ini,” ungkapnya.
Setelah mengikuti KKI, Ona mengaku siap membantu menyosialisasikan program KB. Sebab melalui program KB, jarak kelahiran dan rencana keluarga dapat dilaksanakan.