Otan nan Eksotik Menyimpan Peradaban Sejarah

berbagi di:
foto-hal-01-cover-pantai-otan

 

Pantai Otan di Pulau Semau dilihat dari salah satu sisi saat Sunset. Foto diabadikan, kemarin.

 

 

 
PADA masa lampau, Desa Otan, dikenal dengan Ota, tanpa “n”.

Menurut Kades Otan, Yosafat Lasi, nama Ota sendiri diambil dari salah satu pemburu hebat di zamannya. Pemburu itu bernama Ota, yang berasal dari Pulau Rote. Suatu ketika, ia diminta orang Helong, penduduk asli Semau, untuk memburu babi peliharaan mereka yang hilang.

Bersama anjingnya, ia berhasil menemukan dan menangkap babi itu, tepat di bawah pohon “wheko”, sebatang pohon perdu yang rindang. Di bawah pohon itu tumbuk belukar yang padat. Ota melihat seekor kepiting tengah mengeluarkan lumpur dari dalam tanah. Ia pun segera sadar bahwa ada air di dalam tanah di belukar itu. Ia lantas menggalinya dan terbentuklah genangan air yang menyerupai danau kecil itu.

Sejak saat itu, pemburu Ota meninggalkan kampung lama Lano, yang sekarang secara administrasi desa, masuk Dusun Lima Desa Otan. Meski kecil, air yang tergenang itu tidak pernah kering walau selalu ditimba oleh masyarakat setempat untuk kebutuhan sehari-hari.

Muara kolam itu, menyimpan riwayat kehidupan masyarakat Otan yang getir. Dulu, saat kelaparan mendera, masyarakat mengandalkan ubi hutan sebagai satu-satuanya bahan pangan. Ubi hutan yang dalam bahasa setempat disebut “ui” itu beracun sehingga harus direndam sebelum diolah menjadi makanan siap saji. Di kolam itulah “ui” direndam selama tujuh hari sebelum diolah untuk dimakan. Maka kolam itu dinamai Ui Simu, air ubi.

Pantai yang Eksotis

Memasuki Pantai Otan, padang stepa membentang. Tampak kawanan sapi tengah merumput. Tidak ada pohon besar yang tumbuh. Sebuah jalan setapak membelah padang rumput itu menuju ke homestay yang dibangun di pinggir pantai.

Homestay itu seluruhnya terbuat dari papan dengan jendela kaca menghadap Laut Sawu. Di sebelah homestay, terdapat lopo besar beratap alang-alang sebagai tempat nongrong. Berbagai minuman dan makanan disediakan di lopo ini, mulai dari air mineral, kopi, minuman ringan sampai minuman berakohol (bir).

Pasir putih yang membentang memanjakan mata memandang adalah salah satu daya tarik utama pantai ini.Pesona pantainya semakin menguat saat deburan ombak menjilat bibir pantai, lalu lalu mengalir kembali ke perut laut yang luas. (rafael L Pura/C-1/yan/ol)