Pacuan Kuda bukan Soal Untung-Rugi

berbagi di:
Kuda-kuda pacu dan pemiliknya antre di depan loket pendaftaran Victory Open Turnamen 2017, di Lapangan Pacuan Kuda Rihi Eti, Kelurahan Prailiu, Selasa (24/7). Di hari kedua kemarin, 153 ekor kuda yang didaftarkan ikut pacuan.

Frangky Jonannis

 

 

 

 

Lomba pacuan kuda Victory Open Tournament 2017 yang dilaksanakan Harian Umum Victory News di Lapangan Pacuan Kuda Rihi Eti, Kelurahan Prailiu, Kecamatan Kambera, Kabupaten Sumba Timur 28 Juli hingga 5 Agustus, berlangsung sukses dan mendapat apresiasi dari masyarakat pecinta kuda dan pemerintah setempat.
Pacuan kuda tak sebatas olahraga. Pacuan kuda sejatinya adalah pesta budaya orang Sumba. Pacuan kuda juga menjadi “pesta ekonomi”, tempat para pedagang kecil memperoleh keuntungan yang lebih besar dari hari-hari biasa. Pacuan kuda, juga menjadi “pesta prestise”, karena kuda adalah bagian dari kehidupan orang Sumba; harga diri orang Sumba. Itu sebabnya, pacuan kuda selalu menjadi “magnet” yang menarik perhatian masyarakat Sumba.
Fachrul Abdurrahchman, pemilik kuda asal Manubara, Kota Waingapu, mengatakan, secara keseluruhan pelaksanaan Victory Open Turnamen 2017, sudah bagus.
“Walau pun baru pertama kali tetapi penyelenggaraannya sangat meriah dan menyedot banyak peminat dan juga penonton sejak pembukaan sampai penutupan,” katanya.
Dikatakannya, Harian Umum Victory News yang bermotto Jujur dan Cerdas, diharapkan terus berperan menumbuhkan minat dan kecintaan masyarakat Sumba untuk tetap melestarikan budaya pacuan kuda serta memelihara kuda sandalwood sebagai aset yang berharga.
Dia berharap Victory Open Tournament dijadikan sebagai event tahunan sehingga mendukung Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumba Timur dalam upaya membangun sektor peternakan dan pariwisata.
Johan, warga Melolo, Kecamatan Umalulu, yang ditemui pada acara penutupan turnamen tersebut, pacuan kuda selain sebagai kegiatan olahraga, juga menjadi sarana hiburan serta ajang silaturahmi masyarakat Sumba secara keseluruhan.
“Saya kira ini patut dipertahankan sebagai event tahunan dan semakin dikembangkan. Namun masalah keamanan dan ketertiban perlu ditingkatkan lagi karena banyak pengunjung yang masih melanggar tata tertib dengan masuk ke dalam lintasan balapan yang sangat berbahaya bagi diri mereka dan orang lain,” ujarnya.

 

Paling Ramai
Mutu Radang, penjaga Lapangan Pacuan Rihi Eti mengatakan, Victory Open Tournament mrupakan pacuan kuda paling ramai sejak dirinya menjadi penjaga areal lapangan tersebut.
“Saya sudah menjaga lapangan ini sejak 2008 lalu. Turnamen yang diadakan Victory News ini merupakan pacuan kuda yang paling ramai,” katanya.
Ketua Run Komisi Victory Open Tournament 2017, Stefanus Pekuwali mengatakan, walau masih terdapat kekurangan dalam pelaksanaannya, namun masih bisa teratasi berkat kerjasama yang dibangun jajaran Victory News, panitia pelaksana, Pordasi, Polres, Kodim, Brimob, dan Satpol PP Sumba Timut, sehingga pelaksanaannya sukses.
“Kami harus akui pelaksanaan turnamen pacuan kuda kali ini paling semarak dari perlombaan sebelumnya. Karena Pemimpin Umum Victory News sudah mengatakan akan diadakan tahun depan, maka harus dilakukan perencanaan yang lebih matang lagi ,” ujarnya.

 

Dampak Ekonomi
Antusiasme warga menyaksikan pacuan kuda dalam turnamen tersebut memberikan dampak ekonomi bagi pedagang kaki lima (PKL) yang berjualan selama event tersebut berlangsung.
Sarbini, pemilik warung “Janur Kuning” yang memanfaatkan moment pacuan kuda untuk membuka kedai makan nasi soto dan sate kambing, mengatakan, keuntungannya meningkat mencapai 70 persen, dari biasanya yang hanya sekitar 20 persen.
Sebagai pedagang kecil, Sarbini mengaku bersyukur dengan adanya turnamen tersebut karena jualannya menjadi lebih laris dari hari-hari biasanya.
“Di hari-hari biasa saya hanya mendapatkan keuntungan sekitar Rp 500 ribu per hari, tapi saat pacuan kuda bisa mencapai Rp 1.500.000 per hari karena sebagian panitia dan pengunjung makan di sini,” terangnya.
Ma Dope, penjual tuak manis (nira pohon lontar) yang berjualan keliling, juga mengaku dagangannya selalu terjual setiap hari selama turnamen pacuan kuda tersebut berlangsung.
Jika pada hari biasa, ia harus berjalan keliling di kompleks perumahan dan perkantoran, tetapi saat pacuan kuda berlangsung ia hanya berkeliling di sekitar Lapangan Rihi Eti dan jualannya habis.
“Tidak terlalu capek. Lumayan, rezeki sudah diatur Tuhan. Saya tidak capek berjalan keliling untuk jualan, hanya keliling di sekitar lapangan dan jualan habis,” katanya.
Kaita Lepi, wanita paruh baya asal Desa Tanatuku, Kecamatan Nggaha Ori Angu, yang jualan kacang rebus dan kacang goreng di tribun Lapangan Rihi Eti selama turnamen berlangsung, juga mengaku mendapatkan keuntungan yang lebih dari hari-hari biasa.
“Kalau hari biasa hanya laku Rp 50 ribu hingga Rp 75 ribu, sedangkan saat pacuan kuda saya bisa laku sampai Rp 100 ribu hingga Rp 150 ribu per hari. Selain jualan saya juga nonton pacuan kuda yang merupakan budaya Sumba,” jelasnya.
Sebagai pedagang kecil, dia berharap agar event-event olahraga dan event-event lainnya yang menyedot perhatian masyarakat, lebih sering digelar agar penjual atau pedagang kecil bisa mendapat keuntungan lebih.

 

Budaya dan Prestise
Aner Teli, warga Kelurahan Wangga, Kecamatan Kambera, mengatakan,
selama ini pacuan kuda di Sumba Timur hanya digelar oleh pemerintah daerah atau parpol saat atau jelang ada hajatan politik seperti pemilu. Namun, baru kali ini pihak swasta, yakni Victory News melaksanakan kegiatan pacuan kuda.
“Saya memberikan apresiasi kepada Victory News yang mau melaksanakan kegiatan pacuan kuda untuk memberikan hiburan dan menumbuhkan minat masyarakat memelihara kuda,” katanya.
Menurutnya, pacuan kuda sudah merupakan budaya turun-temurun, yang merupakan ajang menunjukkan prestise.
Dikatakan Aner, memelihara kuda itu sudah menjadi bagian dari hidup (hobi) sebagian besar warga Sumba Timur, walaupun harus mengeluarkan biaya yang cukup besar untuk memelihara kuda. Namun karena prestasi kuda peliharaannya juga mendongkrak prestise pemiliknya sehingga pertimbangan untung rugi bukan faktor menjadi utama.
Sebab, bebernya, bila membandingkan biaya pemeliharaan dan perawatan kuda dengan hadiah yang diperoleh dalam setiap pacuan kuda, pemilik kuda yang meraih juara pun masih rugi.
“Apalagi yang tidak juara pasti lebih rugi lagi. Namun ini sudah menjadi hobi dan juga budaya, jadi bukan soal untung rugi dalam mengikuti pacuan kuda,” katanya.
Menurut Aner, yang membuat para pemilik kuda untung besar yakni jika kudanya berhasil meraih juara. Sebab, kuda-kuda yang performanya bagus di arena lomba harga jualnya melejit.
“Kuda yang juara itu mahal. Harganya antara Rp 30 juta hingga Rp 70 juta. Jadi, selain faktor budaya, mungkin inilah salah satu faktor yang memotivasi orang memelihara kuda pacu,” katanya.

 

Menunjang Pariwisata
Bupati Sumba Timur Gidion Mbilijora mengatakan, “palapang njara” (pacuan kuda, dalam bahasa Sumba), dapat menjadi salah satu sarana promosi pariwisata di daerah.
Bupati mengatakan, sektor pariwisata adalah salah satu sektor unggulan Pemkab Sumba Timur untuk memperkenalkan daerah dan meningkatkan pendapatan daerah.
“Kita semua menyadari bahwa pariwisata harus dilihat secara multidimensi yaitu bidang ekonomi, sosial budaya, dan kebersamaan. Oleh karena itu Pemkab Sumba Timur mendorong kegiatan ini sebagai bagian dari pendekatan pembangunan yang berkelanjutan,” ungkapnya.
Ia menambahkan, pelaksanaan lomba pacuan kuda merupakan tradisi dan budaya turun temurun masyarakat Sumba. Bahkan di Sumba Timur sendiri, pacuan kuda digelar tiga kali dalam setahun.
“Even ini menunjang promosi pariwisata daerah yang akan berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat dengan banyaknya pengunjung dari kecamatan-kecamatan dan dari luar daerah Sumba Timur,” ucapnya.