Pantai Otan yang Eksotis Menyimpan Peradaban Sejarah

berbagi di:
img-20200913-wa0002

Pemandangan Pantai Otan, Semau. Foto: Rafael L Pura/vn.

Di balik bentang alamnya yang gersang, Pulau Semau memiliki keindahan pantai yang mempesona. Selain pantai Liman yang menjadi salah satu desitinasi prioritas dari tujuh destinasi wisata yang dikembangkan pemerintah, juga terdapat Pantai Otan yang eksotis. Dibalik keindahan pantainya ini, menyimpan pula jejak peradaban sejarah masyarakat setempat.

Pagi terasa begitu lambat di Pelabuhan Bolok, Kupang, jumat (11/9) saat kami menunggu keberangkatan kapal feri menuju Pantai Otan, Pulau Semau, Kabupaten Kupang. Saat itu, VN memenuhi undangan pelatihan kepariwisataan berbasis masyarakat di desa Otan, yang diselenggarakan Dinas Pelatihan Sumber Daya Manusia (PD SMD). Pelatihan ini menjawabi misi pemerintah provinsi (Pemrov) NTT dalam menjadikan pariwisata sebagai prime mover. Sebanyak 30 pelaku usaha pariwisata dilibatkan dalam kegiatan ini.

Setelah menunggu Feri yang sedari tadi bersandar di pelabuhan Bolok kurang lebih satu jam, kami belayar menuju Hansisi, gerbang masuk laut Pulau Semau. Waktu tempuhnya tidak lebih dari 15 menit. Untuk menuju ke Pulau Semau, wisatawan bisa memilih dua jalur laut, bisa menggunakan jasa angkutan kapal feri atau perahu kecil.

Wisatawan disarankan menggunakan perahu kecil, selain menikmati tantangan di laut, jasa perahu kecil ini beroperasi setiap hari dibandingkan dengan kapal Feri yang jadwalnya empat kali seminggu. Jarak Hansisi Otan mencapai 12 kilo dan membutuhkan waktu tempuh satu jam jika menggunakan sepeda motor dan melewati tiga perkampungan, Uiasa- Uilelok – Uitao.

Melewati batas Hansisi, pemandangan tandus dengan pohon-pohon meranggas yang sudah ditinggalkan daunnya tumbuh berjejer di samping kiri kanan jalan. Dibawahnya dipenuhi semak-semak kering, menandakan jarang digarap tangan manusia.

Alamnya yang gersang ini, menyimpan pula jejak kehidupan masyarakat Semau didalamnya, yang sepenuhnya tidak menggantungkan hidup pada satu mata pencaharian. Masyarakat akan berkebun kala musim hujan dan kembali melaut saat musim kemarau tiba.

Panas yang menyengat, udara yang sesekali bertiup kencang, membuat kami harus berhati-hati dalam mengendarai sepeda motor. Apalagi jalan menuju ke pantau Otan, hampir seluruhnya berlubang. Setelah melewati tiga perkampungan, kami akhirnya tiba pada di Desa Otan. Masyarakat ramah menyambut kami, selalu senyum tiap kali berpapasan.

Jejak Budaya

Otan merupakan Ibu Kota Kecamatan Semau. Pulau Semau terbagi dalam dua kecamatan, Kecamatan Semau dan Semau Selatan. Di Otan, terdapat dua kolam kecil. Kehadiran dua kolam itu, menyimpan jejak peradaban masyarakat setempat.

Melewati pintu perkampungan Otan, terdapat sebuah danau kecil, tepat di depan kantor desa. Kehadiran danau itu, menguatkan narasi sejarah masyarakat setempat, juga menjadi saksi penamaan desa Otan, sekaligus awal mula wilayah (yang kini desa Otan) itu mulai dihuni. Pada masa lampau, desa Otan dikenal dengan Ota, tanpa huruf N, kemudian terjadi  pegeseran pelafalan seiring perjalanan waktu.

Menurut kepala Desa Otan, Yosafat Lasi, nama Ota sendiri diambil dari salah satu pemburuh hebat pada zamannya. Pemburuh hebat nan perkasa itu bernama Ota, yang berasal dari Pulau Rote. Suatu masa, ia diminta orang Helong, penduduk asli setempat untuk memburuh babi peliharaan mereka yang hilang.

Bersama anjingnya, Ota berhasil menemukan dan menangkap babi itu, tepat di bawah pohon “wheko”, sebatang pohon perdu yang rindang. Di bawah Wheko itu, dirimbuni semak belukar yang padat. Ota melihat seekor kepiting tengah mengeluarkan lumpur dari dalam tanah. Ia pun segera sadar bahwa ada air di dalam tanah di belukar itu. Ia lantas menggalinya dan terbentuklah genangan air yang menyerupai danau kecil itu.

Sejak saat itu, pemburu Ota meninggalkan kampung lama Lano, yang sekarang secara administrasi desa, masuk dusun lima desa Otan. Meski berukuran kecil, air yang tergenang ini, tidak pernah habis terpakai, meksi selalu dimanfaatkan masyarakat setempat.

‌Setelah menikmati danau kecil itu, kami kembali melanjutkan perjalanan melewati jalan tanah ke Pantai Otan. Kami menjumpai rumah-rumah warga Otan yang kini difungsikan sebagai home stay. Di depannya, terpampamg nama home stay seturut penamaannya.

Hadirnya home stay itu, menunjukan masyarakat Otan telah melek pariwisata dan siap menyambut kedatangan para wisatawan menikmati keindahan alamnya. Kata Yosafat Lasi, sudah sebanyak 20 rumah  warga yang kini sudah difungsikan sebagai home stay. Meksi belum ada tarif resmi, harganya diperkirakan mencapai Rp 250 per malam. Harga itu, sudah termasuk pelayanan dan makanan yang disediakan tuan rumah.

Pantai yang Eksotis

Pantai Otan
Pantai Otan

 

Memasuki pantai Otan, pemandangan Stepa terbentang luas, menyerupai lapangan bola kaki, yang ditumbuhi rumput-rumput pendek yang sudah mengering. Sebuah jalan setapak membelah padang rumput itu, menuju ke empat villa yang dibangun di pinggir pantai itu.

Vila itu, seluruhnya terbuat dari papan dengan jendela kaca menghadap lautan Sawu yang luas. Dibangun sebuah Lopo besar beratap alang-alang disebelah vila-vila itu, berbagai minuman dan makanan khas Otan disediakan.

Terdapat pula sejumlah lopo kecil yang sengaja dibangun mendekati bibir pantai dengan view yang luas ke lautan lepas, sejauh mata memandang. Lopo dan vila itu, sengaja dibangun demikian, agar para pengunjung bisa menikmati keindahan matahari sore yang menjadi keunikan utama pantai ini.

Lanskap langit sore yang pulang ke peraduannya di barat jauh, menghadirkan panorama yang luas biasa, saat sinar keemasanya memantul dipermukaan laut. Bagi pecinta Fotografi, menunggu matahari terbenam di tepian pantai akan sangat menyenangkan.

Seusai mengunjungi Pantai Otan, kami kembali ke Kupang melalui jalan setapak di stepa yang luas. Sebuah kolam berukuran memajang sekitar 60 meter dengan lebar delapan meter berada dibawah rerimbunan pohon tak jauh stepa itu. Kolam itu, menyimpan jejak peradaban masyarakat Otan.

Menurut Yosafat Lasi, kolam itu menyimpan jejak riwayat kehidupan masyarakat Otan yang getir. Bencana paceklik dan kelaparan pernah melanda masyarakat Otan di masa lampau. Pada saat-saat seperti itu, masyarakat Otan hanya mengandalkan ubi hutan untuk bertahan hidup.

Ibu Hutan, yang oleh masyarakat setempat dinamakan “Ui” itu menyimpan pula kandungan racun didalamnya. Untuk menghilangkan kandungan racun mematikan itu, masyarakat kemudian merendamnya di dalam kolam itu selama tujuh hari.

“Jadi setelah direndam, barulah diambil, diolah dan mengkonsumsinya. Kolam itu, dinamakan Ui Simu. Gabungan dua nama, air dan ubi, yang kami disebut Ui Simu,” katanya.

Kolam itu, bisa menjadi tempat istirahat sejenak bagi para wisatawan sebelum atau sesudah menikmati keindahan pantai Otan. Pantai Otan kini telah memoles diri menyambut wisatawan.  (Rafael L Pura/Yan/ol)