Pariwisata bukan Produk ‘Doa’

berbagi di:
Salah satu sudut pemandangan Nihiwatu Resort di Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur. Foto: Kementrian Pariwisata.

Salah satu sudut pemandangan Nihiwatu Resort di Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur. Foto: Kementrian Pariwisata.

 

Tourism brand mark” bukan barang hasil sulapan. Bukan pula produk doa. Tetapi ia produk kerja keras semua pihak, mulai dari pemerintah sebagai pengambil kebijakan hingga sikap, kelakuan dan cara berpikir masyarakat setempat.

 
Turis pada dasarnya adalah para penjelajah. Berjelajah yang merayakan kehidupan. Menikmati kebaruan, keunikan dan keindahan di tempat tujuan. Menikmati hal-hal asing yang tak dimiliki di daerah atau negeri asalnya. Mengecap rasa hal-hal yang unik. Ia masuk, membaur dan beradaptasi dengan lingkungan destinasi. Olehnya, sifat dasar pariwisata itu terbuka.

Destinasi pariwisata itu tempat bertemunya aneka kultur, cara berpikir, cara hidup, cara berpakaian, dan lain sebagainya dari berbagai belahan dunia. Ia menjadi tempat bersuanya para penjelajah dengan berbagai latar belakang, baik budaya, agama, ras, warna kulit, profesi dan lainnya. Tujuan mereka sama, yakni selebrasi kehidupan.

Karena turisme itu zona selebrasi kehidupan, maka kiblat pariwisata haruslah kemanusiaan. Bisa dibilang bahwa pariwisata itu adalah zona dimana manusia-manusia dari berbagai latar belakang diagungkan. Jika dipersingkat, turisme adalah industri ekonomi yang humanis. Sebab, ia adalah industri pelayanan terhadap manusia secara sungguh dengan memperhatikan kebutuhan mereka secara sungguh-sungguh pula; total and prime service.

Letak polemik “pariwisata halal” bagi Labuan Bajo yang tengah diwacanakan ada pada rasa-rasanya perlu berpedoman pada prinsip “total and prime service” itu.

Prinsip pelayanan ini adalah keharusan bagi setiap pelaku pasar industri pariwisata. Dari hotel, restoran, jasa travel, perkapalan hingga industri-industri pelayanan lainnya. Bali, Thailand, Hawai dan lainnya terkenal karena pelayanan prima.

Pelayanan secara sungguh-sungguh inilah menjadi “tourism brand mark” mereka. Jadilah daerah-daerah ini menjadi industri pariwisata terbaik dunia. Brand ini bukan barang jatuh gratis dari langit.

“Tourism brand mark” bukan barang hasil sulapan; simsalabim jadilah mereka terbaik. Bukan pula produk doa. Tetapi ia produk kerja keras semua pihak, mulai dari pemerintah sebagai pengambil kebijakan hingga sikap, kelakuan dan cara berpikir masyarakat setempat.

Maldive, Bali, Thailand dan destinasi top dunia lainnya tak memakai branding khusus, selain kerja keras semua pelaku pariwisata. Kerja keras dengan prinsip pelayanan total dan prima. Wujudnya, menerima semua tamu dengan berbagai latar belakangnya. Memenuhi semua keperluan mereka (makan, minum, tidur, dan sebagainya) sesuai kebutuhan mereka. Sebab, turisme itu perayaan kehidupan manusia. Semua bebas, tanpa diskriminasi!