Klub Buku Petra Ruteng Gagas Flores Writers Festival: Ludung Wa Mai Tanan

- Sabtu, 11 September 2021 | 13:31 WIB
13
13

Beverly Rambu

 

Flores Writers Festival: Ludung Wa Mai Tanan baru saja selesai digelar pada 1-4 September 2021. Festival ini diprakarsai Klub Buku Petra Ruteng dan didukung Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo, Flores dan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Badan Pelestarian Nilai Budaya Provinsi Bali.


Manager Program Flores Writers Festival Maria Pankratia mengatakan kegiatan ini mengambil tema sesuai dengan salah satu go’et atau pepatah orang Manggarai, Rangkang Wa Mai Tanan, Ludung Wa Mai Pu’un.


"Ibarat sebuah pohon, untuk dapat hidup kita harus terus bertunas dan berakar dari dalam tanah dan tumbuh di atas tanah. Pepatah ini menggambarkan pentingnya hidup selaras dan serasi dengan alam. Melalui aktivitas-aktivitas kesusastraan dan literasi, kesenian, serta kebudayaan, Flores Writers Festival diharapkan mampu menjadi ruang untuk berdialog, berbagi, dan berefleksi demi meningkatkan kecintaan serta kreativitas dalam kerja-kerja pemajuan literasi budaya, terutama membaca, menulis, berdiskusi, menerbitkan karya-karya, dan penciptaan kesenian," ungkapnya dalam rilis yang diterima VN online, Rabu (8/9).


Flores Writers Festival menghadirkan para penulis, pembaca, dan seniman, baik dari Nusa Tenggara Timur, maupun dari luar NTT. Festival diisi dengan berbagai program menarik.


Sebelum kegiatan berlangsung, panitia mengadakan sayembara bagi para pembaca NTT untuk mengumpulkan resensi dari buku penulis NTT yang bertemakan ekologi. Lima penulis yang ulasannya terpilih, datang untuk mengikuti seluruh gelaran Flores Writers Festival di Kota Ruteng secara luring. Lima penulis itu, Adrianus Prima Putra (Labuan Bajo), Ifana Tungga (Kupang), Dunstan Maunu Obe (Kupang), Saverinus Suhardin (Kupang), dan Dominiko Ariyanto Djaga (Maumere).


Maria mengatakan dua orang seniman, Dendi Madya (seniman teater) dan Eka Wahyuni (seniman tari) melaksanakan residensi di Desa Barang, Kecamatan Cibal dan Desa Todo, Kecamatan Satarmese Utara, Kabupaten Manggarai selama dua minggu. Tujuannya, untuk membaca kembali momen perpindahan sarung pada tubuh penggunanya. Secara bentuk, sarung didesain untuk menutup bagian tertentu dari tubuh dan membiarkan bagian lain terbuka. Artinya, mengenakan sarung menempatkan diri pada situasi ambang. Dalam khazanah tradisi, tari dan teater adalah bidang seni yang sering memanfaatkan sarung, baik sebagai kostum, properti, simbol, identitas, atau bahkan menjadi pertunjukkan itu sendiri.


Flores Writers Festival dibuka dengan seminar bertajuk “Rangkang Wa Mai Tanan, Ludung Wa Mai Pu’un: Mari Bertunas dan Berakar dari Dalam Tanah” pada 1 September 2021 di Aula Lantai V. Unika St. Paulus Ruteng. Pembicara seminar; Dr. Inosensius Sutam (akademisi dan peneliti), Shana Fatina (Direktur Utama BPOLBF), Valentino Luis (Kurator FWF), Herybertus G.L. Nabit (Bupati Manggarai) dimoderatori Erlyn Lasar (Penulis Undangan dan pengajar di STFK Ledalero, Maumere). Perbincangan di dalam seminar yang berlangsung lintas-sektor itu mengangkat persoalan-persoalan yang selama ini dihadapi dalam upaya mengaktivasi kembali seni dan budaya di Kabupaten Manggarai.


-

Pada 1-4 September 2021, berlangsung enam bincang tematik dengan judul “Cerita-Cerita tentang Tanah, Dahulu dan Sekarang” dengan pembicara Silvester Petara Hurit, A.N Wibisana, Yovie Jehabut, dan moderator Yuliana Jetia Moon; “Tanah, Kenangan akan Kenangan” dengan pembicara Mario F. Lawi, Erlyn Lasar, Armin Bell, dan moderator Marianus Nuwa; “Dari Karya ke Ekosistem” dengan pembicara Aan Mansyur, Marcelus Ungkang, dan moderator Maria Pankratia, “Rumah dan Trauma” dengan pembicara Cyntha Hariadi, Marianus Nuwa, dan moderator Afryanto Keyn; “Perempuan Merekam Cerita Perempuan Pesisir” dengan pembicara Rahmadiyah Tria Gayathri, Aura Asmaradana, Kartika Solapung, dan moderator Lolik Apung; “Karya Proses Kreatif, dan Komunitas” dengan pembicara Dr. Mohammad Amin, Aden Firman, Asgar, AN Wibisana, Aan Mansyur, dan moderator Retha Janu.


Di sela bincang tematik, tanggal 3 September 2021, kedua seniman residensi sempat menggelar showcase di Rumah Baca Aksara Ruteng. Kedua seniman berkolaborasi dengan seniman asal Ruteng. Dendi Madya, Rini Temala, Vian Budiarto, Elgi Ramut menampilkan pertunjukan bertajuk “Revolusi di Todo, sedangkan Eka Wahyuni, Valeria Rahmat, dan Yudi Pous menampilkan pertunjukan bertajuk “Flobamor”.

Halaman:

Editor: Beverly Rambu

Terkini

Ditje Bire Resmi jadi Kepsek SMAN 1 Sabu Tengah

Rabu, 5 Januari 2022 | 14:04 WIB

AHY: Kader Demokrat NTT Hindari Perpecahan Internal

Jumat, 15 Oktober 2021 | 18:57 WIB

1.020 Pelajar SMK Stela Maris Ikut Vaksinasi

Selasa, 14 September 2021 | 15:53 WIB
X