Bengkel Penerjemahan Cerita Dwibahasa di Ruteng Hasilkan 3 Karya

- Rabu, 20 Oktober 2021 | 22:57 WIB
IMG_0256
IMG_0256

Beverly Rambu

Kantor Bahasa NTT dan Klub Buku Petra menyelenggarakan Bengkel Penerjemahan Berbagai Cerita dan Karya dalam Dwibahasa (Bahasa Indonesia dan Daerah) di Ruteng, Kabupaten Manggarai pada 1-4 Oktober 2021.

Koordinator Klub Buku Petra kepada VN, Rabu (20/10) mengapresiasi kegiatan dari Kantor Bahasa NTT.

Ia menilai kegiatan ini positif untuk memberikan kesempatan bagi anak-anak muda NTT menimba ilmu sekaligus melahirkan karya yang ditulis dalam dua bahasa.

Kegiatan yang diselenggarakan di Perpustakaan Klub Buku Petra ini dibuka oleh Syaiful Bahri Lubis selaku Kepala Kantor Bahasa NTT.

Menurutnya, selama empat hari berproses, ada 13 peserta yang berpartisipasi dan dibekali materi oleh empat narasumber.

Di hari pertama, setelah membuka kegiatan, Syaiful Lubis membawakan materi tentang Penulisan Berbagai Bahan Bacaan untuk Siswa Kelas Awal Sebagai Salah Satu Giat Literasi dan Marcelus Ungkang, Dosen Bahasa dan Sastra Indonesia di Unika Santu Paulus Ruteng, yang juga merupakan salah satu Redaktur Bacapetra.co membawakan materi tentang Kiat-Kiat Menulis Berbagai Bahan Bacaan.

Di hari kedua, Syaiful Lubis kembali dengan materi berbeda tentang Aspek Penting dalam Penulisan Bahan Bacaan/Cerita Rakyat dalam Dwibahasa. Lalu ada Romo Inosensius Sutam, seorang Dosen dan Wakil Rektor III di Unika Santu Paulus Ruteng, yang juga dikenal sebagai Budayawan Manggarai membawakan materi tentang Nilai-Nilai Luhur Orang Manggarai yang Ditonjolkan untuk Bahan Bacaan Anak dan Orang Tua.

-


Hari ketiga diisi Armin Bell, Ketua Yayasan Klub Buku Petra Ruteng dan Pimpinan Redaksi Bacapetra.co membawakan materi tentang Menulis Bahan Bacaan/Cerita Rakyat dilanjutkan dengan diskusi bersama para peserta terkait kepenulisan dan teknik penyuntingan.

"Dengan bekal materi yang telah diberikan, diharapkan para peserta mendapatkan pengetahuan dan wawasan baru serta terus aktif menulis cerita rakyat dalam bahasa Indonesia maupun bahasa daerah," ujarnya.

Peserta juga dihimbau untuk berperan aktif mengumpulkan cerita rakyat dari para tokoh adat maupun orang tua, untuk kemudian dituliskan kembali dan dipublikasikan.

Ia menambahkan ada tiga cerita rakyat berbahasa Indonesia dan Manggarai dari tiga kelompok peserta yang dihasilkan dalam kegiatan tersebut.

Karya-karya tersebut rencananya akan diterbitkan dalam bentuk buku cerita rakyat oleh Kantor Bahasa Provinsi NTT.

Sementara Kepala Kantor Bahasa NTT Syaiful Lubis mengatakan tujuan kegiatan untuk memberi alternatif bacaan dalam bahasa daerah bagi anak-anak di kelas awal agar tidak hanya membaca cerita dan karta dalam bahasa Indonesia.

-


Ia mengatakan dalam diskusi bersama Inovasi, ditemukan dalam riset di 7 kecamatan di Nagekeo, 64 persen anak pada usia sekolah awal mengalami hambatan belajar ketika diberikan bacaan dalam bahasa Indoenesia. Bisa saja ini juga terjadi di kabupaten lain sehingga Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa merasa perlu untuk memperbanyak bacaan dalam berbagai bahasa daerah salah satunya dalam berbagai bahasa daerah yang ada di NTT.

Ia menambahkan ke depan, pihaknya akan menambah hari dan frekuensi pelatihan agar bisa lebih banyak karya yang dihasilkan. (bev/ol)

Editor: Beverly Rambu

Terkini

Candi Borobudur Diinisiasi Jadi Wisata Akhir Pekan

Minggu, 31 Juli 2022 | 18:45 WIB
X