Timor Art Grafiti Prakarsai 17 Lukisan dari Pewarna Alami Kain Tenun NTT

- Minggu, 24 Oktober 2021 | 14:06 WIB
IMG-20211024-WA0003
IMG-20211024-WA0003

Putra Bali Mula

Timor Art Graffit (TAG) memprakarsai karya lukis mempergunakan pewarna alami yang sering digunakan dalam pewarnaan tenun ikat. Ada 17 karya lukis menggunakan pewarna alami yang dibuat para pelukis.

Color of Timor dipilih menjadi filosofi besar mewakili visi TAG dalam memberi tempat istimewa bagi pewarna alami kain tenun dalam bentuk seni rupa.

Lukisan-lukisan ini dipampang sementara di bekas Bengkel Virgo Bagus di Sabtu siang (23/10). Bangunannya sudah rusak dan tak terurus, ada atap dan loteng yang jebol di banyak titik, pagarnya berkarat tanpa terkecuali, temboknya yang masih kokoh berdiri dengan cat yang sebagian kecil luntur. Bangunan itu berada di bilangan Oesapa Barat, Kota Kupang, yang sekalipun berada di pinggir jalan tapi sering tak disadari keberadaannya.

Saat itu tim TAG sedang mengambil video dokumentasi atas 17 lukisan yang dibuat 17 seniman termasuk oleh Yozhy Leopold Hoely dari TAG. Memang ada 3 seniman TAG yang turut menampilkan karya lukis mereka. Ia ada saat itu juga sebagai koordinator dalam pameran ini.

Keseimbangan, nama lukisan milik Yozhy dan adalah satu dari empat lukisan yang menyambut sebelum menuju lorong penuh belasan lukisan lainnya. Filosofi Yin dan Yang ia pilih perihal meleburkan dua musim di Pulau Timor ke dalam satu lingkaran sempurna. Diferensiasi warna antara kemarau yang membara dan penghujan yang gelap. Ada juga jingga dari indentitas khas tenun ikat Biboki di sana.

Ia menyebut tim TAG telah melakukan riset dan eksperimen panjang beberapa minggu terakhir untuk dapat membuat cat lukisan dari berbagai tumbuhan pewarna alami yang biasa digunakan pada tenun ikat.

Beberapa desa di Biboki Selatan dan Biboki Utara Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) menjadi daerah referensi untuk misi itu. Berbagai bagian tumbuhan digunakan mulai dari kulit pohon, batang, akar dan daun hingga arang. Riset sudah dimulai sejak 1 Oktober lalu. Mereka sekaligus membuat film dokumenter juga soal pewarna alami tenun ini.

Karena bahannya baru maka sebelum proses melukis para seniman diberikan workshop terkait teknik pencampuran berbagai bahan sampai mempertimbangkan kemungkinan oksidasi saat lukisan jadi.

"Agar pewarna alami ini dapat menjadi cat untuk melukis. Ada dari lem fox, tepung maizena, tawas, batu kapur dan lain-lain agar lukisan nanti awet, tidak busuk," jelasnya.

Setiap karya ini, kata dia, kurang lebih pengerjaannya diselesaikan para seniman kurang dari seminggu. Tantangan penggunaan pewarnaan alami ini menjadi pengalaman perdana mereka.

Wandri Dami yang adalah Ketua Panitia Color of Timor dengan luwes memperkenalkan 17 lukisan itu. Ia menerangkan soal bahan dan penggunaan warna alami pada lukisan-lukisan itu, juga siapa pelukisnya. Ada pelukis yang berusia 12 tahun, lainnya dari berbagai latar belakang profesi, salah satunya seorang kepala sekolah.

Nuansa tiap lukisan kental akan budaya, kritik ke pemerintah atas berbagai hal, peliknya hidup penenun hingga refleksi nestapa dan luka atas hidup maupun yang terjadi dengan adat istiadat dan alam Pulau Timor. Sepanjang lorong berdebu itu berisi ragam pesan yang sukar diacuhkan.

Lalu dalam sebuah ruangan di ujung lorong itu terdapat dua kanvas dan belasan toples berisi pewarna alami yang mereka buat dari wortel, mahoni, kunyit, ketapang, secang, mengkudu, tarum dan berbagai bahan lainnya. 13 tumbuhan ini menjadi materi dasar pewarnaan alami. Eksperimen perdana itu dilakukan bersama dua seniman asal Jogjakarta. Setiap pot dari anakan pohon tumbuhan itu terpatri di samping tiap-tiap lukisan, simbol kehidupan sesungguhnya dari warna-warni yang dioles di atas kanvas.

Dengan lapang hati ia saat itu mengakui TAG sudah terlalu sering mengadopsi budaya luar negeri dalam berkarya, kurang mengangkat item otentik dari budaya lokal. Pewarna alami khas NTT misalnya, menurut dia, adalah bukti jelas dari intelektualitas nenek moyang NTT yang mampu direduksi ke seni lukis yang unik.

"Ternyata bisa tetapi tidak secerah akrilik. Itu memang jadi kekhasan pewarna alami. Bukan hasilnya tapi proses dan cerita besar di balik itu," ungkapnya.

Teknis pelukisan dalam berkarya sepenuhnya menjadi hak seniman setelah cat dari pewarna alami ini dikenalkan kepada para seniman dalam workshop. Pelukis bisa menggunakan kuas, botol spray, bahkan sendok makan.

Ia juga menyebut pencampuran warna alami memang berbeda jauh dengan cat modern yang sering mereka gunakan. Takaran dan bahan pewarna alami membutuhkan perbandingan yang tepat agar cat yang dihasilkan tidak encer, tidak terlalu kental, sehingga berakibat hilang ketajaman warna atau tidak lekat seutuhnya di kanvas.

Riset di TTU oleh TAG telah diabadikan ke dalam film dokumenter soal proses dari berbagai tumbuhan itu menjadi pewarna, kesulitan ekonomi para penenun termasuk dilema untuk membudidayakan tumbuhan pewarna alami ini yang kalah dari urusan memenuhi kebutuhan pangan.

Tarum juga sulit ditemukan karena biasanya tumbuhan ini hidup semasa musim penghujan sedangkan masyarakat lebih banyak memanfaatkan waktu untuk bercocok tanaman yang bisa dimakan. Belum ada budidaya yang konsisten terhadap tarum karena tuntutan bertahan hidup perlu dipenuhi.

-


 

Alternatifnya penenun mengambil tarum saat musim hujan dan direndam dengan benang. Benang yang telah biru indigo nantinya akan digunakan untuk tenunan saat musim kemarau.

Reboisasi, sebut dia, menjadi sorotan utama film dokumenter itu. Film ini diharapkan menyadarkan masyarakat termasuk warga NTT sendiri bahwa perwana asli tenun kian tergerus penggunaannya dibanding larisnya pewarna kain yang diproduksi pabrik.

"Karena orang-orang tidak melihat warna tenun itu dari warna asli atau tidak tetapi yang penting bagaimana mereka bisa gunakan tenun itu, mereka suka saja, yang penting murah, kita semua lupa soal yang orisinil seperti apa," tukasnya.

Di lain sisi keadaan dan ketidaktahuan konsumen membuat penenun juga akhirnya meninggalkan penggunaan pewarna alami dalam pembuatan tenun asli. Sementara tenun dengan pewarna alami lebih diminati oleh warga negara asing saat berwisata ke NTT.

"Tapi kita justru anggap kita sudah ikut mempertahankan tradisi dengan membeli tenun tapi yang aslinya seperti apa kita sendiri tidak cari," kata dia.

Kegiatan mereka kali itu bekerjasama dengan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI lewat Program Fasilitasi Bidang Kebudayaan (FBK) tahun 2021. Film ini akan juga ditayangkan di channel YouTube milik TAG

Pameran akan berlangsung selama 27- 31 Oktober bersamaan juga dengan artist talk atau bincang dengan para seniman. Rencananya, seluruh kegiatan akan berlangsung secara online pada tanggal tersebut. (bev/ol)

Editor: Beverly Rambu

Terkini

Ditje Bire Resmi jadi Kepsek SMAN 1 Sabu Tengah

Rabu, 5 Januari 2022 | 14:04 WIB

AHY: Kader Demokrat NTT Hindari Perpecahan Internal

Jumat, 15 Oktober 2021 | 18:57 WIB

1.020 Pelajar SMK Stela Maris Ikut Vaksinasi

Selasa, 14 September 2021 | 15:53 WIB
X