Melukis Hujan dan Kemarau Dengan Sendok dan Pewarna Kain Tenun NTT

- Minggu, 24 Oktober 2021 | 14:11 WIB
IMG-20211024-WA0005
IMG-20211024-WA0005

Putra Bali Mula

Tidak terbiasa menggunakan kuas lukis, jemari Yozhy juga tidak akrab menggores kanvas dengan benda itu, tidak leluasa ia menggerakkan gagang kuas. Ia memilih menggunakan sendok makan.

Seorang Yozhy Leopold Hoely sudah memikirkan apa yang ingin ia lukis, sesuatu yang akurat dan sederhana. Kemudian pemikiran itu ia wujudkan. Ia menampilkan lukisan bernama Keseimbangan.

Yozhy ditemui di bekas Bengkel Virgo Bagus di Sabtu siang (23/10) kala tim TAG sedang mengambil video atas 17 lukisan yang dibuat 17 seniman termasuk olehnya. 17 lukisan ini dibuat dengan pewarna alami untuk kain tenun. Ia mengungkapkan saat itu kebiasaannya setiap akan melukis.

"Tidak terbiasa pakai kuas," kata dia.

Ia membuat lukisan itu menggunakan sendok dan botol spray. Sebuah lingkaran sempurna yang dibagi dalam dua warna, hitam kehijauan dan merah jingga. Konsepnya memang Yin dan Yang. Ia menyebut diferensiasi dalam satu lingkaran itu menampakkan setiap musim di Pulau Timor. Ada langit yang gelap kala hujan di atas flora yang menghijau. Sementara pada musim berikut kekeringan melanda, tanah dan debu-debu memerah, hawa panas hingga ke dalam retakan tanah dan sawah. Seluruh warna tidak begitu rapat memenuhi lingkaran itu bila diteliti lebih dekat. Ia menciptakannya dengan sendok makan.

"Satu tahun yang kita miliki di Pulau Timor ada dua musim ini," tukasnya.

Yozhy sendiri sejak duduk di bangku SMP telah tertarik dengan mural. Ia sudah membuat berbagi graffiti di sudut-sudut bangunan usang di Kota Kupang sejak itu. Tentu dengan sembunyi-sembunyi ia melepas imajinasinya ke permukaan vertikal karena masyarakat masih tidak familiar dengan seni mural.

Latar belakangnya dengan gaya graffiti yang sering menggenggam botol pilox membuatnya tak terbiasa menggunakan kuas lukis. Namun ia juga menyukai melukis.

Saat ini ia adalah salah satu seniman yang tergabung dalam Timor Art Graffiti (TAG). Ia menjadi 1 dari 3 seniman TAG yang turut menampilkan karya lukis mereka. Ia ada saat itu juga sebagai koordinator dalam pameran ini.

Lukisannya berada di tembok ruang paling depan dari bangunan yang sudah tak terurus itu. Dengan senang hati ia menceritakan asal muasal idenya saat membuat lukisan itu di rumahnya.

Sejauh ini ia telah membuat tiga karya untuk pameran yang diselenggarakan TAG. Dua karya telah diciptakan saat pameran perdana sebelumnya yaitu yang menggunakan tripleks dan koran sebagai medianya. Satu karyanya lagi yang saat itu ia persembahkan untuk pameran ini.

Selain menggunakan sendok makan dia juga menggunakan pewarna alami ini dengan botol spray. Ia menyebut ada berbagai bahan yang bisa digunakan para pelukis seperti warna dari mengkudu, kunyit, wortel dan warna hitam dari arang, juga tarum yang bisa menjadi hijau tosca.

"Keseimbangan di Pulau Timor, ada yang mewakili hujan dan gersangnya saat kemarau," tegasnya.

Kegiatan ini bekerjasama dengan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI lewat Program Fasilitasi Bidang Kebudayaan (FBK) tahun 2021. Terdapat film dokumenter yang dibuat juga dan akan ditayangkan di channel YouTube milik TAG.

Sementara pameran akan berlangsung selama 27 hingga 31 Oktober bersamaan juga dengan artist talk atau bincang dengan para seniman. Dalam rencana sementara seluruh kegiatan ini akan berlangsung secara online pada tanggal tersebut.

Ia bercerita mengenai cat lukis dari pewarna tenun ini dibuat melalui riset dan eksperimen yang mereka lakukan beberapa kali.

Beberapa desa di Biboki Selatan dan Biboki Utara Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) menjadi daerah referensi untuk membuat pewarna alami itu. Berbagai bagian tumbuhan digunakan mulai dari kulit pohon, batang, akar dan daun hingga arang. Riset sudah dimulai sejak 1 Oktober lalu. Mereka sekaligus membuat film dokumenter juga soal pewarna alami tenun ini.

Karena bahannya baru maka sebelum proses melukis para seniman diberikan workshop terkait teknik pencampuran berbagai bahan.

"Agar pewarna alami ini dapat menjadi cat untuk melukis. Ada dari lem fox, tepung maizena, tawas, batu kapur dan lain-lain agar lukisan nanti awet, tidak busuk," jelasnya.

Setiap karya ini kurang lebih pengerjaannya diselesaikan para seniman kurang dari seminggu. Tantangan penggunaan pewarnaan alami ini menjadi pengalaman perdana mereka. (bev/ol)

Editor: Beverly Rambu

Terkini

Ditje Bire Resmi jadi Kepsek SMAN 1 Sabu Tengah

Rabu, 5 Januari 2022 | 14:04 WIB

AHY: Kader Demokrat NTT Hindari Perpecahan Internal

Jumat, 15 Oktober 2021 | 18:57 WIB

1.020 Pelajar SMK Stela Maris Ikut Vaksinasi

Selasa, 14 September 2021 | 15:53 WIB
X