60 Anak Putus Sekolah di Sikka Ikut Pendidikan Kecakapan Wirausaha

- Jumat, 12 November 2021 | 17:13 WIB
Sejumlah peserta PKW yang sedang prakyek menenun di Jata Kapa Maumere, Jumat (12/11) siang. Foto: Yunus/VN
Sejumlah peserta PKW yang sedang prakyek menenun di Jata Kapa Maumere, Jumat (12/11) siang. Foto: Yunus/VN

Yunus Atabara

Sebanyak 60 orang anak perempuan usia 15-25 tahun yang putus sekolah di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur mengikuti Pendidikan Kecakapan Wirausaha (PKW) selama 1 bulan bertempat di Aula Jata Kapa Maumere.

Kepala Seksi Pembinaan dan Pengembangan Industri, Dinas Perdagangan, Koperasi dan UMKM Kabupaten Sikka, Aurelius Elenprino kepada VN, Jumat (12/11) mengatakan program Pendidikan Kecakapan Wirausaha, dari Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, Dekranasda Provinsi dan Kabupaten Sikka.

"Program ini dari Kementrian Pendidikan bekerja sama dengan Dekranasda Provinsi NTT, dan Kabupaten Sikka dalam rangka menciptakan wirausaha profesional 1.000 tekun tenun tahun 2021," kata Aurelius.

Menurut Elenprino, tujuan PKW adalah mendorong lahirnya para wirausahawan profesional di Sikka. Karena itu, pemerintah bekerja sama dengan lembaga - lembaga profesional dalam membantu para peserta didik untuk memaksimalkan kompetensi tenun ikat yang dimiliki.

Selama PKW peserta mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan fasilitas dan kurikulum pembelajaran tentang proses tenun ikat, sebagai modal utama dalam menyukseskan 1000 tekun tenun Dekranasda NTT.

“Kita berharap akan lahir wirausaha yang prifesional dalam merintis usaha tenun ikat yang lebih berkualitas dan kompetitif di pasaran tenun ikat asal Kabupaten Sikka," ujarnya.

Selama satu bukan PKW, peserta akan mendapatkan teori 40 persen dan praktek 60 persen dalam setiap tahapan tenun ikat, yang akan disampaikan oleh tutor handal yang berkompeten mulai dari proses awal sampai finis sampai cara memasarkan.

"Untuk pemasaran kita menggunakan aplikasi wonderin.id yang disampaikan oleh Martin Wodon yang memiliki pengalaman 20 tahun di Jerman. UMKM adalah ibu Roswita dari Sanggar Watubo yang sukses di bidang tenun ikat," kata Eleprino

Selain itu pemateri dari lembaga keuangan ahalah pejabat dari Bank BRI Maumere terkait syarat dan ketentuan untuk bisa mengakes dana melalui dana KUR dan penyelenggara adalah Lembaga Industri Dunia Kerja di Centra Jata Kapa Maumere.

-


Tahapan yang dilakukan dalam praktik yakni desain motif, proses pewarnaan benang yang diajarkan yakni 120 cara mewarnai benang dengan menggunakan bahan kimia dan pewarna alam dari bahan daun, kulit dan akar kayu.

"Setelah selesai dari sini, semua peserta akan diberikan modal berupa perlengkapan tenun ikat, benang dan pewarna untuk merintis usaha mereka dan didampingi selama 4 bulan," kata Eleprino.

Salah seorang peserta PKW, Maria Feliksiana Dua Loar (23) warga Desa Manubura berterimakasih kepada perintah yang sudah selenggarakan PKW dan sudah bersedia membantu dan mendampingi peserta.

Menurut Maria, selama ini dirinya sudah bisa tenun. Namun, belum bisa melakukan teknik ikat dan celup karena pekerjaan itu membutuhkan kecakapan khusus.

"Kami senang sekali, selama ini saya hanya bisa tenun tapi tidak tahu celup dan ikat. Selama ini kami hanya bisa jual di pasar karena kesulitan pemasarannya," kata Maria.(bev/ol)

Editor: Beverly Rambu

Terkini

Ditje Bire Resmi jadi Kepsek SMAN 1 Sabu Tengah

Rabu, 5 Januari 2022 | 14:04 WIB

AHY: Kader Demokrat NTT Hindari Perpecahan Internal

Jumat, 15 Oktober 2021 | 18:57 WIB

1.020 Pelajar SMK Stela Maris Ikut Vaksinasi

Selasa, 14 September 2021 | 15:53 WIB
X