'Etu', Warisan Budaya Nagekeo Yang Tak Lekang Oleh Zaman, Penentu Hasil Panen

- Selasa, 21 Juni 2022 | 05:00 WIB
Dua petarung saat bertanding dalam Etu atau tinju adat yang digelar di Kampung Adat Boawae, Kecamatan Boawae, Kabupaten Nagekeo, NTT.  (victorynews.id/Bernard Sapu)
Dua petarung saat bertanding dalam Etu atau tinju adat yang digelar di Kampung Adat Boawae, Kecamatan Boawae, Kabupaten Nagekeo, NTT. (victorynews.id/Bernard Sapu)

Baca Juga: 70 Pasangan di Kupang Rayakan HUT Perkawinan Bersama, Difasilitasi Paroki St Yosep Naikoten

Marselinus menjelaskan, sehari sebelum Etu digelar, seluruh masyarakat yang berada di wilayah Boawae telah memadati kampung adat Boawae.

Malam sebelum digelar Etu, diadakan pertunjukan seni musik dan tari yang dalam bahasa Boawae menyebutnya Kobe Dero.

Etu, lanjut Marselinus menjadi tontonan yang menarik karena setiap wilayah, baik perwakilan dari Nagekeo maupun Ngada sama-sama mengirimkan wakil terbaiknya untuk beradu cepat tangkas dalam duel antar lelaki itu.

Baca Juga: KPK Diminta Lakukan Bimtek bagi Kades di NTT Untuk Kelola Dana Desa Dengan Baik

"Sejatinya Etu mengekspresikan kegembiraan, kebahagiaan, sukacita, semangat dan kesaktriaan dari para Hoga Nage (Pria Tangguh dari Boawae)," imbuhnya.

Motif tinju tradisional atau tinju adat (Etu) kata dia, adalah murni bagian dari adat sebagai sarana untuk merayakan kehidupan, dan sebagai alat untuk mempersatukan masyarakat.

"Jadi Etu ini sebuah olahraga warisan budaya yang tak pernah lekang dimakan zaman," tandasnya.

Marselinus mengatakan, secara teknis Etu tidak memiliki aturan pasti mengenai jumlah ronde, pertandingan dapat dihentikan jika salah satunya berdarah.

Baca Juga: Anggota DPR RI Julie Sutrisno Laiskodat Buka Bimtek Sosialisasi Tanaman Pangan di Manggarai Timur

Halaman:

Editor: Paschal Seran

Tags

Artikel Terkait

Terkini

BPKP NTT Siap Kawal PT Flobamor Dalam Pengelolaan TNK

Kamis, 15 September 2022 | 17:40 WIB

HEBOH! Bule Ikut Panjat Pinang di Pantai Kuta Bali

Sabtu, 20 Agustus 2022 | 13:52 WIB
X