Pasokan BBM di NTT Kian Parah

berbagi di:
foto-hal-01-yeremias_ontong_3ab

Yeremias Ontong
Kadis Ketahanan Pangan dan Perikanan Mabar

 

 

 

Gerasimos Satria

 
PASOKAN kuota bahan bakar minyak (BBM) ke sejumlah kabupaten di Provinsi NTT, sudah semakin parah dan mengkhawatirkan. Di Manggarai Barat (Mabar), Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), Kabupaten Rote Ndao, dan Kabupaten TTS, dan TTU mengalami hal yang sama.

Di Mabar misalnya, ratusan nelayan di Kecamatan Komodo dan Kecamatan Boleng sudah tidak melaut dalam berapa minggu terakhir. Penyebab utama adalah karena nelayan kesulitan dan ketiadaan mendapatkan pasokan BBM.

Nelayan asal Desa Batu Tiga kecamatan Boleng, Ahmad Zainal kepada media ini, Kamis (10/9) menuturkan sejak di tutupnya SPDN di TPI Kampung Ujung nelayan tidak lagi melaut. Padahal bulan September hingga Oktober merupakan bulan yang tepat untuk menangkap ikan atau melaut. Sejak awal September 2020, nelayan sangat kesulitan memdapatkan BBM di SPBU.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Manggarai Barat, Yeremias Ontong saat dikonfirmasi VN, membenarkan bahwa ratusan nelayan di daerah pariwisata super premium itu, hampir lima bulan sudah sulit untuk melaut karena ketiadaan BBM. Saat ini nelayan yang melaut membuang biaya yang cukup besar untuk membeli BBM solar enceran.
Dia mengaku sedih dan prihatin karena ratusan nelayan di perairan Manggarai Barat yang tidak bisa melaut.

Di Kabupaten SBD, akibat pasokan BBM jenis premium yang langka, membuat harga premium per botol mencapai Rp 20.000 per botol. Bahkan, sehari kemudian harganya meningkat drastis menjadi Rp 30.000 per botol.

Bahkan antrean panjang masih terus terjadi di beberapa SPBU. Di SPBU Radamata misalnya, antrean kendaraaan roda dua dan roda empat memanjang hingga masuk ke lorong dan memutar kembali ke SPBU. Begitu pun dengan SPBU Taworara yang antreannya hingga hampir satu Km panjangnya.

Melihat situasi kurang baik, Polres Sumba Barat Daya dan Dinas Perhubungan SBD langsung terjun melakukan penertiban di SPBU Radamata. Hal yang sama pun terjadi di Rote Ndao. Selasa (8/9) lalu, pengecer premium di seputaran Kota Ba’a dan sekitarnya tidak membuka kios BBM-nya karena stoknya habis. Sementara pengecer yang masih mempunyai stok, menaikkan harga jual dari harga biasa Rp8.500 per liter (botol Jenever) menjadi Rp10.000.

Pantauan VN, sejumlah kios bensin Simpang Tiga Utomo seluruhnya ditutup sejak pagi hari. Ada warga yang datang membawa hendak membeli bensin terpaksa pulang kosong.
Herwin Dae Panie, pemilik pangkalan bensin di bilangan Lekioen, Kelurahan Mokdale, yang dikonfirmasi VN menjelaskan, pasokan premium untuk pangkalan BBM di wilayah Rote Ndao sejak sepekan terakhir tidak ada. Sehingga, beberapa hari terakhir pihaknya menjual sisa stok yang dimiliki, dan sudah habis sejak Sabtu (5/9) lalu.

Di Kabupten TTS, Komisi III DPRD TTS telah mengagendakan pertemuan langsung dengan Pihak Pertamina di Kupang untuk menanyakan informasi yang lebih jelas. Kemudian akan turun langsung memantau di SPBU sekaligus meminta data yang pasti tentang kuota dan distribusi harian.

“Kami akan bersama Pemda melakukan koordinasi dengan Pertamina agar mempertanyakan kuota BBM Kabupaten TTS dan distribusi harian apakah sudah sesuai dengan kebutuhan riil ataukah memang ada pembatasan. Kita akan cross check di SPBU,” ungkap Sekretaris Komisi III DPRD TTS David Boimau kepada VN. (sat/kbn/enq/mg-12/R-4)