Paulina Luji, Lika-liku Mengajar di Daerah Terpencil

berbagi di:
img-20210222-wa0016

 

Paulina Luji, S. Pd, SD, guru di SDN Ramuk, Kecamatan Pinupahar, Kabupaten Sumba Timur sedang mendampingi anak didiknya.

 

 

 
Yunus Atabara

 

 
PAHLAWAN tanpa tanda jasa. Itulah sebuah kalimat yang sering diucapkan untuk para guru karena jasa pengabdiannya yang mampu mencerdaskan anak-anak bangsa.

Paulina Luji yang rela meninggalkan keluarganya untuk mengajar di SDN Ramuk Kecamatan Pinupahar, Kabupaten Sumba Timur, yang jauhnya 157 km dari Kota Waingapu.

Sebagai seorang wanita, bukan berarti selalu lemah. Dengan penuh semangat menempuh ratusan km dengan menumpang bis kayu dan terkadang menggunakan sepeda motor untuk sampai di tempat pengabdiannya.

img-20210222-wa0017

“Saya mengajar di SDN Ramuk Kecamatan Pinupahar 157 km di bagian Selatan Sumba Timur. Kadang numpang bis kayu, dengan jarak tempuh kurang lebih 10 jam perjalanan,” kata Paulina Luji.

Ia menyadari profesi sebagai guru di daerah terpencil tidak semudah dengan nasib guru-guru lainnya yang mengajar di Kota. Dimana ia harus berjibaku dengan kondisi alam yang kurang bersahabat, jalan yang licin dan berlumpur, melintasi hutan dan menyeberangi sungai.

“Apalagi musim hujan seperti saat ini, jalan licin dan berlumpur. Kalau lagi banjir kami harus menunggu berjam-jam sampai banjir surut agar bisa menyeberang,” ujarnya.

Jarak dan sulitnya akses menuju tempat ia mengajar bagi Paulina, bukanlah satu-satunya kendala yang ia hadapi. Dimana di sekolah tempat ia mengajar, belum ada listrik dan tidak ada jaringan internet.

“Daerah tempat saya mengajar belum ada listrik. Kalau mau telpon keluarga atau urusan dinas, kami harus berjalan kaki sejauh 2 sampai 3 km untuk mencari signal,” ujarnya.

Kesulitan lainnya adalah di masa pandemi covid-19 sekarang ini, yang mewajibkan Belajar Daring (BD) selain sulitnya mencari signal, banyak siswa di sekolah itu yang belum memiliki android.

Berbagai kendala dan rintangan itu, Paulina melaluinya dengan tulus iklas untuk sebuah pengabdian dalam mencerdaskan anak bangsa di daerah itu. Dimana kalau sehari saja tidak mengajar, selalu merasa bersalah kepada anak didiknya.

“Kalau dipikir cukup menyedihkan kalau melihat tantangan yang ada. Sebagai seorang ibu, saya merasa lebih bersalah, kalau saya terlambat satu hari tidak mengajar,” ujarnya.

Di tempat tugas, Paulina mengakui bersama rekan guru lainnya, harus iklas tinggal di mes guru sederhana. Dalam 1 bulan, sekali turun ke kota untuk berkumpul bersama suami dan anak-anaknya. Kecuali pada saat liburan sekolah, baru bisa berlama-lama bersama keluarga. (Yan/ol)