Pelarian Modal dari NTT Tembus Rp 1,8 Triliun

berbagi di:
viktor-laiskodat

 

 

 

Rafael L. Pura

Sepanjang tahun 2019, NTT mengalami pelarian modal (capital flight) sebesar Rp 1,8 triliun. Capital fligth itu terjadi dikarenakan sebagian besar unggas dan telur didatangkan dari luar Provinsi NTT.

Hal tersebut dikarenakan tingkat kebutuhan konsumsi masyarakat NTT terhadap unggas khususnya daging ayam begitu tinggi. Namun tingkat konsusmi tersebut tidak sebanding dengan produksi di NTT.

“Sebagian besar ayam, baik itu berupa dagingnya, ataupaun anak ayam dan telur didatangkan dari luar untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat NTT. Angka ini, termasuk pakan yang juga didatangkan dari luar,” ungkap Sekretaris Dinas Peternakan NTT
Fransiskus Samon mewakili Kepala Dinas Peternakan NTT kepada VN di ruang kerjanya, Selasa, (3/12).
Penegasan tersebut menyikapi penuturan Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat bahwa ekonomi NTT masih lebih banyak digerakan dari luar daerah. Dampak yang bakal terjadi adalah capital flight yang mencapai triliunan rupiah. “Kita harus mengurangi ketergantungan pasokan dari luar daerah,” ujar Gubernur dalam berbagai kesempatan.

Samon menjelaskan untuk mencegah capital flight, pihaknya saat ini tengah mendorong masyarakat agar bisa memfaatakan peluang menjadi peternak di pedasaan ataupun pengusaha peternakan.Pihaknya saat ini tengah menjajaki kerja sama dengan berbagai pihak terkait untuk membuka industri pakan ternak di NTT. “Saat ini telah menjalin kerja sama dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Prisma untuk melakukan uji kelayakan,” bebernya.

Pihaknya juga akan dibantu sejumlah instansi terkait di antaranya Dinas Pertanian, Dinas Perindustrain dan Perdagangan (Desprindag), Badan Perencanaan Daerah (Bappeda). “Tahapan ini sedang berjalan. Pembukaan pakan ini untuk mengurangi keteragantungan kita terhadap pakan ternak yang selama ini didatangakan dari luar NTT,” sebutnya.

 
Tak Sebanding
Kepala Dinas Peternakan NTT Dani Suhadi menjelaskan bahwa permintaan kebutuhan terhadap daging ayam mencapai 19,3 juta ekor setiap tahunnya, sedangkan untuk telur, dalam pemenuhan kebutuhan sehari-sehari, dilihat dari permintaan mencapai 17.500 ton. Angka ini, identik dengan 7,5 juta kilogram.

Jika diasumsikan, per kilo terdapat 15 sampai 16 butir telur, maka sekitar 130 juta butir, kalau per hari, maka tingkat konsusmsi masyarakat NTT per hari mencapai 299 ribu telur.

Jumlah itu, tidak sebanding dengan hasil produksi dari masyarakat pedesaan dan perusahan telur. Masyarakat pedesaan hanya mampu
mengahsilkan 20 sampai 30 ribu telur perhari, sedangkan perusahan yang ada, hanya memproduksi 70 sampai 80 ribu.

“Untuk memenuhi kebutuhan telur ini, praktis, harus didatangakan dari luar, ini untuk memenuhi kebutuhan yang ada, karena produksi lokal tidak memenuhi kebutuhan masyarakat yang ada,” sebutnya.

Dengan data ini, praktis ada peluang yang harus dimanfatakan para peternak untuk memulai usaha mereka. Peluang pengembangan usaha di sektor ini, masih terlalu besar.

Suhadi melanjutkan, tingkat kebutuhan konsusmi masyarakat NTT yang begitu tinggi ini, tentunya harus dijawab, peluang ini, akan mendorong pemerintah untuk membuka indusrti pangan dan mengembangkan para pelaku peternakan lebih jauh.

“Artinya, untuk menutup tidak adanya lagi pesanan dari luar NTT, maka para peternak dan perusahan peternakan harus mampu mengisi devisit yang ada, ini adalah rangsangan bagus untuk perekembangan ekonomi masyarakat kedepannya,” ujarnnya.

Dia mengatakan, dengan tingginya permintaan itu, otomatis, tingkat permintaan terhadap pakan ternak juga semakin tinggi. Angkanya
bukan main-main, mencapai 48 juta ton per tahunnya.

Untuk itu, peluang tumbuhnya industri pangan itu ada. Sehingga kata Dani, pemerinta Provinsi NTT, saat ini tengah menjajaki dibukanya industri pakan ternak di NTT. (mg-03/S-1)