Pembangunan SMAN 2 Terhambat Status Tanah

berbagi di:
foto-hal-14-para-guru-sabu-raijua

Tokoh Sabu Laie Amos, Rido (ketiga dari kanan) bersama para guru berpose di lahan yang akan dibangun SMAN 2 Sabu Laie, Kamis (22/8). Foto: Yulius Boni Geti/VN

 

 

Yulius Boni Geti

Pembangunan Gedung SMAN 2 Sabu Laie yang terletak di Desa Raerobo, Kecamatan Sabu Liae hingga saat ini masih terkatung-katung dan beum dilanjutkan karena tekendala status tanah. Saling klaim kepemilikan antara suku Teriwu, Kolorae dan pemilik tanah yang telah memberikan pelepasan hak atas tanah kepada Dinas PPO Provinsi NTT belum menemui titik akhir.

Masalah ini sudah dimediasi di tingkat desa hingga tingkat kabupaten namun belum ada ada titik temu, karena antara suku dan pemilik lahan tidak menyertakan bukti kepemilikan yang sah, sehingga masih diberikan waktu lagi untuk menyelesaiakan masalah tersebut. Pembangunan akan dilanjutkan tetapi masih menunggu kepesepakatan bersama anatara suku sehingga tidak ada hambatan pada saat pembangunan dilanjutkan.

Demikian disampaikan oleh Amos Rido sebagai tokoh Sabu Liae, Kepala Desa Raerobo, Jon Darius Ratu Lado yang dihubungi secara terpisah oleh VN di Desa Raerobo, Kamis (22/8).

Amos Rido yang juga sebagai tokoh yang memperjuangkan hadirnya SMAN 2 di Sabu Liae, mengatakan Suku Teriwu dan Suku Kolorae tidak menerima adanya pelepasan hak tanah yang diberikan oleh yang mengklaiam pemilikk tanah atas nama Gabriel Rihi (sesuai bukti kepemilikan) kepada Dinas P dan K Provinsi, karena kedua suku mengklaim bahwa tanah tersebut bukan milik pribadi tetapi milik ari kedua suku yang dimaksud .

“Kita tunggu dalam dua hari ini bagaimana kabar dari suku Teriwu dan Kolorae dan kita akan lanjutkan pekerjaan. Karena tidak bisa dibiarkan begitu saja karena kegiatan belajar mengajar sudah dimulai pada tahun ajaran baru ini dan KBMnya masih memakai ruangan SD GMIT Raerobo” kata Amos Rido yang mengaku sebagai salah satu petinggi dari Suku Teriwu ini.

Menurutnya, KBM sudah berjalan dan guru-guru mata pelajaran yang sudah siap dengan sukarela mengajar sebanyak 18 orang dan empat staf. Semuanya merupakan anak-anak dari Suku Kolorae.

Sementara Kepala Desa Raerobo, Jon Darius Ratu Lado mengaku bahwa dirinya telah meminta untuk menghentikan sementara pekerjaan tersebut, karena masih ada masalah yang terjadi antara Suku Teriwu dan Kolorae yang mengklaim sebagai pemilik yang sah dan terhadap Gabriel Rohi yang mengklaim sebagai pemilik tanah.

“Saya sudah mengeluarkan surat untuk hentikan sementara pekerjaan itu sambil menunggu hasil selanjutnya. Karena masaih ada masalah. Tapi yang pasti pembangunan itu akan dikerjakan dan orang Liae akan miliki SMAN,” ujarnya.

Sementara Gabriel Rohi sebagai pemilik tanah sesuai dengan bukti kepemilikan, mengaku bahwa tanah tersebut merupakan lahan milik pribadi yang diberikan untuk pembangunan sekolah, karena menurunya generasi Sabu Liae khusunya desa Raerobo harus bisa mengenyam pendidikan. Juga tidak lagi harus berjalan menempuh berkili-kilo untuk bisa bersekolah ke SMA.

“Tanah ini milik saya dan saya punya bukti kepemilikan, kalau mereka hanya omong-omong saja kalau itu milik mereka, sementara tidak ada bukti” kataya sambil menunjukan segel tanah yang diterbitkan dari tahun 1962.

Pantauan VN, saat ini baru dilakukan pembersihan lokasi dan dipasang papan nama yang bertuliskan lokasi/tanah ini milik Dinas P dan K Provinsisi NTT, SMA Negeri 2 Liae, Kecamatan Liae, Kabupaten Sabu Raijua Proviinsi NTT, sementara belum ada alat berat atau aktivitas lain yang menggambarkan bahwa pekerjaan pembangunan tersebut segera dikerjakan. Papan Proyek juga belum dipasangan sehingga belum diketahui anggaran untuk pembangunannya. (yul/S-1)