Pembatas Jembatan Merah Patah

berbagi di:
foto-hal-06-metro-jembatan-merah-300719

Siswa SMP yang tampak hati-hati menyebrang dari Kelurahan Fontein ke Kelurahan Mantasi melalui bagian kiri jembatan karena bagian pembatas pada kanan jembatan sudah patah, Senin (29/7). Foto: Putra Bali Mula/VN

 

Putra Bali Mula
Jembatan Merah yang menghubungkan Kelurahan Fontein dengan Kelurahan Mantasi memerlukan pemugaran agar aman bagi warga yang melakukan penyeberangan.

Pantauan VN pada Senin (29/7), bagian pegangan sekaligus pembatas pada jembatan itu sudah tidak lagi terlihat dan sebagian besar telah patah. Bila ingin menyeberang dari Kelurahan Fontein menuju Kelurahan Mantasi maka para penyeberang akan sulit berpegangan, karena bagian pegangan dan pembatas pada kanan jembatan hampir seluruhnya sudah patah.
Kondisi itu tentu membahayakan bagi penyeberang terutama anak-anak sekolah. Dengan tiadanya pembatasan dan pegangan pada jembatan tersebut maka goncangan yang disebabkan saat dilalui dapat jelas terasa, apalagi bila dipengaruhi oleh angin kencang akhir-akhir ini.

Secara fisik, Jembatan Merah dibangun dari material besi pada seluruh bangiannya terkecuali pada bagian pijakan yang mengunakan kayu. Kondisi keseluruhan jembatan tampak mengalami korosi atau karat. Selain pada musim hujan, keberadaan Kali Dendeng di bawah jembatan pada kisaran jarak delapan sampai 10 meter tersebut diduga dapat mempengaruhi korosi terutama di musim panas karena mengalami penguapan.

Arsen Loet, salah satu warga Kelurahan Mantasi membenarkan bahwa bagian pegangan dan pembatas pada jembatan tersebut patah karena usia, apalagi bila sudah berkarat.

Tidak hanya itu, Arsen yang adalah warga RT 1/RW 2 Kelurahan Mantasi dan tinggal tak jauh dari bibir Jembatan Merah itu menyebut bahwa pepohonan ataupun ranting kayu di bantaran Kali Dendeng sering jatuh dan mengenai jembatan tersebut dan bisa memperparah kerusakan.

“Karena alam jadi begini sudah. Ada yang patah pas pohon tumbang baru-baru kena pegangannya,” ungkapnya.

Ia mengaku kondisi ini sudah berlangsung sejak tiga tahun terakhir dan dengan keadaan demikian maka perlu dilakukan pemugaran sebelum rusak semakin parah. Pemeriksaan dari pemerintah sendiri selama ini sangat jarang dilakukan.

“Tidak pernah lihat, paling yang datang orang-orang untuk foto selfi dan prewedding. Tiga tahun sudah patah begini,” kata Arsen.

Spot Foto
Jembatan Merah sendiri beberapa tahun belakangan sering digandrungi para pelancong yang hendak melakukan swafoto di atas jembatan tersebut. Namun menurut Arsen dengan kondisi jembatan tersebut tidak mempengaruhi jumlah pengunjung terutama di hari Minggu.

Sementara fasilitas seperti lopo untuk para pengunjung terdapat di wilayah Kelurahan Mantasi, dekat dengan ujung jembatan tersebut tepat di atas Kali Dendeng. Lima lpo tersebut merupakan hasil karya para Mahasiswa PGRI yang melakukan KKN (Kuliah Kerja Nyata) pada 2014 silam.

“Itu yang buat mahasiswa KKN, Kaka (VN),” jawab Arsen.

Alexa, warga Kota Kupang yang hendak melakukan swafoto di Jembatan Merah tersebut juga memprihatinkan kondisi ini. Ia mengaku tidak berani mengambil gambar di tengah jembatan dan hanya berpose di ambang jembatan.

“Langsung goyang padahal baru berapa langkah. Jadi foto di pinggir saja yang ada pegangan,” hematnya.

Jembatan Merah diketahui telah ada sejak jaman penjajahan Belanda dimana kini telah digunakan untuk memudahkan penyebrangan warga Kelurahan Fontein dan Kelurahan Mantasi yang dipisahkan oleh Kali Dendeng. (mg-06/R-2)