Pemda TTU Genjot Promosi Tenun Ikat lewat Festival Tenun

berbagi di:
img-20201027-wa0017

 

Bupati TTU Raymundus Sau Fernandes didampingi Kadis Kebudayaan dan Pariwisata, Robertus Nahas, menyaksikan hasil tenun dari salah satu kelompok tenun.

 

 

 

Gusty Amsikan

 
PEMERINTAH Kabupaten TTU melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten TTU, menggelar kegiatan Festival Tenun Ikat Kabupaten TTU. Kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut dari sikap Pemerintah Daerah dalam melindungi dan melestarikan hak intelektual perempuan TTU.

Pantauan media ini, Selasa (27/10), kegiatan festival Tenun Kabupaten TTU, yang digelar Disbudpar Kabupaten TTU, berlangsung di salah satu titik destinasi Kolam Renang Oeluan, Desa Bijeli, Kecamatan Noemuti. Kegiatan tersebut dihadiri puluhan keterwakilan kelompok penenun dari masing-masing kecamatan selanjutnya dinilai oleh dewan juri.

Bupati TTU, Raymundus Sau Fernandes, ketika diwawancarai media ini usai membuka kegiatan tersebut mengatakan, kegiatan Festival Tenun Ikat TTU tersebut merupakan bagian dan tindakanjut dari sikap Pemerintah Daerah dalam melindungi dan melestarikan hak intelektual perempuan TTU yakni tenun ikat. Pemerintah Daerah akan terus mendorong dalam perbaikan kualitas serta peningkatan kuantitas agar tenun ikat di TTU semakin bisa dikenal di kalangan luas, tidak hanya di NTT, Indonesia bahkan hingga ke dunia internasional.

“Kami Pemerintah Daerah sangat mendukung apa yang sudah dilakukan oleh Ibu Julie Laiskodat yang sudah membantu Pemerintah dan masyarakat Kabupaten TTU melakukan promosi kain tenun ikat sampai di Amerika, Prancis, Paris, Ekuador dan Italy, dan beberapa negara lainnya,”ujarnya.

Menurut Fernandes, tugas dan tanggung jawab Pemerintah Daerah saat ini adalah menjaga kualitas tenun ikat. Pemerintah Daerah melalui pihak OPD terkait akan melakukan pendampingan agar para pengrajin tenun ikat bisa dari hari ke hari memperbaiki kualitas. Pemerintah Daerah juga akan mempersiapkan masyarakat untuk memahami bahwa saat ini kegiatan menemun tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan adat, tetapi juga dapat bernilai ekonomis. Dengan demikian, tenun ikat yang merupakan hasil karya intelektual perempuan TTU dapat bersaing di pasar global.

Sementara itu, untuk mengantisipasi jangan sampai ke depan generasi mendatang kehilangan keterampilan tenun, Pemerimtah Daerah melalui Dinas Pendidikan akan memasukkan kegiatan menenun dalam muatan lokal . Anak-anak dan remaja di jenjang SD dan SMP akan dilatih agar dapat mencintai hasil karya perempuan TTU.

“”Untuk saat ini, kegiatan menenun hanya berorientasi pada kebutuhan keluarga dan adat, kita saat ini mendorong untuk kualitas. Masyarakat kita sudah harus disiapkan untuk memahami bahwa tenunan ini tidak hanya untuk kebutuhan rumah tangga, tapi sudah harus berorientasi ekonomi untuk bisa membawa hasil karya intelektual perempuan TTU ke pasar global. Kita perlu masukkan kegiatan menenun mulai SD dan SMP untuk muatan lokal. Kita melatih anak-anak dan remaja agar mereka bisa mencintai hasil karya perempuan TTU,”pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten TTU, Robertus Nahas, mengatakan kegiatan Festival Tenun Ikat Kabupaten TTU tersebut dilaksanakan di Destinasi Wisata Oeluan. Hal tersebut bertujuan mempromosikan tenun ikat dan juga mempromisikan pariwisata di Kabupaten TTU. Sementara jumlah peserta festival yang mendaftar sebanyak 17 peserta. Namun dalam pelaksanaannya, satu orang peserta memgundurkan diri.

“Ini kan poin ganda. Selain promosi hasil tenun juga promosi wisata. Dinas Pariwisata akan terus melanjutkan kegiatan ini dan tempatnya berpindah dari satu destinasi ke destinasi lainnya. Dengan demikian kegiatannya festival tenun sekalian promosi wisata,”imbuhnya. (Yan/ol)