Pemegang Saham Sepakat Naikkan Target Laba

berbagi di:
Gubernur NTT Viktor Laiskodat.

 

 

Polce Siga
Bank NTT menggelar rapat umum pemegang sahan (RUPS) Tahun Buku 2018, Kamis (11/4) kemarin. Dalam RUPS tersebut para pemegang saham bersepakat menaikkan target laba bersih dari Rp 300 miliar menjadi Rp 500 miliar pada 2019. Bank milik daerah ini terus didorong agar pada 2021 sudah menjadi bank devisa, dan selanjutnya 2024 sudah bisa menjadi bank publik.

RUPS digelar tertutup di kantor pusat Bank NTT dan berlangsung pukul 10.00-15.05 Wita. Mayoritas pemegang saham, khususnya para bupati dan wali kota hadir dalam RUPS tersebut.

Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat selaku pemegang saham pengendali usai RUPS mengungkapkan, para pemegang saham sudah bersepakat menaikkan target laba bersih tahun 2019 sebesar Rp 500 miliar dari Rp 300 miliar yang dicapai di 2018.

“Ya sudah disepakati itu Rp 500 miliar. Ya belum, (taget tri wulan I) kita akan ngejar. Lagi dipersiapkan dengan baik,” jelas dia.

Gubernur VBL mengatakan, untuk menaikkan laba bersih, maka Bank NTT harus mendongkrak berbagai model bunga murah. Jika Bank NTT dipercaya menjadi tempat transfer dana Program Keluarga Harapan (PKH) dan dana desa, maka akan mudah sekali mencapai target dimaksud.

“Ya tadi kita lihat laba kita dari bunga itu Rp 1 triliun lebih. Kalau itu kita bisa menekan biaya, sambil kita mendorong produk-produk bunga murah. Penempatan keuangan transfer pusat ke daerah baik dari PKH maupun dana desa itu bisa kita ikut tender dan kita menang, itu hal yang sangat gampang untuk dapat Rp 500 miliar,” tegas VBL.

Terkait rencana Bank NTT untuk menjadi bank persepsi (bank mitra Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara), Gubernur VBL mengatakan pihaknya tengah berkerja keras untuk mewujudkannya tahun 2021 menjadi bank devisa. Mimpinya, tahun 2024 Bank NTT telah menjadi bank milik umum (bank publik).

“Kita lagi mendorong itu dan mimpi kita di 2021 itu sudah menjadi bank devisa. Itu terus membantu sekali untuk ikut tender-tender, transfer-tranfer pusat ke daerah itu. Mimpi saya 2024 itu menjadi bank publik,” tandasnya.

Bupati Manggarai Timur Andreas Agas mengatakan target laba bersih tahun buku 2019 cukup tinggi, sehingga perlu adanya efisiensi angaran termasuk penambahan penyertaan modal dari pemilik saham. Kenaikan laba bersih, lanjutnya, sudah diputuskan dalam RUPS.
Begitupun, dalam RUPS juga telah diputuskan bahwa dana tantien sudah diturukan dari tiga persen menjadi dua persen. Sedangkan, dana lainnya tidak ada perubahan.

“Kita sudah putuskan tadi dana tantien itu dari tiga persen menjadi dua persen, sedangkan dana-dana lain tetap. Dana tanten saja,” ujarnya.

Dana tantien adalah bagian keuntungan perusahaan yang dihadiahkan kepada karyawan. Baru dapat diberikan bila perusahaan memperoleh laba bersih sebagaimana ditentukan dalam Pasal 70 ayat (1) UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (UU PT).
Dalam Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak No. SE-16/PJ.44/1992 Tentang Pembagian Bonus, Gratifikasi, Jasa Produksi Dan Tantiem disebutkan bahwa, Tantiem merupakan bagian keuntungan yang diberikan kepada Direksi dan Komisaris oleh pemegang saham yang didasarkan pada suatu prosentase/jumlah tertentu dari laba perusahaan setelah kena pajak.