Pemkot Kupang Wacanakan PSBB

berbagi di:
foto-hal-01-jubir-covid-19-kota-kupang-ernest-ludji

 

 

 

 

Pemerintah Kota Kupang berencana akan menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) mulai Senin, 11 Januari mendatang. Pembatasan PSBB dilakukan lantaran penyebaran Covid-19 melalui transmisi lokal sudah sangat mengkhawatirkan.

Juru Bicara Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Kupang Ernest Ludji di Kupang, Kamis (7/1) mengatakan sebelum 11 Januari, pemerintah Kota Kupang mengeluarkan edaran terkait PSBB tersebut.

“Untuk pasar tradisional hanya diperbolehkan buka selama enam jam sehari terdiri dari pagi hari selama empat jam mulai pukul 06.00-10.00 Wita dan dua jam pada sore hari mulai pukul 16.00-18.00 Wita,” ujarnya.

Sedangkan untuk bongkar muat barang di pasar akan diatur kemudian. “Di pusat-pusat pembelanjaan hanya boleh buka sampai pukul 19.00 Wita serta restoran dan rumah makan buka sampai pukul 20.00 Wita,” tambahnya.

Selain itu, protokol kesehatan akan semakin diperketat. Petugas akan diterjunkan untuk melakukan pengawasan terhadap penerapan protokol kesehatan mulai dari pemakaian masker, cuci tangan dan jarak aman.

Sebelumnya, Ernest mengaku belum bisa menerapkan PSBB. Namun, beberapa point yang diumumkan Pusat, telah sudah dilakukan di Kota Kupang seperti WFH, penerapan prokes di pusat pembelanjaan, serta belum ada KBM tatap muka.

“Beberapa poin sudah dilaksanakan Pemkot dan akan dievaluasi. Jika jalan dengan baik, maka dipertahankan. Apabila tidak efektif, maka tentu ada upaya lain untuk mengatasi covid-19 ini,” katanya.

Sedangkan Wakil Wali Kota Kupang dr Herman Man menambahkan, Pemkot juga akan mengaktifkan kembali posko Satgas dan Tim Satgas Penanggulangan Covid-19 di setiap kelurahan.

Tim Satgas di kelurahan akan dibekali biaya operasional untuk pengawasan terhadap orang tanpa gejala (OTG), warga yang isolasi mandiri, serta pengawasan pengobatan medis di rumah bagi pasien Covid-19.

“Angka reproduktif sudah lebih dari 1,7, yang berarti, tiap 100 pasien Covid-19, berpotensi menularkan ke 200 orang. Jika jumlah kasus positif sudah mencapai 2.000 orang, maka Pemkot akan menutup pesta-pesta. Walau nanti Pak Gubernur marah, saya tetap tutup kota ini untuk pesta. Pesta kita tutup. Saya tidak mau buat orang mati banyak, lebih baik pesta kita tutup,” tegasnya. (mg-21/mg-03/tia/R-2)