Pemprov Perkenalkan Potensi NTT di Melbourne

berbagi di:
Dua delegasi Pemprov NTT yaitu Wagub Josef Nae Soi (tengah) dan Prof Daniel Kameo (dua dari kiri) foto bersama para pebisnis asal Indonesia. (INZET) Wagub JNS saat memaparkan potensi NTT.

Dua delegasi Pemprov NTT yaitu Wagub Josef Nae Soi (tengah) dan Prof Daniel Kameo (dua dari kiri) foto bersama para pebisnis asal Indonesia.

 

 
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Nusa Tenggara Timur (NTT) yang diwakili Wakil Gubernur NTT Josef Nae Soi, memperkenalkan potensi-potensi luar biasa yang dimiliki Kepulauan NTT kepada ratusan pelaku bisnis yang berasal dari Indonesia dan Australia.

Pemaparan potensi peternakan, pertanian, dan pariwisata NTT oleh Wagub JNS tersebut disampaikan dalam forum Indonesia-Australia Business Summit (IABS) di Hotel Grand Hyatt, Melbourne, Australia, Kamis (27/9) pagi waktu Australia.

Penegasan tersebut disampaikan Staf Khusus Gubernur NTT Prof Daniel Daud Kameo yang diwawancarai VN, melalui sambungan telepon langsung dari Melbourne, Australia, semalam.

“Ini ajang memperkenalkan NTT kepada para pelaku bisnis Indonesia dan Australia. Para peserta menunjukkan minat terutama di sektor bisnis peternakan dan Pariwisata,” ungkap Prof Kameo yang juga Guru Besar Ekonomi UKSW Salatiga itu.

Menurut Prof Kameo, dalam pemaparannya Wagub JNS menginformasikan dan mengajak para pebisnis kedua negara untuk bekerja sama berinvestasi di NTT.

Ia menambahkan, ia bersama Wagub JNS juga membangun percakapan dan obrolan dengan sejumlah tokoh penting yang hadir. Di antaranya Kepala BKPM Thomas Lembong, Gellwynn Jusuf Sekretaris Kemrenterian Perencanaan Pembangunan Nasional, Duta Besar Indonesia untuk Canberra HEY Kristiarto Legowo, Senator Victoria sekaligus pengusaha James Paterson, Executive Director, Department of Economic Development, Jobs, Transport and Resources, Victorian State Government Mark Switkowski, dan sejumlah pejabat penting kedua negara.

“Pak Wagub dalam forum itu berbicara tentang Investment and Business Policies and Opportunities in the NTT atau Investasi dan Kebijakan Bisnis dan Peluang di Wilayah NTT,” pungkasnya.
Untuk diketahui, Prof Kameo selanjutnya akan menuju Griffith University Queensland untuk menjajaki kerja sama bidang pendidikan dan dijadwalkan kembali Indonesia pada 4 Oktober mendatang.
Dengan Timor Leste
Terpisah, Kepala Biro Kerja Sama Setda Provinsi NTT Lery Rupidara, kemarin, mengatakan, kehadiran Wagub JNS di Australia untuk memperkenalkan NTT serta peluang investasinya.

Di sana, Wagub JNS juga menjelaskan tentang visi kepemimpinan Gubernur-Wagub NTT lima tahun ke depan, yakni meningkatkan kesejahteraan masyarakat, membangun sektor pariwisata sebagai motor penggerak pembangunan ekonomi, meningkatkan kapasitas dan kualitas infrastruktur, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, dan reformasi birokrasi pemerintahan dan pelayanan publik.

Setelah Australia, tambahnya, pada 2 Oktober nanti, Pemprov NTT bersama Kementerian Ekonomi sudah menjadwalkan pertemuan bersama Pemerintah Timor Leste di kantor Gubernur NTT. Inti pertemuan tersebut untuk membahas kerjasama ekonomi seperti koneksitas darat, udara, komunikasi, pertanian, peternakan, perdagangan dan investasi.

Di Australia, lanjut Lery, Wagub JNS juga memaparkan peluang-peluang investasi di NTT. “Yang dibicarakan Pak Wagub itu adalah sesuatu yang berdampak sekali dalam perjalanan pembangunan NTT ke depan,” ucapnya.
Wagub JNS juga mengatakan meski total PDRB NTT masih relatif kecil, namun rata-rata pertumbuhan ekonomi ekonomi NTT hampir sama dengan rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional yaitu antara 5,0-5,4 persen. Tingkat inflasi juga relatif sama dengan rata-rata nasional, dan juga relatif stabil.

Kontribusi sektor pertanian masih dominan terhadap total PDRB, sektor pertanian juga masih menyerap sekitar 54 persen dari sekitar 2,3 juta angkatan kerja.
NTT, memiliki beragam kekayaan sumber daya yang dapat dimanfaatkan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat. Terbuka peluang investasi maupun kerja sama bisnis dengan NTT di mana potensi utama NTT salah satunya adalah sektor pariwisata alam dan budaya.

Di sektor pertanian, terdapat potensi pertanian lahan kering untuk tanaman pangan dan holtikultura. Sementara untuk sektor peternakan terdapat potensi pengembangan usaha peternakan sapi, babi, kambing dan unggas.

Potensi besar di sektor kelautan, juga dipaparkan Wagub JNS, seperti industri garam dan rumput laut. Sebagian besar potensi sumber daya alam NTT, katanya, masih terpendam dan belum digarap secara optimal.

Sementara itu, sektor industri hilir yang berpotensi untuk dikembangkan antara lain industri pakan ternak, dan industri pengolahan berbasis berbagai komoditi unggulan di sektor pertanian, perkebunan, dan kelautan. Selain itu kegiatan investasi terbuka untuk infrastruktur jalan, jasa transportasi, pembangkit tenaga listrik dan penyediaan air bersih. (mg-14/R-4)