Penanganan Korupsi di Belu Jalan di Tempat

berbagi di:
Kapolres Belu, AKBP Yanri Irsan

Berchmans Nahak

 

Penanganan beberapa kasus korupsi di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur yang menjadi sorotan publik dinilai jalan di tempat. Kasus korupsi dana Program Raskin Gratis dan skandal korupsi pengadaan benih jagung yang mencuat sejak tahun lalu, masih sebatas pendalaman oleh penyidik Polres Belu dan belum ditingkatkan ke penyidikan.

Kapolres Belu AKBP Yanri Irsan yang dikonfirmasi VN di Atambua, Jumat (12/5) mengatakan pihaknya serius mengusut kedua kasus tersebut.

Untuk kasus raskin gratis,lanjutnya, penyidik sudah melakukan gelar perkara pada awal pekan ini, namun belum ditingkatkan ke penyidikan.

Menurutnya, penyidik baru menemukan penyaluran raskin yang terlambat. Sedangkan aspekĀ  kerugian uang negara masih didalami.

“Kalau toh pada pendalaman lanjutan itu ditemukan adanya unsur kerugian negara, maka tetap diusut,” katanya.

Sementara kasus korupsi pengadaan benih jagung, kata Kapolres, masih sedang didalami. ia berharap bisa mendapatkan informasi dan data dari pihak-pihak yang mengetahui adanya kerugian negara dalam kasus tersebut.

“Unsur kerugian negara kita belum temukan. Yang ditemukan sementara adalah pemalsuan dokumen yang dinilai sebagai kesalahan administrasi,” katanya.

Pihaknya akan serius untuk terus melakukan pendalaman lanjutan melalui gelar perkara. Langkah ini dilakukan dengan maksud agar bisa memastikan adanya unsur kerugian negara.

Sebelumnya, terdapat surat keputusan (SK) tentang pengadaan benih jagung dan SK tersebut memiliki dua versi lampiran. Satu lampiran menulis jenis jagung lamuru sementara yang lainnya adalah jagung bisma.

Data yang diperoleh menyebutkan, sesuai SK Kadis Pertanian Nomor 521. 1.22/58/IV/2016 benih jagung lamuru yang dibagikan kepada 151 kelompok tani dengan jumlah anggota 2.945 orang dengan luas lahan 2.000 hektare.

Namun dalam pelaksanaanya, bukan benih jagung lamuru namun benih jagung bisma yang dibagikan. Setelah ditanam pada musim tanam 2016 lalu, jagung tidak tumbuh subur dan produktivitasnya rendah. Banyak petani yang akhirnya menjadikan jagung tersebut sebagai pakan ternak semata.

 

Penyidik Jangan Lamban

Anggota Fraksi NasDem DPRD Kabupaten Belu Anton Soares mengatakan, penyidik jangan lamban dalam mengusut kedua kasus tersebut.

Menurut Anton, penyelidikan kasus benih jagung sudah harus ditingkatkan ke penyidikan karena bukti-bukti permulaan yang cukup seperti dua keputusan yang berbeda lampiran dan hasil pulbaket dari beberapa pihak terkait seperti mantan Kadis Pertanian Remigius Asa. Sesuai pernyataan di koran, Remigius selaku Kadis Pertanian saat itu mengaku hanya mengetahui SK dengan lampiran benih jagung Lamuru. Dalam realisasinya, ternyata ditemukan benih jagung bisma yang sudah disalurkan kepada 151 kelompok tani, maka sudah ditemukan adanya tindak pidana. Penyidik sudah harus melakukan penyidikan untuk menetapkan tersangka karena sudah jelas-jelas terdapat pemalsuan dokumen.

Selain proses hukum yang ditangani penyidik, Anton juga meminta kepada Komisi II agar tidak boleh mendiamkan kasus tersebut.

Anggota Komisi I dari Fraksi NasDem itu meminta Ketua Komisi II Rudy Charlos Bouk agar memenuhi janjinya untuk memanggil pihak-pihak terkait untuk klarifikasi masalah ini.

“Kenapa rapat dengar pendapat untuk klarifikasi dua mantan pejabat belum dilakukan. Padahal, sudah dijanjikan untuk segera klarifikasi, kenapa belum dilaksanakan,” kata Anton.