Pendidikan Karakter dan Keterampilan Tetap Penting Diperhatikan

berbagi di:
foto-hal-01-cover-simon-riwu-kaho

 

 

 

Putra Bali Mula

Perubahan mata pelajaran perlu diikuti dengan berbagai pertimbangan terutama mengenai pembentukan karakter dan keterampilan dari pelajar atau peserta didik.

Demikian tanggapan Ketua Dewan Pendidikan NTT, Simon Riwu Kaho yang dihubungi VN pada Rabu (12/2) mengenai rencana Gubernur NTT untuk meniadakan beberapa pelajaran dalam sistem pendidikan yang digunakan di NTT.

Sistem pendidikan di Indonesia sendiri, kata Simon, telah diatur melalui Undang-Undang, Peraturan Presiden dan Peraturan Menteri Pendidikan. Sementara pemimpin daerah sebagai pelaksana aturan tersebut dapat memberikan usul terkait kebutuhan pendidikan yang diperlukan di daerahnya masing-masing.

“Tetapi Gubernur bisa mengajukan usul melihat kebutuhan setempat, kalau di tempat tertentu membutuhkan mata pelajaran yang lebih positif untuk masyarakat setempat ya tidak masalah, bisa dipertimbangkan,” jelasnya.

Namun begitu, usulan yang diberikan gubernur sebagai pemimpin daerah, lanjutnya, harus berlandaskan pada kajian yang matang terkait pendidikan pembentukan karakter dan keterampilan.

“Jadi kalau Pak Gubernur mau usul asal dikaji baik-baik. NTT ini membutuhkan mata pelajaran apa, dalam rangka pembentukan pembelajaran, pelatihan, dan pembentukan karakter, asal dikaji baik-baik apa yang dibutuhkan dalam rangka pembentukan karakter,” kata dia.

Ia menegaskan pembentukan karakter memiliki ada dua sisi yaitu lingkup nasional dan daerah. Sisi nasional bertujuan untuk menggalang kesatuan bangsa dari Sabang sampai Merauke sementara sisi daerah dalam rangka meningkatkan keterampilan.

“Jangan karakter NTT dibangun lain dengan daerah lain. Itu sudah berbahaya. Kokohnya persatuan bangsa harus dijaga karena lewat pendidikan ini juga kita bisa terpisah-pisah. Jadi pendidikan ini bisa menyatukan bisa juga memisahkan,” ungkap dia.

Pendidikan sebagai karakter suatu bangsa memang diperlukan tetapi dalam rangka pengembangan keterampilan, menurutnya, bisa mendapat perhatian lebih.

Pendidikan keterampilan ini dapat disesuaikan dengan kondisi geografis dan potensi lokal di masing-masing daerah. Misalnya, ketrampilan bidang perikanan bagi anak yang tinggal di pesisir pantai.

“Tapi tidak menutup kemungkinan bagi kita untuk membuka pendidikan karakter dalam rangka keterampilan,” kata dia.

Ia menilai Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat, menginginkan adanya penekanan pendidikan di NTT yang fokus meningkatkan ketrampilan dan pengetahuan pelajar lewat ide tersebut.

Baginya keputusan tersebut merupakan langkah untuk menata pendidikan masyarakat NTT sesuai kondisi lingkungan NTT yang jelas berbeda dengan daerah lainnya.

“Karakter dalam pengertian supaya dapat menata hidup ini sesuai lingkungan NTT,” kata dia.

Sementara sebelumnya, Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) ingin mata pelajaran sekolah dari jenjang SD sampai SMA yang dipakai hanyalah pelajaran jenis berhitung, bahasa dan sejarah.

Sesuai pers rilis yang diterima VN dari Humas Setda NTT, hal ini disampaikan VBL disaksikan para pejabat dan masyarakat di Rumah Jabatan Bupati Malaka di Haitimuk, Minggu malam (09/02).

Viktor bahkan mengaku akan menseriusi hal tersebut dengan menyampaikannya langsung kepada Presiden Indonesia, Joko Widodo.

“Saya akan lapor Bapak Presiden. Kita cukup tiga mata pelajaran saja yakni berhitung (logika dan matematika), bahasa (bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan bahasa daerag), dan sejarah Indonesia. Selama ini transfer knowledge ini yang perlu dilatih,” tegasnya.

Ide yang sama juga disampaikan Viktor Bungtilu Laiskodat saat melakukan kunjungan di Kabupaten Atambua belum lama ini. (bev/ol)