Pengelolaan Dana Desa Naekake B Beraroma Korupsi

berbagi di:
img-20200527-wa0006

proyek pembangunan gedung PAUD dengan pagu anggaran sebesar Rp 150.106.123 yang dilaksanakan pada tahun anggaran 2017, ternyata tidak tuntas dikerjakan di lapangan.

 

 

 

Gusty Amsikan

Menindaklanjuti berita terkait penyalahgunaan Dana Desa di Desa Naekake B sejak tahun anggaran 2015, 2016, 2017, 2018, dan 2019, Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara TimurĀ  mendatangi Desa Naekake B, Jumat (22/5) untuk melakukan uji petik, pengumpulan data, atau penyelidikan langsung terkait informasi tersebut.

Dalam penyelidikan langsung tersebut, Kejari TTU menemukan fakta adanya dugaan penyalahgunaan Dana Desa selama lima tahun anggaran.

Informasi yang berhasil dihimpun VN di lapangan, Jumat (22/5) menyebutkan sejak menjabat sebagai Kepala Desa Naekake B, Herminigildus Tob telah membeli dua unit dump truck dan membuka usaha percetakan batako.

Pembelanjaan material untuk sejumlah proyek fisik ditangani langsung oleh sang kepala desa, bahkan pengadaan batako untuk sejumlah proyek pembangunan pun diambil dari percetakan batako milik sang kepala desa.

Kasie Intel Kejari Kabupaten TTU, Mario Situmeang ketika VN usai memantau langsung fisik pekerjaan di Desa Naekake B mengatakan informasi yang diperoleh pihaknya dari media massa terkait adanya dugaan penyelewengan dana desa di Desa Naekake B ternyata benar adanya. Dalam penyelidikan tersebut pihaknya menemukan indikasi penyalahgunaan dana desa pada hampir semua item pekerjaan fisik maupun pemberdayaan di Desa Naekake B pada tahun anggaran 2015, 2016, 2017, 2018, dan 2019.

Mario merincikan, proyek pembangunan gedung PAUD dengan pagu anggaran sebesar Rp 150.106.123 yang dilaksanakan pada tahun anggaran 2017, ternyata tidak tuntas dikerjakan di lapangan. Proyek fisik tersebut baru dianggarkan ulang pada tahun 2019.

Namun, hingga pemeriksaan dilakukan, ternyata ditemukan pembangunan PAUD tersebut belum tuntas dikerjakan. Selain PAUD, sejumlah item pembangunan jalan pun dikerjakan asal jadi. Bangunan pelengkap seperti deker juga tidak tuntas dikerjakan.

Bangunan pelengkap berupa deker yang tidak tuntas dikerjakan.
Bangunan pelengkap berupa deker yang tidak tuntas dikerjakan.

Selain itu, ada pula sejumlah program pemberdayaan yang dialokasikan dalam APBDes namun realisasi program tersebut hanya termuat dalam laporan pertanggungjawaban, sementara pelaksanaan di lapangan tidak berjalan. Program permberdayaan tersebut merupakan program fiktif yang diketuai langsung oleh istri kepala desa, Elfita Kuil namun tidak dilaksanakan.

PPK pembangunan gedung PAUD merupakan istri sang kepala desa dan Sekretaris Desa Naekake B. Sayangnya, ketika ditanyai tentang detail pembangunan, sang istri tidak mengetahui besaran anggaran dan gambar bangunan.

Proyek fiktif lainnya adalah pembangunan WC sehat untuk warga desa pada tahun anggaran 2015 dengan pagu anggaran sebesar Rp 76.550.000. Namun, tak ada bukti fisik di lapangan

Pada tahun 2019, sang kepala desa memprogram ulang pembangunan 64 unit WC sehat dengan dengan pagu anggaran sebesar Rp709.948.800. Hingga memasuki tahun anggaran 2020, proyek tersebut pun belum tuntas dikerjakan. Sejumlah wc yang dibangun hanya berupa profil fisik dan sebagian besar belum tuntas dikerjakan.

“Ironisnya program tersebut diprakarsai oleh sang kepala desa sendiri. Semua material bangunan pun diadakan oleh sang kepala desa sendiri. Mulai dari proses cetak batako hingga distribusi pun dilakukan oleh sang kepala desa. Informasi yang diuraikan oleh tokoh masyarakat dalam pemberitaan itu benar adanya. Sejumlah perangkat desa dan kaur yang tidak sejalan dengan kepala desa diberhentikan secara sepihak oleh kepala desa. Bahkan sejumlah honor mereka juga tidak dibayarkan. Mereka sempat diangkat sebagai TPK namun hanya di atas kertas. Mereka tidak mengelola uang, mengetahui gambar dan melihat fisik di lapangan seperti apa. Itulah fakta yang kita peroleh,”jelasnya.

Ia menambahkan pihaknya akan tetap melanjutkan penyelidikan untuk memastikan dugaan praktik korupsi keuangan negara yang dianggarkan melalui dana desa di Desa Naekake B sejak tahun anggaran 2015 sampai dengan 2019.

Sebelumnya, Tokoh Masyarakat Desa Naekake B Tarsisius Taninas kepada VN mengatakan pengelolaan Dana Desa di Desa Naekake B sarat Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN). Pada tahun anggaran 2015 terdapat item kegiatan pembangunan WC Sehat dengan pagu anggaran sebesar Rp.76.550.000 hingga kini belum rampung dikerjakan. Fisik pekerjaan yang terlihat di lapangan hanya berupa pondasi dan hingga kini tidak dilanjutkan pengerjaanya dengan alasan anggaran telah habis terpakai.

Pada tahun 2019, terdapat lagi item kegiatan serupa dengan pagu anggaran sebesar Rp 709.948.800. Item pekerjaan tersebut juga belum tuntas dikerjakan hingga saat ini.

Pada tahun anggaran 2016, terdapat item kegiatan pembangunan jalan Netpala dengan pagu anggaran sebesar Rp 525.466.937. Proyek pembangunan itu pun dikerjakan asal jadi bahkan terdapat beberapa item pekerjaan seperti bangunan deker dan saluran pun belum dikerjakan sampai sekarang. Pada tahun anggaran 2017 terdapat item kegiatan perpipaan yang akan ditarik dari mata air Keba ke perkampungan warga dengan pagu anggaran sebesar Rp 135.686.213. Proyek peningkatan air bersih ini sama sekali belum dikerjakan. Pipa yang telah dibelanjakan oleh Kepala Desa Naikake B, Herminigildus Tob pun masih tersimpan rapi di jalan menuju mata air tersebut.

Selain item perpipaan, pada tahun 2017 juga terdapat proyek peningkatan jalan Nifuasin dengan pagu anggaran sebesar Rp 322.391.964. Selain itu, ada pula item pembangunan satu unit gedung PAUDĀ  denganpagu anggaran sebesar Rp150.106.123.

Tidak hanya itu, pada tahun anggaran 2018, terdapat item kegiatan pembangunan ruas jalan Hautes – Bituktaek dengan pagu anggaran sebesar Rp 502.759.000. Proyek pembangunan ini pun senasib dengan proyek terdahulu yang belum rampung dikerjakan. Sementara di tahun anggaran 2019, terdapat item kegiatan Pembangunan Jalan Klus-Nabona dengan total anggaran sebesar Rp 113.509.600. Akses jalan yang dibangun itu tidak memiliki manfaat sama sekali.(bev/ol)