Pengembangan Pariwisata NTT tidak Maksimal

berbagi di:
Ketua Fraksi Partai NasDem DPR-RI Viktor Bungtilu Laiskodat berbicara dalam FGD "Pariwisata NTT, Identifikasi Potensi dan Rantai Nilai" di Hotel On The Rock-Kupang, Jumat (15/9) pagi.

Ketua Fraksi Partai NasDem DPR-RI Viktor Bungtilu Laiskodat berbicara dalam FGD “Pariwisata NTT, Identifikasi Potensi dan Rantai Nilai” di Hotel On The Rock-Kupang, Jumat (15/9) pagi.

 

 

Polce Siga

Pariwisata NTT menyimpan potensi yang luar biasa bagus namun belum maksimal digarap untuk kemajuan daerah. Padahal, sektor pariwisata merupakan kekuatan ekonomi yang sangat patut dijadikan sebagai lokomotif pembangunan di NTT.

Demikian pandangan Ketua Fraksi Partai NasDem DPR-RI Viktor Bungtilu Laiskodat pada Focus Group Discussion (FGD) “Pariwisata NTT, Identifikasi Potensi dan Rantai Nilai” di Hotel On The Rock-Kupang, Jumat (15/9). FGD ini dilaksanakan Tim Riset NTT dari Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga yang diprakarsai Prof Daniel Kameo.

Viktor mengatakan, sebenarnya ide untuk menjadikan sektor pariwisata sebagai lokomotif pembangunan ekonomi NTT sudah ia samaikan sejak 2002 silam. “Statement saya pada tahun 2002 itu bahwa NTT harus mengubah desain pembangunan ekonominya. Saya sarankan saat itu agar lokomotif pembangunan ekonomi NTT adalah pariwisata. Cuma saya yang sampaikan saat itu saya yang cuma sekolahnya pas-pasan, sehingga pikiran itu tidak menggugah orang untuk melihat bahwa pariwisata memang merupakan kekuatan ekonomi kita di NTT,” tegas Viktor.

Namun, apa disampaikannya saat kini sudah terbukti. Apalagi dengan penelitian ilmiah oleh tim dari UKSW yang dipimpin Prof Daniel Kameo.

“Saya ingin membuktikan apa yang saya sampaikan tahun 2002, itu dapat dibuktikan secara ilmiah. Kalau kita ingin membangun NTT dari sektor pariwisata, bukan berarti lain seperti pertanian, perikanan, perkebunan, peternakan dan lainnya tidak penting. Tapi, kalau sebuah daerah yang diputuskan bahwa daerah itu jadi daerah pariwisata maka pariwisata harus didesain jadi leading sektor,” tegasnya.

Menurutnya, pembangunan pariwisata juga membutuhkan campur tangan dari pihak luar agar bisa berkembang dengan baik. “(Jika kita maksimalkan potensi pariwisata ini dengan desain yang luar biasa) Saya pastikan dalam tempo 25 tahun NTT sudah bertumbuh luar biasa. Itu terjadi jika seluruh stakeholder pembangunan NTT punya mimpi, punya kesadaran, tekad yang sama. Kalau itu tidak ada menurut saya itu tidak akan terlaksana,” ujarnya.

Para pemimpin di NTT, termasuk para kepala daerah, tegasnya, perlu “dicuci otaknya” agar bisa mendesain pembangunan pariwisata secara cerdas, kreatif dan inovatif untuk memajukan industri pariwisata di NTT.

“Saya selalu ibaratkan pariwisata NTT itu seperti seorang gadis yang rambutnya panjang, tingginya 170 cm, hidung mancung, wajah oval dan bentuk-bentuk yang lain sempurna, tapi jarang mandi, jarang sikat gigi, jarang shampo rambutnya, dan di situ yang ganggu dia hanya ketua RT. Tapi setelah diajak ke Jakarta dia mandi bersih, lulur sebulan sekali selama dua tahun, waktu pulang dia turun di (Bandara) El Tari, lalu begitu dia jalan keluar, ada
Gubenur NTT sempat melirik dan berkata ‘Uh.. luar biasa’. Nah, itulah pariwisata. Kemampuan kita untuk memanage itulah yang membuat orang melihat, oh siapa itu!” ujarnya.

Dia optimistis, dengan desain pembangunan pariwisata yang tepat, NTT bisa mengatasi kemiskinan masyarakatnya. “Dengan dan melalui pariwisata kita tinggalkan kesan buruk bahwa NTT adalah kumpulan manusia-manusia miskin, tidak cerdas. Kita mampu untuk menghalau itu dengan sebuah gerakan industri pariwisata NTT,” pungkas Viktor.
Sumbangkan untuk NTT
Sementara itu, Tim Riset NTT dari UKSW Salatiga Prof Daniel Kameo mengatakan, observasi yang dilakukan mencakup wilayah Sumba, Timor, Rote Ndao, Sabu Raijua, Alor, Flores dan Lembata. Responden yang terlibat adalah semua pelaku pariwisata.

Dia mengatakan, hasil penelitian sudah dirangkumkan dalam data, baik gambar, audio visual, video yang disumbangkan untuk pembangunan industri pariwisata di NTT. Menurutnya, hasil riset dilakukan dengan kajian ilmiah dan diharapkan bisa menjadi dasar pijakan pembangun ekonomi pariwisata NTT.

“Ini kita ada data semua untuk menunjukkan itu. Hasil penelitian ini menjadi dasar menata grand desain pengembangan sektor pariwisata atau pembangunan ekonomi NTT. Kita sumbangkan kepada NTT, pada komunitas pelaku pariwisata di NTT,” ujar Prof Daniel.

Dia mengatakan, potensi pariwisata di NTT lebih dominan jika dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia. Menurutnya, sesuai data BPS, potensi pariwisata bisa menyumbang perekonomian makro di NTT.

“NTT ini dekat dengan Australia. Kedekatan geografis kita manfaatkan untuk pengembangan pariwisata. Apalagi australia rangking tujuh di dunia. Ini menguntungkan kita,” katanya.

Daniel menuturkan, NTT sebenarnya tidak miskin, jika sektor pariwisata dikelola dengan baik. Pariwisata bisa menjadi lokomotif pembangunan ekonomi ke depan. “Pariwisata sesuai hasil kajian bisa menjadi lokomotif pembangunan di NTT. Kita punya dasar penelitian dan dasar akademik yang memadai,” ujarnya.

 

Paradoks
Pada bagian lain, Daniel mengatakan, ada kondisi paradoks di NTT. Data BPS menempatkan NTT sebagai daerah termiskin ketiga di Indonesia, tapi di sisi lain, NTT kaya akan sumber alam seperti pertanian, kelautan, perikanan, peternakan dan objek wisata.

Pariwisata dalam rantai nilai dan efek multiganda (mulruplier effect).

“Sektor pariwisata dapat menjadi mesin penggerak atau lokomotif untuk menarik gerbong sektor lainnya seperti pertanian, peternakan, perikanan sektor jasa-jasa dan lainnya. Untuk itu, kita perlu kajian mendalam dan deskripsi yang jelas terkait kondisi saat ini dan potensi pengembangan sektor pariwisata, serta keterkaitan dengan sektor-sektor ekonomi lainnya, baik keterkaitan ke belakang (backward linkages), ke depan (forward linkages) maupun keterkaitan secara horizontal (horizontal linkages),” ungkap Daniel.

Sementara itu, peserta dari HPI Ende, Ferdy Ware mengatakan, membangun pariwisata tidak bisa jalan sendiri-sendiri, namun harus bermitra. “Semua dengan perannya masing-masing dan perlu peran dan dukungan pemerintah. Mau hidup dari mana tanpa dukungan dari pemerintah,” ujarnya.

Peserta lainnya, Marcelina menambahkan bahwa peningkatan ekonomi tentunya melibatkan semua pihak. Dia menyarankan perlunya analisa SWOT (strength/kekuatan, weakness/kelemahan, opportunity/peluang, dan threat/ancaman) untuk penyusunan grand design pembangunan pariwisata NTT.

Pelaku pariwisata lainnya, Jacki Uly menambahkan, untuk membangun pariwisata NTT juga tentunya butuh kemauan baik dari pemimpin. Sebab, pariwisata sesungguhnya sudah ada sejak zaman Belanda.

“Perlu ada political will (keinginan politik) dan good will (niat baik untuk NTT. Untuk mendukung pariwisata tidak terlepas dari politik anggaran,” katanya.