Pengepul Biang Keladi Penyebaran Virus ASF

berbagi di:
20200311_161137

 

 
Rafael L. Pura

Pengepul daging babi disebut sebagai orang yang paling bertanggung jawab atas penyebaran virus African swine fever (ASF). Melalui tangan merekalah virus demam babi Afrika ini menyebar luas dan menyebabkan kerugian ekonomi-sosial.

Aparat pemerintah di semua tingkatan diminta menindak tegas para pengepul. Pemerintah juga diminta segera mengambil langkah konkret meminimalisir meluasnya wabah ini.

Hal ini terungkap dalam diskusi di kantor IRGSC Kupang, Rabu (11/3). Diskusi yang digagas IRGSC itu menghadirkan pembicara dari kalangan akademisi, Johanis Lay (Undana), dua dokter hewan dari Undana, drh Petrus Manu Bulu dan drh Nino Klau, serta dari IRGSC, Dr Elcid Li.

Dosen Fakultas Peternakan, Johanis Lay menyebut pihak yang paling berperan dalam penyeabaran virus ini adalah para pengepul daging, pemilik modal, dan penjual babi tradisional. Ketiganya ini sebagai mata rantai yang memulai penyebaran virus.

Para pengepul bergerak kelompok ke pengusaha/peternak babi menawar ternak babi dengan harga terendah. “Pada pagi, salah satu dari mereka datang tawar dengan harga terendah, katakan dia menawar Rp 30 ribu. Karena terlalu rendah, peternak menolak. Selang beberap menit, salah satu dari mereka datang lagi di peternak yang sama menawar dengan harga di bawah Rp30 ribu, dan seterusnya. Akhirnya peternak menghubungi orang pertama tadi untuk melakukan transaksi,” paparnya.

Para pengepul gelap itu, punya jaringan di mana-di mana dan mengetahui pergerakan harga di pasar. Para pengepul, mengais keuntungan dari wabah ASF ini. Sebab, peternak terpaksa melepas ternak mereka dengan harga sangat rendah. Ia menyarankan pemerintah untuk segera membuat regulasi, melakukan pengawasan dan penyuluhan secara rutin.

Apa yang diungkap Johanis Lay dibenarkan salah satu peternak, Yorgen Nubatonis. Setiap hari, kata Yorgen, para pengepul datang menanyakan babi yang sudah terkena virus dan membelinya dengan harga sangat murah.

“Karena takut babi mati dan tidak dapat apa-apa, akhirnya lepas dengan harga sangat murah,” katanya.

Dokter Hewan, Petrus Manu Buli menjelaskan, pegerakan pasar memainkan peran sangat penting dalam penyebaran virus ini. Meski tidak menular ke manusia, namun manusia berkontribusi besar dalam penyebarannya. Penyebaran virus ini bisa melalui pakaian, sepatu.

Dengan demikian, virus berkembang secara masif seiring mobilisasi manusia dari satu tempat ke tempat lainnya. Virus ini juga menyebar lewat kutu caplak dan belum ada vaksinnya.

Baik Johanis Lay maupun Petrus Manu, keduanya mengatakan, babi yang mati terkena virus ASF harus dikubur atau dibakar di sekitar kandangnya. Jika dibawa ke luar, maka berpotensi terjadi penyebaran virus.

drh Nino Klau mengatakan, pemerintah harus mempunyai terobosan untuk menampung bangkai babi ASF sekaligus menyiapkan lahan untuk dikubur atau dibakar. Sebab, masyarakat yang sudah merasa rugi, terkuras tenaganya untuk mengubur dan atau membakar bangkai babinya. Akhirnya bangkai babi dibuang di hutan dan virus pun terus menyebar.

Sedangkan Elcid Li menambahkan, NTT adalah provinsi dengan populasi babi terbesar di Indonesia, namun lemah dalam pengawasan dan antisipasi virus. Untuk itu, ia menyarankan harus ada laboratorium di NTT. “Adalah sebuah ironi ketika NTT memiliki populasi babi paling besar di Indonesia tapi tidak memiliki laboratorium dan harus bawa sampel ke Medan,” katanya. (mg-03/R-4)