Penggagas dan Pembangun Patung Sonbai itu Telah Pergi

berbagi di:
screenshot_2019-07-10-20-14-15-76
In memoriam Yapi Yapola
Foto-foto dokumentasi keluarga Yapola.
Jumal Hauteas
Usianya masih belia saat harus menerima tanggung jawab sebagai tulang punggung keluarga, karena ayahnya meninggal saat ia masih remaja.
Putra tertua dari 14 bersaudara ini harus rela mengakhiri pendidikannya yang baru setengah jalan pada tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) saat itu.
Berkat kerja keras dan disiplin yang dimilikinya membuatnya menjadi pribadi yang mampu beradaptasi dengan semua tingkatan sosial masyarakat, bahkan menginisiasi dan membiayai pembangunan Patung Sonbai yang berdiri tegak hingga kini di Jalan Urip Sumoharjo, Kelurahan Bonipoi, Kecamatan Kota Lama, Kota Kupang.
Itulah sosok Yapi Yapola, ayah tiga anak dan empat cucu yang telah mengakhiri pengembaraan hidupnya di dunia ini pada Kamis (27/6) lalu setelah menderita cacar ular beberapa waktu terakhir dan menghembuskan nafas terakhirnya di Jakarta, di usia 72 tahun, enam bulan dan lima hari, sebagaimana dituturkan istrinya, Susi Wong, Grace Yapola, Ester Yapola, dan Adi Yapola kepada VN, di Hotel Sotis Kupang, Rabu (3/7).
img_20190710_210431
Pria keturunan Tionghoa ini lahir di SoE, 22 Januari 1946 dan memiliki nama Tionghoa Yap I Tjao. Yapi merupakan anak ketiga dan putra sulung dari pasangan Tjap Ju Hok (alm) dan Sia Kimoe (Almh). Sempat menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar nya di SoE tahun 1952, dan melanjutkan pendidikan ke sekolah Tionghoa setingkat SMP saat ini.
Setelah mengalami pasang surut kehidupan, dengan membangun usaha beberapa kali di Kota Kupang dan SoE, Yapi kemudian mulai menemukan jalur usaha yang memiliki omset besar, sehingga menetap di Kupang dengan usaha perdagangan di Jalan Siliwangi. Usaha tersebut kemudian berkembang dan membawa Yapi berkelana ke sejumlah daerah di Indonesia dan sejumlah negara lain, dengan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan kota yang lebih baik dibandingkan dengan Kota Kupang saat itu. Meski belum genap 30 tahun, Yapi yang memiliki jiwa sosial dan kemampuan berkomunikasi lintas generasi dan kelompok sosial ini, kemudian menggagas dan membiayai pembangunan monumen/patung Sonbai dengan semangat untuk mengenang jasa para pahlawan daerah, serta memberikan warna/icon bagi Kota Kupang, sebagaimana yang dilihatnya di sejumlah daerah yang pernah dikunjunginya.
img_20190710_210357
Alhasil komunikasi yang dibangun Yapi dengan Gubernur (Saat itu Kepala Daerah Tingkat I) NTT, El Tari saat itu pun bersambut, sehingga proses pembangunan patung pertama di Kota Kupang pun mulai dibangun dan diresmikan Gubernur El Tari pada 31 Juli 1976, dan nama Yapi Yapola sebagai penggagas dan yang membiayai pembangunan monumen/patung Sonbai ikut tertulis pada prasasti yang ditandatangani Gubernur El Tari saat itu. Sayangnya beberapa tahun lalu, prasasti tersebut dipugar dan nama Yapi Yapola dihapus.
“Bapak itu orang yang sangat disiplin, sejak masih muda bahkan sampai usia tuanya, dan mengalami sakit struk sebelah selama 13 tahun. Jadi semua yang dilakukannya terjadwal dengan baik, dan menjadi teladan bagi kami anak-anak. Karena walau sudah sakit, bapak selalu tertib dengan semua aktivitasnya, bahkan melakukan terapi sendiri, dan tidak pernah mengeluh atau mau membebani orang lain, termasuk kami anak-anak,” jelas putri sulungnya, Grace Yapola.
Menurut Grace, ayahnya juga merupakan sosok yang tidak hanya berjiwa sosial tinggi, namun juga sangat sayang dengan keluarga dan juga NTT. Karena itu, kemanapun ayahnya pergi, pasti akan selalu membawa foto keluarganya yang selalu berada di dalam tas kerjanya, sehingga saat menginap di hotel untuk bekerja, bingkai foto keluarga tersebut selalu dikeluarkan dan diletakkan di meja tempat ayahnya bekerja. Bahkan karena kecintaannya kepada keluarganya, saat kembali dari kunjungannya keluar daerah, makanan dan souvenir yang dibawa pulangnya bisa memenuhi dua koper.
“Kakak saya ini sampai alergi cokelat hitam karena waktu kecil terlalu banyak makan cokelat yang Bapak bawa dari luar Kupang maupun luar negeri. Bapak juga sangat cinta NTT, jadi waktu sakit dan di Jakarta, kalau ada acara di televisi yang menyiarkan dari NTT, Bapak pasti tidak akan beranjak dari tempat duduk, dan akan selalu mengangkat jempolnya,” jelas ketiga anaknya, Grace Yapola,  Adi Yapola dan Meri Yapola.
Putra tunggalnya, Adi Yapola menambahkan, walau sangat disiplin dan tegas, Yapi menjalani kehidupan keluarga yang agak berbeda dengan keluarga pada umumnya saat itu dan juga saat ini yang kerap merotani anak-anaknya saat dinilai melakukan aktivitas yang tidak sesuai atau sudah dilarang dalam keluarga. Karena Yapi lebih memilih untuk memberikan nasehat dan mencontohkan tokoh-tokoh besar dan pemimpin-pemimpin dunia kepada anak-anaknya, sehingga tidak pernah sekalipun merotani atau memukul anak-anaknya.
“Waktu SMP saya juga sempat bergaul dengan kawan-kawan sehingga pakai anting-anting. Tetapi Bapak tidak pukul saya, dan hanya bilang kepada saya untuk melihat para presiden, atau pengusaha sukses yang tampil di televisi dengan pesan suatu saat saya akan berada di tengah orang-orang sukses tersebut, sehingga memakai anting-anting adalah bukan pilihan yang baik,” jelasnya.
Adi menambahkan, sebagai seorang ayah, Yapi Yapola sangat perhatian dengan keluarganya. Bahkan ayahnya rela untuk bermain bersamanya, termasuk dengan mengadu ketangkasan bertinju.
“Pengalaman saya paling unik dan sempat mengecewakan saya adalah saat menerima angpao yang isinya hanya secarik kertas merah bertuliskan kata ‘Disiplin!!!’ dengan catatan di luar kado nya dilupakan jangan, tetapi diingat dan dilaksanakan. Saat buka saya kecewa, tetapi setelah dewasa saya mengerti pesan itu sangat besar nilainya,” urai Adi yang mengaku angpao itu diterimanya saat ayahnya merayakan ulang tahun ke-46.
Hal lain yang menjadi kenangan bagi keluarga dari almarhum Yapi Yapola adalah kemandirian, karena walaupun menderita struk sejak 13 tahun lalu, almarhum Yapi Yapola tidak pernah membebani istri, anak-anak, menantu hingga empat cucunya untuk mengurus semua kebutuhannya. Karena semua aktivitasnya, baik makan hingga mandi tetap dilakukannya sendiri. Bahkan untuk melakukan hal tersebut, almarhum Yapi Yapola harus melatih tangan kirinya untuk bisa digunakan beraktivitas setelah bagian tubuh kanannya mengalami struk.
“Bapak 13 tahun struk, tetapi tidak pernah mau untuk dikasih makan atau dikasih mandi. Semuanya Bapak lakukan sendiri dan sangat tertib jam makannya. Bahkan kalau malam, Bapak juga menghidupkan lampu sendiri, sehingga kami benar-benar bangga dengan Bapak,” tandas Grace Yapola yang dibenarkan kedua adiknya dan ibunya.