Penggunaan Dana Refocusing Tunggu Pergub

berbagi di:
drg Mindo Sinaga Direktur RSUD WZ Johannes Kupang
drg Mindo Sinaga
Direktur RSUD WZ Johannes Kupang

 

Stef Kosat

PEMANFAATAN sisa dana hasil refocusing dan realokasi APBD untuk penanggulangan Covid-19 masih menunggu terbitnya Peraturan Gubernur NTT. Dinas Kesehatan yang sebelumnya mengelola Rp300 miliar, sejauh ini belum mengetahui berapa yang dikelola kembali di era new normal.

Sekretaris Dinkes NTT David Mandala di ruang kerjanya, mengatakan, dinas tersebut belum mendapat gambaran jelas pengembalian dana refocusing berapa. Karena sebelum Covid-19, Dinkes NTT mengelola anggaran sebesar Rp300 miliar.

“Saat ini kepala seksi perencanaan masih berproses di bidang anggaran di BKD, karena masih sangat dinamis sekali. Selain itu, peraturan gubenur yang ke-4 juga belum keluar sehingga belum diketahui berapa sisa anggaran bagi Dinkes nantinya,” ujarnya.

Tetapi, lanjut dia, anggaran hasil refocusing APBD masih untuk prioritas penanganan covid-19, selain program yang sudah direncanakan pada TA 2020.

“Jadi setelah Pergub 4 keluar, baru akan diketahui berapa sisa anggaran yang diperuntukan bagi Dinkes, karena sebelum korona Dinas mengelola anggaran sebanyak Rp300 miliar, tetapi belum diketahui berapa nanti karena masih dibahas,” pungkas David.

RSUD Beli Genset
Direktur RSUD WZ Johannes Kupang, drg Mindo Sinaga saat ditemui VN di ruang kerjanya, Kamis (30/7), mengatakan, sisa refocusing anggaran yang disediakan bagi RSUD WZ Johannes Kupang sebesar Rp19 miliar lebih digunakan untuk membeli genset, ventilator APD, reagent dan betside monitor.

Lanjut dia, saat ini masih berproses atau pemberkasan akan dikirim ke pihak penyedia dan setelah itu akan dikirim ke Badan Keuangan Daerah untuk ditindaklanjuti.

Dikatakannya, RSUD WZ Johannes telah membeli 70 catridge dengan harga satuan Rp67.200.000. Sehingga anggaran yang dihabiskan untuk 70 catridge mencapai Rp4.704.000.000. Selain itu rumah sakit juga disuplai reagent dari Kemenkes dan Dinkes NTT.

“Karena kebutuhan rumah sakit untuk memeriksa sampel hingga saat ini masih cukup banyak,” jelasnya.
Khusus untuk pengadaan genset, kata dia, sudah disetujui oleh Gubernur NTT.

Dia menambahkan, pengadaan genset listrik juga sangat penting demi menjamin kelangsungan layanan di laboratorium biomolekuler. “Karena kalau ada pemeriksaan swab lalu tiba-tiba listrik padam, maka otomatis hasil pemeriksaan swab sudah terganggu dan rumah sakit sudah pasti rugi karena korban reagent,” jelasnya.

Selain itu, pengadaan genset juga untuk menjamin semua ruangan isolasi, ICU dan IGD. Saat ini pengadaan genset tersebut sedang berproses karena baru dua minggu lalu Gubernur NTT menandatangani revisi terbaru Pergub,” pungkas Mindo. (C-1/ol)