Pengidap AIDS di NTT lebih Tinggi dibandingkan Pengidap HIV

berbagi di:
img-20200915-wa0034

 

Dokter Husein Pancratius

Sekretaris KPAP NTT

 

 

Sinta Tapobali

 

 

JUMLAH pengidap AIDS di NTT mencapai 3.615 lebih tinggi dibandingkan dengan pengidap HIV yakni 3.417. Hal ini menunjukkan bahwa penemuan orang HIV dengan AIDS lebih banyak ditemukan karena statusnya sudah AIDS.

 

Sekretaris KPAP NTT, dr. Husein Pancratius ketika ditemui VN, Rabu (16/9) di Apotik Kimia Farma Depan Gereja Paulus Kota Kupang, mengataka bahwa, HIV adalah virus yang dapat menyerang sistem kekebalan tubuh manusia sementara itu AIDS adalah sebuah kondisi penurunam daya tahan tubuh akibat adanya infeksi oportunistik yang dialami pasien terinveksi HIV.

 

Menurutnya, orang dengan HIV adalah orang yang sudah terkena virus HIV sedangkan orang dengan AIDS merupakan orang-orang yang telah mengalami penurunan sistem kekebalan tubuh akibat adanya virus HIV dalam tubuh.

 

“HIV dan AIDS ini bukan kedua hal yang berbeda, tapi satu hal yang sama, di mana satu menyatakan virus ada di dalam tubuh dan satunya menyatakan virus itu sudah menurunkan kekebalan tubuh dan jika kekebalan tubuh turun maka di situlah seseorang menunjukan gejala AIDS,” paparnya menjelaskan.

 

Kendati demikian, orang dengan HIV tidak serta merta langsung mengidap AIDS, tetapi memerlukan waktu 5 sampai 10 tahun baru muncul gejala AIDS, apabila tidak ditangani dengan segera.

 

Seorang pengidap HIV juga, belum tentu mengidap AIDS apabila ia rutin mengonsumsi obat obatan antiretroviral (ARV) untuk mencegah kondisi AIDS bagi orang-orang yang telah mengidap virus HIV.

 

Dengan demikian orang-orang yang positif HIV lalu mengonsumsi ARV secara rutin maka ia dapat menjalani hidup yang nyaris seperti orang normal serta memiliki harapan hidup yang lebih panjang.

 

Walau begitu penting diketahui dan diingat bahwa ARV tidak dapat menyembuhkan infeksi HIV, obat ini hanya menekan jumlah virus dalam tubuh seseorang, sehingga orang yang positif HIV harus mengonsumsi obat tersebut seumur hidupnya.

 

Lanjut dr. Husein, Penularan virus HIV dapat terjadi karena transfusi darah dari orang yang positif HIV, berbagi jarum suntik bagi pengguna narkoba suntik, berhubungan seks terutama tanpa kondom, dan dari ibu yang positif HIV ke anak saat kehamilan persalinan dan menyusui. Namun apabila Ibu yang positif HIV rutin mengkonsumsi obat ARV maka dapat menurunkan risiko penularan terhadap bayinya.

 

Secara komulatif sejak tahun 1997-April 2020, sudah sebanyak 1392 pengidap HIV dan AIDS di NTT yang meninggal dunia. Jumlah ini tersebar di kota Kupang sebanyak 68 orang, Kabupaten Kupang sebanyak 12 orang, Kabupaten Timor Tengah Selatan sebanyak 115 orang, Kabupaten Timor Tengah Utara sebanyak 100 orang, Kabupaten Belu sebanyak 249 orang, Kabupaten Malaka sebanyak 17 orang, Kabupaten Alor 36 orang, Kabupaten Lembata 80 orang, Kabupaten Flores Timur 125 orang, Kabupaten Sikka 185 orang, Kabupaten Ende 112 orang Nagekeo 25 orang.

 

Dilanjutkan Kabupaten Ngada 59 orang, Manggarai Timur 23 orang, Manggarai 42 orang, Manggarai Barat 3 orang, Sumba Timur 30 orang, Sumba Tengah 4 orang, Sumba Barat 16 orang, Sumba Barat Daya 89 orang Rote Ndao 2 orang.

 

Seorang pengidap HIV dan AIDS tidak akan menularkan kepada orang lain terutama kepada keluarga, istri, suami atau anak, apabila si pengidap secara rutin mengonsumsi obat ARV untuk menekan jumlah virus dalam tubuh.

 

Dia juga mengimbau kepada semua lapisan masyarakat untuk tidak malu memeriksakan diri untuk mengetahui bawah apakah dia mengidap virus HIV atau tidak. Apabila dari hasil pemeriksaan dinyatakan bahwa orang tersebut mengidap virus HIV, maka sesegera mungkin dapat mengonsumsi obat ARV karena pemberian ARV sejak awal dapat menurunkan resiko penularan HIV. (Yan/ol)