Pengrajin Minta Pemerintah Siapkan Tempat Pemasaran Patung Komodo

berbagi di:
img-20210324-wa0015

 

Pengrajin Patung Komodo di Pulau Komodo saat memahat Patung Komodo.

 

 

 
Gerasimos Satria

 

 

PENGRAJIN Patung Komodo di Pulau Komodo, Desa Komodo, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) meminta pemerintah untuk menyediakan tempat khusus untuk pemasaran patung komodo di Labuan Bajo, Ibu Kota Kabupaten Manggarai Barat. Pasalnya selama ini, pengrajin Patung Komodo kesulitan akses pasar patung komodo hasil kerajinan masyarakat setempat.

Pengrajin Patung Komodo di Pulau Komodo,Fauzih kepada media ini,Rabu (24/3) menuturkan, yang menjadi kendala pengrajin patung Komodo di Pulau Komodo adalah pemasaran hasil produk.Dimana selama ini tempat pemasaran patung Komodo hanya satu tempat,yakni di pintu masuk Loh Liang,Pulau Komodo,Taman Nasional Komodo (TNK).

Dia menuturkan, dirinya menjadi pengrajin patung Komodo sejak tahun 2006 lalu. Menjadi Pengrajin Patung Komodo satu-satunya cara dirinya bersama masyarakat di Pulau Komodo lainnya sebagai sumber pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup.

“Kita sangat mengharapkan bantuan pemerintah pusat dan pemerintah daerah Manggarai Barat untuk menyiapkan tempat di Labuan Bajo untuk menjual patung komodo hasil kerajinan masyarakat di Pulau Komodo.Kami kesulitan tempat pemasaran patung Komodo,”harap Fauzih.

Fauzih menambahkan, selama masa pandemi Covid-19 awal tahun 2020 lalu pendapatan pengrajin patung Komodo turun dratis. Dimana pendapatan sebelum Covid-19 sebesar Rp3 juta setiap bulan sedangkan masa pandemi Covid-19 pendapatan hanya mencapai Rp800 ribu setiap bulan.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga dan biaya pendidikan anak-anak, kata Fauziah, para pengrajin di Pulau Komodo selama masa pandemi rata-rata kembali bergelut menjadi nelayan. Biaya hidup yang cukup besar untuk membeli air bersih dan membayar listrik membuat pengrajin terus bekerja keras menangkap ikan.

“Selama pandemi Covid-19 hanya 1 patung Komodo yang terjual setiap bulan. Pendapatan kita hanya Rp800 ribu setiap bulan.Kita berharap masa pandemi Covid-19 cepat berlalu,” tutur Fauzih.

Pengrajin Patung Komodo di Pulau Komodo, Saeh menuturkan, selain kesulitan tempat pemasaran patung Komodo pihaknya mengalami kesulitan mendapatkan bahan baku untuk membuat patung komodo. Semenjak adanya kebijakan pembagian zonasi di kawasan TNK,pengrajin Patung Komodo dilarang untuk memotong kayu dalam kawasan TNK.

Dia berharap, pemerintah menyiapkan tempat pemasaran patung Komodo di Labuan Bajo sebagai pintu masuk bagi wisatawan yang ingin berkunjung ke destinasi wisata di Kabupaten Manggarai Barat.Pasalnya,selama ini hanya Loh Liang,Pulau Komodo sebagai tempat satu-satunya untuk pemasaran patung Komodo.

“Patung Komodo yang dihasilkan hanya dijual di Loh Liang.Kita ingin ada tempat untuk menjual patung Komodo hasil kerajinan masyarakat Pulau Komodo di Labuan Bajo,”harap Saeh. (Yan/ol)