Peningkatan Status Selat Pantar Berdampak Positif

berbagi di:
(kiri-kanan) Kadis KP Alor, Rahmin Amahala, Kadis KP Provinsi NTT, Ganef Wurgyanto, Kasubdit Penataan Kawasan Konservasi, Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Amehr Hakim, dan Project Executant WWF-Indonesia Lesser Sunda Program, Muhammad Erd iLazuardi pose bersama usai lokakarya di Kupang, kemarin. Foto: Dian Rihi Ga/VN

(kiri-kanan) Kadis KP Alor, Rahmin Amahala, Kadis KP Provinsi NTT, Ganef Wurgyanto, Kasubdit Penataan Kawasan Konservasi, Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Amehr Hakim, dan Project Executant WWF-Indonesia Lesser Sunda Program, Muhammad Erd iLazuardi pose bersama usai lokakarya di Kupang, kemarin. Foto: Dian Rihi Ga/VN

 

Dian Rihi Ga

Peningkatan status Kawasan Konservasi Perairan Daerah (KKPD) Selat Pantar Alor menjadi Suaka Alam Perairan (SAP) oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) berdampak positif bagi kehidupan ekonomi masyarakat stempat.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (KP) Kabupaten Alor, Rahmin Amahala kepada VN, di Kupang, Rabu (27/2) menyampaikan bahwa untuk memperjuangkan status KKPD Selat Pantar Alor memang memakan waktu yang cukup lama terhitung sejak 2007 atau delapan tahun karena perjuangan panjang Pemkab Alor dan World Wide Fund (WWF) ini baru terjawab pada tahun 2015.

“Perjuangan kami sangat panjang dan baru terjawab tahun 2015. Selat Pantar Alor resmi beralih status menjadi SAP setelah KKP menerbitkan Kepmen KP No. 35 tentang KKP Selat Pantar dan sekitarnya. Dalam kepmen itu menyebutkan bahwa KKP yang ada di kelola sebagai SAP dan menunjuk Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTT menjadi mengelola SAP tersebut,” ucapnya.

Sejak peningkatan status tersebut dilakukan, dampak positif bagi perekonomian masyarakat sekitar mulai terasa. Masyarakat setempat memanfaatkan pesisir pantai yang ada untuk menjajakan makanan tradisional dan kerajinan-kerajinan khas Alor. Masyarakat juga lebih paham akan pentingnya sumber daya alam kelautan yang ada.

“Mereka lebih tahu bagaimana cara menangkap ikan dengan cara yang baik dan ramah lingkungan, sehingga tidak merusak ekosistem bawah laut,” tambahnya.

Sementara Project Executant WWF-Indonesia Lesser Sunda Program, Muhammad Erd iLazuardi mengatakan berdasarkan pemantauan WWF di Alor untuk terumbu karang dan perikanan secara umum stabil.

Ia berharap agar hal-hal positif tersebut terus dijaga. “Dari sisi pemanfaatan kita lihat bahwa sudah cukup baik dan konsisten,” ungkapnya.

Selain itu, lanjutnya, WWF juga mendorong kearifan lokal yang ada di Alor untuk bersinergi dengan pengembangan SAP.

“Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa Universitas Tribuana Alor menunjukkan bahwa ada peningkatan penghasilan masyarakat dari sektor perikanan, namun diharapkan potensi wisata yang ada tetap dijaga keasliannya untuk menarik minat kunjungan wisatawan,” terangnya.

Salah satu tantangan yang terjadi juga di Alor menurutnya yaitu masih adanya aktivitas pengoboman ikan. Ia berharap agar ke depa pemerintah dapat mengambil langkah-langkah pencegahan agar hal ini tidak terus terjadi.
Kasubdit Penataan Kawasan Konservasi, Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut KKP, Amehr Hakim mengatakan bahwa untuk SAP Selat Pantar Alor saat ini hanya memerlukan road map yang nantinya memuat terkait pengelolaan SAP secara baik dan benar. “Walaupun sudah ditetapkan oleh KKP namun SAP Selat Pantar Alor harus tetap dikelola dengan baik dan benar sehingga berguna bagi pemeliharaan SAP yang ada,” tutupnya (mg-05/E-1)