Percepatan Distribusi, Upaya Pemprov NTT Atasi Kelangkaan Pupuk Subsidi

berbagi di:
img-20210218-wa0038

Lucky F Koli
Kadis Pertanian Provinsi NTT

Yosi Kameo

KELANGKAAN pupuk bersudsidi telah menjadi masalah tahunan di NTT. Distribusi, alokasi, dan pengelolaah e-RDKK masih tetap jadi kendala utamanya.

Dari tiga jenis pupuk subsidi, yakni pupuk Urea, ZA dan NPK, kelangkaan pupuk bersubsidi terjadi pada jenis pupuk NPK.

“ Urea, ZA, tidak ada kendala. Masalah itu di NPK” Kata Kadis
Pertanian dan Ketahanan Pangan NTT Lucky F. Koli kepada VN, Kamis (18/2).

Lucky mengungkapkan bahwa stok pupuk bersubsidi selalu tersedia.

“NPK itu kalau kita lihat
dari stok kita di gudang-gudang produsen itu ada 5159,95 ton. Yang keluar januari 2798,20
ton,” Ungkapnya.

Kertersediaan stok selalu ada. Namun Lucky mengatakan bahwa proses distribusi sering
menimbulkan kelangkaan pupuk pada petani di banyak daerah. Prosesnya sering ditunda dan
diperlambat.

“Tetapi di beberapa tempat, seperti di Belu. Itu NPK sampai kemarin sore baru masuk. Karena
mobil yang bawa pupuk rusak di jalan. Kalau sudah masuk kemarin ini pagi dia sudah bisa
distribusi ke TTU dan Malaka, termasuk Belu. Sedangkan di Flores. Itu penyaluran di Nagekeo
misalnya itu hari ini penyaluran dari Ende. Gudang Ende menuju ke Nagekeo. Sedangkan di
Sumba, itu dalam perjalanan dan akan tiba tanggal 20 dan 21,” Jelasnya.

Keterlambatan distribusi juga tidak lepas dari peran distributor. Hal ini diakui Lucky sudah
menjadi masalah yang terjadi setiap tahun dan tidak kunjung beres.

Dia mengeluhkan sikap distributor yang kurang tanggap dalam mendistribusikan pupuk ke  NTT yang mengakibatkan banyak pengecer mengundurkan diri.

“Memang, keterlambatan pupuk NPK oleh PT Petrokmia itu terjadi setiap tahun. Petrokimia
ini, dia setiap tahun terjadi keterlambatan yang menyebabkan banyak pengecer mengundurkan
diri karena tidak tepat waktu. Oleh karena petani tiap kali butuh pupuk, pupuk tidak ada. Jadi
dia (pengecer) dapat keluhan dari petani, mending dia berhenti.”Jelasnya

Masalah lain yang memperlambat distribusi, tambah Lucky, adalah masalah alokasi.

Seringkali, alokasi yang ada tidak sesuai dengan kebutuhan di lapangan sehingga menimbulkan
realokasi.

Proses realokasi tersebut bertujuan untuk menyediakan stok bagi petani yang terdaftar di
elektronik-Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (e-RDKK).

“Alokasi pupuk subsidi kabupaten dengan kuota yang diperoleh untuk dibagikan perbulan
kadang-kadang tidak sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Akibatnya itu membutuhkan
realokasi lagi. Proses realokasi untuk bisa ada stok di e-RDKK. Jadi walaupun di pengecer ada (pupuk), tapi kalau kuota bulan yang bersangkutan habis, itu tidak bisa dikeluarkan. Nah
ini dinas kabupaten mesti merevisi dulu itu kuota supaya bisa tersedia lagi stok, baru si pengecer
bisa melayani kebutuhan petani. Nah ini juga menjadi penyebab keterlambatan penyaluran
pupuk.” Jelasnya.

Selain masalah distribusi, penyebab kelangkaan pupuk bersubsidi di kalangan petani di NTT
adalah masalah pendaftaran e-RDKK.

Ada banyak petani yang tidak masuk dalam e-RDKK. Penyebabnya sangat beragam. Mulai dari
masalah administrasi hingga masalah ketidaksiapan penyuluh di lapangan.

Akibatnya, petani yang membutuhkan pupuk bersubsidi tidak bisa dilayani karena tidak
terdaftar dalam e-RDKK.

“Kadang-kadang ada petani yang tidak masuk e-RDKK. Oleh karena masalah administrasi,
masalah ketidaksiapan teman-teman di lapangan. Akibatnya kalau saat menginput tidak
diikutkan di dalam e-RDKK. Saat mereka butuh pupuk subsidi tidak bisa dilayani. Yang
berhak mendapatkan pupuk subsidi adalah nama-nama yang ada di e-RDKK. Ini juga menjadi
faktor tidak bisa mendapatkan pelayanan pupuk subsidi.” Kata Lucky

Lucky mengungkapkan bahwa faktor distribusi, alokasi di Kabupaten, dan dokumen-dokumen
administrasi yang disiapkan petani untuk masuk di e-RDKK merupakan hal utama yang
menyebabkan kelangkaan pupuk di NTT.

Adapun langkah-langkah Pemprov NTT untuk mengatasi kendala itu adalah lewat mendorong
percepatan distribusi, perbaikan sistem pendataan, dan mengakomodir petani-petani yang
mengalami kelangkaan pupuk.

Untuk percepatan distribusi, Lucky mengaku bahwa Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan
NTT telah mengajukan evaluasi kepada pihak distributor. Jika tidak ada perubahan, maka dudah semestinya diganti.

Sedangkan untuk mengakomodir petani yang tidak mendapatkan pupuk subsidi, Lucky
menjelaskan bahwa langkah yang ditempuh pemprov adalah menjamin ketersediaan stok.

“Besok itu, setelah kita koordinasi, mereka semua minta untuk segera stoking pupuk.
Kabupaten segera stok, menyesuaikan e-RDKK, luas tanahnya berapa, misalnya luas tanamnya
100 ha, butuh pupuk 100 ton, dia bisa alokasikan 120-125 ton. Kasih lebih supaya tidak boleh
ada kelangkaan pupuk.” Tandasnya.

Terkait petani yang belum masuk e-RDKK, Lucky menuturkan bahwa pemprov telah
melakukan koordinasi dengan pusat supaya dibuka kembali sistem pendataan.

“ Semua petani yang belum masuk kita lagi konsolidasi data untuk meminta pusat membuka
sistem supaya dimasukkan. Ini ada kesalahan pemasukan dosis pupuk seperti Kupang tengah
itu juga perlu ada perbaikan. Nah ini semua, langkah-langkah ini sudah kita siapkan untuk nanti
minggu depan setelah minggu ini mereka konsolidasi data. Kan musti ada kartu KK segala
macam untuk petani mana yang belum masuk siapkan KK-nya, teman-teman penyuluh siapkan
formatnya. Input-input memang, di offline. Nanti kita koordinasi dengan pusat, minggu depan
kalau dibuka semua sudah bisa diatasi.” Ujarnya. (Yan/ol)