Pertunjukan Lamafa dalam Satu Sistem Kehidupan

berbagi di:

Hiero Bokilia

 

 

Pertunjukan Lamafa yang menceritakan kehidupan nelayan Lamalera memburu ikan paus akan menjadi salah satu pertunjukan yang ditampilkan pada puncak acara deklarasi Saya Baca menuju Lembata Kabupaten Literasi. Lamafa menjadi satu sistem kehidupan yang tidak sekadar untuk kepentingan perut tetapi menjadi habit atau kebiasaan dan bekerja untuk seluruh penduduk.

Demikian dikatakan Sutradara Pertunjukan Lamafa Sartika Dian Nuraini menjawab VN di sela-sela latihan di Kuma Resort, Rabu (9/8).

Dian mengatakan, ia dipercayakan mengutus pertunjukkan dan menjadi sutradara dalam pertunjukan Lamafa. Diakuinya, persiapan sejak hari pertama hingga saat ini berjalan lancar. Anak-anak yang terlibat dalam pertunjukkan begitu semangat, pintar dan mudah beradaptasi dengan konsep dan ide-ide yang ia sampaikan.

Apalagi, lanjutnya, naskahnya dibangun secara kolektif yang dihimpun dari naskah 20 anak yang terlibat dalam pertunjukan. Masing-masing anak membuat tulisan keseharian mereka, baik tentang keluarga, alam, maupun kritik terhadap pendidikan dan pemerintah.

“Saya berlaku sebagai fasilitator yang mengumpulkan narasi-narasi kecil dari masing-masing anak. Tapi karena belum dibekali bahasa yang bagus saya berperan mengedit tulisan mereka sehingga saya berperan sebagai editor naskah dan pengumpul narasi,” jelas Dian.

Ia kemudia mengambil inti dari beberapa naskah yang ada dan dijadikan tulisan sastra yang menarik dan dibagi dalam tiga fragmen. Fragmen pertama meliputi narasi anak-anak Lembata, fragmen kedua berkolaborasi dengan sanggar yang akan menggelar pertunjukan tarian perang dan penyambutan yang memiliki nilai spektakuler yang disusun dalam pertunjukan dramaturgis yang terus naik. Sementara pada fragmen ketiga, akan menampilkan tradisi Lamafa.

Lamafa, urainya, dibayangkan tidak sekadar sebagai pemburu tetapi orang yang bekerja untuk seluruh penduduk. Peran mereka sangat penting dan tidak saja soal urusan perut tetapi sebuah perjuangan demi kelangsungan satu sistem kehidupan.

“Itu yang saya bayangkan dan saya setuju dengan pendapat budayawan yang mengatakan bahwa seekor paus menyerahkan diri dilihat sebagai satu kosmologi dan komunikasi manusia dengan alam yang tidak bisa dilepaskan,” tegasnya.

Ia juga tak sependapat dengan banyak  pihak yang menentang budaya perburuan ikan paus yang dibaca secara geologis dan konservasi tidak bagus tetapi untuk penduduk sangat dibutuhkan dan sudah menjadi habit yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarkat.

Sehingga, ia cenderung setuju dengan pendapat sejumlah budayawan yang mengatakan bahwa Lamafa tidak sekadar berburu tetapi menjalankan amanah yang sudah didelegasikan kepada mereka.

“Saya berharap dapat pertunjukkan ini dengan baik,” kata Dian.

Ditanya krmungkinan tak ditayayangkan Metro TV menyusul rencana pengunduran diri Najwa Shihab, Dian mengatakan bahwa Najwa merupakan orang cerdas dan punya kapasitas menjadi Duta Baca. Soal penayangan di Metro TV bukan merupakan target utama kegiatan tetapi yang ingin dimunculkan adalah literasi menjadi satu gerakan bersama di Lembata sehingga kegiatan ini bisa dirasakan masyarakat Lembata.

Kabag Humas Setda Lembata Erin Ndemu mengatakan,  persiapan pelaksanaan kegiatan Saya Baca melalui Pasar Baca Masyarakat Lembata di Taman Kota Swaolsa Tite, Pusat Kota Lewoleba pada Sabtu, 12 Agustus sudah maksimal dilakukan dan terus berproses.

Pasar Baca Masyarakat Lembata, jelasnya, menurut rencana dihadiri lebih kurang 3.000 orang baik dari kalangan pelajar maupun masyarakat dari semua desa di Lembata.

Ditanya kepastian kehadiran Najwa Shihab, Ndemu mengatakan bahwa dengan telah menghadirkan sutradaranya di Lewoleba maka sudah dipastikan Najwa sebagai Duta Baca akan hadir saat deklarasi Lembata Kabupaten Literasi dan pada malam harinya dilanjutkan dengan talkshow dan seni pertunjukab Lamafa di Kuma Resort. (ol/bev)