Perusahaan ini Tak Punya Pengalaman Kerja tapi Menang Tender

berbagi di:
Ilustrasi Kantor Bupati TTS

 

Megi Fobia

Kejanggalan pelaksanaan proyek landscape kantor Bupati Timor Tengah Selatan (TTS) mulai terungkap. Salah satunya adalah CV Marga Madu Indah (MMI) Surabaya menang tender meski tidak mempunyai pengalaman kerja jalan hotmix.

Demikian informasi yang dihimpun VN di Soe, Kamis (26/7) kemarin. Disebutkan bahwa perusahaan tersebut tak pernah memiliki pengalaman mengerjakan jalan raya (aspal hotmix), namun panitia lelang memenangkan kontraktor tersebut.

Perusahaan tersebut bahkan tidak memiliki AMP (Asphalt Mixing Plant), namun dinyatakan sebagai pemenang tender proyek bernilai kontrak Rp 3,4 miliar itu.
Karena tidak memiliki AMP, kontraktor tersebut harus memesan hotmix dari Lamongan yang secara tidak langsung berpengaruh pada kualitas hotmix karena jarak tempuh yang jauh. Sementara idealnya, jarak angkutan kualitas hotmix semestinya 120 kilometer.

Kasat Reskrim Polres TTS Iptu Jamari yang dikonfirmasi, kemarin, membenarkan bahwa CV MMI tidak memiliki pengalaman kerja jalan hotmix tetapi dimenangkan oleh Pokja. Hal ini menurutnya sudah bertentangan dengan Pasal 19 Perpres Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang dan Jasa.

Ia mengatakan setiap orang yang dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu koorporasi menyalahgunakan kewenangan yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara, dapat dituntut secara pidana.

Jamari mengakui meski sudah ada klarifikasi selama empat hari oleh tim auditor dari BPKP Provinsi dan tim penyidik Tipikor Polres TTS, namun belum bisa dijelaskan soal calon tersangka.

“Rencana pemeriksaan sekitar satu minggu sehingga kita menunggu hasilnya,” ucapnya.

Pada Kamis (26/7) kemarin, pemeriksaan dilakukan terhadap Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) proyek tersebut, yang adalah mantan Kabag Umum Setda TTS Edy Oematan. Dia antara lain ditanyakan soal pemegang kuasa PT MMI Juarin yang berhutang di Toko Mubatar Soe.

“Ada dua orang saksi yang diperiksa kemarin oleh tim auditor dan tim penyidik Polres TTS. Kedua saksi yang diperiksa diantaranya Edy Oematan dan pemilik Toko Mubatar Soe,” jelasnya.

Ketua Araksi kabupaten TTS, Alfred Ba’un meminta agar dalam penanganan kasus tersebut benar-benar menunjukan profesionalisme, baik tim auditor BPKP maupun tim penyidik Tipikor Polres TTS. Sebab, kasus yang sangat merugikan masyarakat TTS ini sudah berusia lima tahun di tangan penyidik, namun belum membuahkan hasil.

Menurutnya, kasus tersebut sudah jelas ada unsur kerugian negara. Oleh karena itu, dengan kehadiran tim auditor dari BPKP Perwakilan NTT, diharapkan ada hasil yang memuaskan, sehingga sekian lama masyarakat TTS menanti hasil pemeriksaan merasa puas dengan kinerja penyidik. (mg-12/D-1)