Pesan Terakhir Simpai Nabas: “Saya Bersama Yesus, Tidak Usah Takut”

berbagi di:
Jenazah disemayamkan di ruangan khusus yang dipersiapkan Garuda di Bandara Soekarno Hatta Jakarta saat tiba dari Hongkong, Rabu (8/8).

Leksi Salukh

 

 

 

“Saya bersama Yesus, tidak usah takut.” Itulah pesan Simpai Nabas kepada keluarganya di sela-sela persiapannya bersama kontingen Kempo NTT yang akan bertolak ke Amerika Serikat kala itu.  Tak disangka, itulah pesan terakhir sekaligus peneguhan Bernabas Balla Ndjurumana atau Simpai Nabas, pelatih senior Kempo NTT kepada keluarganya.

 

Putri Simpai Nabas, Angel Hope kepada VN, menuturkan apa yang disampaikan sang ayah itu menjadi kalimat peneguhan terakhir dari Simpai Nabas untuk keluarga dan masyarakat kempo NTT.

 

Angel mengisahkan, sebelum bersama kontingen Kempo NTT menuju ke AS untuk mengikuti World I Championship Taikai Shorinji Kempo, di San Mateo, California, Amerika Serikat 27 Juli hingga 3 Agustus 2017, Simpai Nabas sempat diminta oleh istri dan anak-anak agar tidak usah ikut karena mereka khawatir akan kondisi kesehatannya. Namun, Simpai Nabas tetap bersikeras ikut mendampingi kontingen NTT karena baginya keberangkatan itu sudah direncanakan secara matang pasca-mengikuti PON 2016 lalu di Bandung-Jawa Barat.

 

“Bapak bilang, saya bersama Tuhan Yesus. Tidak usah takut karena saya mau saksikan langsung anak-anak bertanding. Mendengar itu, keluarga mengizinkan tetapi terlebih dulu periksa kesehatan Bapak,” tuturnya dengan berlinang air mata.
Di awal 2017, Simpai Nabas sempat jatuh sakit dan dirawat akibat terserang penyakit paru-paru. Kondisi kesehatannya makin buruk dengan penyakit gula dan darah tinggi.

 

“Kurang pasti bulan apa, tapi belum lama ini Bapak sakit. Sakit, akibat rutin terapi air putih. Padahal seharusnya tidak boleh, karena sudah tua. Namun dipaksakan akhirnya sakit dan aktivitas rutin terganggu. Begitu pulih Bapak kembali beraktivitas seperti biasa seperti olahraga ringan yakni lari pagi dan sore. Aktivitas rutin lainnya ya melihat anak-anak latihan karena memang itu adalah hobinya sejak dulu,” katanya.

 

Angel mengatakan, selama hidup sang ayah menanamkan nilai kedisiplinan dalam hidup. Tak kalah penting adalah menaati permintaannya. Begitu pun dengan anak-anak didiknya. Waktu untuk bersama keluarga dan atlet bagi almarhum sangat penting.

 

“Antara keluarga dan atlet itu sama-sama penting bagi Bapak. Anak-anak atlet lebih tahu karakter Bapak, karena setiap saat mereka selalu bersama. Bapak tidak bisa melepaskan atlet latihan sendirian,” tuturnya.
Secara tubuh, kata dia, keluarga memang sangat kehilangan. Namun, jiwa dan semangat dari ayahnya tetap hidup bersama keluarga.

 

 

Sosok Pelindung
Kakak kandung almarhum Rambu Oni Ndai Praing dalam kesempatan sama mengisahkan, almarhum adalah sosok pelindung dan pengayom. Ia sangat dihargai keluarga besar karena sikapnya itu.

 

“Almarhum sebagai anak keempat dan putra tunggal, sehingga kami sangat menghargai. Di tengah keluarga, ia sebagai sosok Bapak yang melindungi kami semua,” katanya.

 

Sebagai kakak, Rambu Oni merasa sangat kehilangan sosok panutan dan pelindung. “Meskipun almarhum terkenal dengan disiplin tinggi dan tegas sebagai saudara, tetapi kami tetap bersatu. Kami berdua seperti kembar dan selama ini kami sebagai saudara hidup saling menghargai,” katanya.

 

Keponakan almarhum Frans Go’o menambahkan, almarhum semasa hidupnya sangat tegas dan displin. Namun di balik ketegasan itu ada nilai kebaikan, sehingga bagi keluarga menganggap ketegasan almarhum sangat baik. “Om biasanya tegas dan disiplin. Om adalah pengayom keluarga besar dan selama ini om sangat dihargai. Kami kehilangan om,” katanya diaminkan mantan supir semasa almarhum menjabat Sekda Kabupaten Kupang, Yosep Uskono.

 

 

Pesan Kubur di Sumba
Keluarga besar berterima kasih atas partisipasi dan kebaikan dari semua pihak sehingga perjalanan jenazah almarhum ke Kupang lancar. Pesan almarhum sebelum meninggal, ia ingin dibawa ke Lewa, Kabupaten Sumba Timur. “Bapak masih hidup pesan, nanti meninggal harus bawa pulang ke kampung halamannya di Lewa,” kata putri keduannya Angela Hope.

 

Dia menjelaskan rencana keluarga di Sumba, acara pemakaman akan dilakukan secara adat Sumba. “Semua keluarga di sana sudah siap untuk menyambut jenazah bila sudah tiba di Sumba Timur. Jadi tidak ada yang datang dari Sumba ke sini,” katanya.

 

Pantauan di rumah duka di Kelurahan Nafonaek, Kota Kupang, meski jenazah belum tiba, namun kerabat, kenalan, para atlet kempo, dan mantan stafnya di Kabupaten Kupang, terus berdatangan. Tampak sudah banyak krans bunga ucapan bela sungkawa yang dipajang di halaman rumah duka.

 

Jenazah almarhum sesuai rencana akan diterbangkan dari Hongkong pada Rabu (9/8) dan tiba di Jakarta pukul 21.10 WIB. Pada Kamis (10/8), jenazah akan diterbangkan ke Kupang menggunakan Pesawat Garuda nomor penerbangan GA438 pukul 07.15 Wita via Denpasar dan akan tiba di Bandara El Tari pukul 12.50 Wita.

 

 

Nama Lengkap : Bernabas Balla nDjurumana
TTL : Lewa-Sumba Timur 1 Januari 1951
Istri : Rambu Modjo

Anak-anak
1. Rambu Alamanda Loda Longgi
2. Anggela Hope
3. Rambu Prani Danah Eka nDai Praing
4. Umbu Riki Mata nDai Praing
5. Umbu mBaha Eti Putal Kaheli.

Pendidikan

SR Langga Liru
SMP Payeti – Waingapu
SMA Katolik- Waingapu
Fakultas Hukum-Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga.

Karir
Sekda Kabupaten Kupang
Pelatih kempo
Ketua Harian Perkemi NTT