Peserta Baru KB di NTT Meningkat

berbagi di:
img-20210304-wa0002

Kepala Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) NTT Marianus Mau Kuru (kiri) menyampaikan evaluasi kerja dalam Rapat Kerja Daerah BKKBN NTT, Selasa (2/3). Tampak dipantau juga oleh Deputi Bidang Pengendalian Penduduk, BKKBN Pusat Dwi Listyawardani (kanan). Foto: Pascal/VN

 

 

Pascal Seran

Peserta baru Keluarga Berencana (KB) di NTT menunjukkan tren meningkat. Meski belum mencapai target, usaha keras para kader lapangan dan crew Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) Perwakilan NTT perlu diapresiasi.

Hal ini diungkapkan Kepala Perwakilan BKKBN NTT Marianus Mau Kuru saat memaparkan materinya tentang evaluasi kinerja BKKBN dalam Rapat Kerja Daerah BKKBN yang dilakukan secara daring, Selasa (2/3).

Dia menguraikan, peserta baru KB di NTT pada tahun 2017 sebanyak 77.497 dengan peserta terbanyak dari TTS sebanyak 6.743 peserta. Sedangkan peserta tersedikit dari Kabupaten Sabu Raijua sebanyak 1.340 peserta.

Pada tahun 2018, kata dia, jumlah peserta baru mengalami peningkatan dengan total 79.386 peserta. Dari total itu, kata dia, Manggarai Timur menjadi urutan pertama dengan total peserta sebanyak 5.997. Sedangkan peserta tersedikit masih berasal dari Sabu Raijua dengan total peserta sebanyak 1.300 peserta.

Sementara itu, kata dia, pada tahun 2019, peserta baru mengalami penurunan dengan total peserta 75.677 peserta. Dari jumlah itu, jelasnya, jumlah terbanyak berasal dari TTS dengan total 6.126 peserta. Sementara julah tersedikit berasal dari Kabupaten Nagekeo dengan total 1.156 peserta.

“Meski menurun, Sabu Raijua yang pada tahun-tahun sebelumnya jumlahnya sedikit, ‘mengalahkan’ Nagekeo. Total peserta baru di Sabu Raijua tahun 2019 sebanyak 1.239 peserta berada di atas Nagekeo yang berada di nomor buntut dengan total 1.156 peserta,” ungkap Marianus.

Pada Tahun 2020, jelasnya jumlah peserta baru kembali meningkat dengan total 79.595 peserta. “Dari jumlah ini, TTS kembali mencatat peserta baru tertinggi dengan total 6.204 peserta. Sementara yang berada di nomor buntut adalah Sabu Raijua dengan total 1.300 peserta. Meski menjadi nomor buntut jumlah di Sabu raijua ini mengalami peningkatan dari 1.239 menjadi 1.300 peserta,” ujarnya.

Para peserta baru itu, kata dia, lebih banyak mengggunakan kontrasepsi pil. “Ke depan kita akan berusaha agar jumlah ini semakin meningkat untuk menekan lajunya pertumbuhan penduduk di NTT. Untuk itu, kami juga meminta dukungan dari semua pihak untuk mendukung program yang digelar BKKBN,” ungkapnya.

Marianus juga mengakui, program Pembangunan Keluarga, Kependudukan dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana) yang selama ini dijalankan BKKBN. “Secara nasional, jumlah peserta KB Baru MKJP provinsi NTT tertinggi secara nasional dan pencapaian peserta KB Aktif MKJP provinsi NTT menduduki urutan ke-2 dari 34 provinsi di Indonesia, additional user secara proporsi menduduki urutan tujuh nasional,” jelasnya.

Untuk angka Contraceptive Prevalence Rate (CPR) – Angka pemakaian kontrasepsi, kata dia, mencapai 71,02 persen meskipun ada beberapa indiator lain yang belum memenuhi target. Sedangkan Berdasarkan hasil SP2020 jumlah penduduk di Provinsi NTT sebanyak 5.33 juta jiwa dengan rata-rata Laju Pertumbuhan Penduduk (LPP) selama 2010-2020 turun menjadi 1,25 persen di bandingkan hasil SP thn 2010 sebesar 2,07 persen yang tentunya ada kontribusi dari program KB.

Sebelumnya, Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat sudah mengimbau agar semua pemerintah kabupaten/kota ikut mendukung prgram Bangga Kendana yang digalakkan BKKBN.

“Keluarga miskin dengan jumlah anak banyak berpeluang meningkatkan angka kemiskinan dan stunting, untuk itu penyelesaian perlu dilakukan dari hulu yaitu melalui program KB,” tandasnya.

Hasil Sensus Penduduk (SP) tahun 2020, jelasnya, menunjukan total penduduk NTT sebesar 5,33 juta jiwa atau bertambah 641,7 ribu jiwa dibandingkan hasil SP 2010, dengan Laju Pertumbuhan Penduduk (LPP) sebesar 1,25 persen. LPP telah berhasil diperlambat dari periode sebelumnya (2000-2010) yang masih berada pada angka 2,07 persen per tahun.

Menurunnya laju pertumbuhan penduduk NTT, kata dia, merupakan salah satu kontribusi dari program Bangga Kencana. Hal ini, akunya, terlihat dari menurunnya proporsi penduduk umur 0-14 tahun yaitu dari 37,3 persen pada tahun 2010 menjadi 24,6 persen tahun 2020, disisi lain angka migrasi kita diasumsikan sama dengan 0.

“Tantangan terbesar ke depannya adalah bagaimana meningkatkan kualitas penduduk, terutama bagi calon keluarga atau para keluarga muda agar benar-benar melahirkan generasi yang memiliki perencanaan, baik dari aspek jumlah anak, kecukupan gizi, pendidikan, ketahanan keluarga dan pengembangan ekonomi keluarga. Jika ini bisa kita lakukan maka niscaya kemiskinan dan stunting dapat kita tekan,” pungkas VBL. (bev/ol)