Peserta Kongres Marapu Sudah Berkumpul Sejak Senin siang

berbagi di:
whatsapp-image-2019-06-24-at-15-56-21-1

Para Peserta Kogres Marapu Mulai Berdatangan ke GSG. Foto: Frengky Keban

 

 
Frengky Keban

Para peserta kongres Marapu yang berasal dari berbagai komunitas Marapu di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur mulai berdatangan ke Gedung Serba Guna (GSG), Weetabula, Senin (24/6) petang.

Mereka akan mengikuti kongres pertama Marapu Se-Sumba yang resmi dibuka Selasa (25/6) oleh Kepala Kesbagpol Provinsi NTT, Johanna E. Lisapaly. Kongres Marapu diselenggarakan oleh YPK Donders bekerjasama dengan The Asia Foundation, Program Peduli dan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Pantauan VN, para peserta yang datang berasal dari empat Kabupaten di Pulau Sumba. Setelah tiba mereka diarahkan menuju rumah panggung yang sudah disediakan di belakang sekolah TK Santa Theresia Weetabula. Sambil menunggu para peserta lainnya, anggota kongres yang rata-rata berpakaian adat Sumba ini bercengkrama antar sesama peserta. Ada juga yang duduk menikmati sirih pinang ataupun sekedar merapikan pakaian adat Sumba yang digunakan.

Peserta Kongres Sudah Berkumpul Sejak Senin siang

Salah satu peserta dari Komunitas Kalindaka, Desa Ekapata, Wewewa Tengah, Stefanus Bora mengaku ini merupakan kegiatan baru bagi mereka namun sangat bermanfaat. Menurutnya, kegiatan ini menegaskan bahwa aliran kepercayaan Marapu merupakan budaya leluhur yang perlu dijaga dan dilestarikan meski baru diakui pemerintah beberapa tahun lalu.

“Selain itu, kehadiran kami di sini juga mau mempertegas eksistensi kami di mata pemerintah. Bahwa kami dari komunitas Marapu juga perlu diberi perhatian lebih khusus di sektor pendidikan maupun sektor lainnya. Ini juga akan kami sampaikan saat kongres besok,” katanya.

Sementara itu, Professor Of Anthropology and Director Of the Institute Of Culture, Religion, and World Affairs-Cura-at Boston University, Prof. Robert W. Hefner kepada VN mengatakan budaya sumba adalah salah satu budaya yang memperkaya khazanah budaya Indonesia. Sehingga budaya Sumba salah satunya Marapu perlu diangkat dan diperkenalkan.

“Ada baiknya menurut saya digelarnya kongres seperti ini supaya orang tahu Marapu itu apa dan bisa lebih dalam mempelajari tentang Sumba. Saya pikir Marapu menjadi penegas bahwa Sumba itu bagian dari NKRI,” tegasnya.

whatsapp-image-2019-06-24-at-15-56-22

Kongres ini akan diisi dengan seminar dari tanggal 25-28 Juni 2019 dengan menghadirkan pembicara diantaranya, Prof. Alo Liliweri, Dr.Ignas Kleden, Dr. Kebamoto, Dr. Samsul Maarif dan Umbu Wulang Tanahamahu Paranggi. Kegiatan ini juga akan dimeriahkan dengan berbagai pertunjukkan budaya dari komunitas Marapu dari berbagai daerah di Sumba mulai dari tarian hingga teknik menenun. (bev/ol)