Petani Kacang Gagal Panen akibat Kekeringan

berbagi di:
foto-hal-12-tanaman-kacang-sikka

Inilah Kondisi tanaman kacang tanah milik warga Kampung Baru, Desa Magepanda, Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka akibat kekeringan. Gambar diabadikan, Sabtu (7/9).

 

 

Yunus Atabara

Kekeringan yang melanda Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur mengakibatkan menurun drastis debit air bahkan beberapa bendungan mengalami kekeringan panjang. Akibatnya sejumlah petani mengalami gagal panen. Tak terkecuali para petani kacang terancam gulung tikar, karena mengalami gagal panen akibat panas berkepanjangan.

Simon Soru (40) warga Kampung Baru Desa Magepanda Kecamatan Magepanda Kabupaten Sikka yang beralih menjadi petani kacang tanah mengalami gagal panen akibat panas yang berkepanjangan saat ditemui VN Sabtu (7/9) bersama beberapa para petani lainnya mengatakan terpaksa panen kacang tanah sebelum masa panen.

Menurut Simon kekeringan yang melanda Kecamatan Magepanda, membuat sejumlah bendungan mengalami kekeringan yang berakibat tanaman kacang milik warga menjadi kering/mati. Hal itu membuat sejumlah petani kacang terpaksa panen kacang tanah tersebut sebelum masa panen dan menimbulkan kerugian yang besar bagi para petani kacang.

“Akibat kekeringan kami sudah 3 musim panas tidak tanam padi. Kami beralih tanam kacang tanah dan inipun kami terpaksa panen sebelum waktunya. Ini membuat kami rugi karena hasil panen tidak seimbang dengan biaya yang kami keluarkan,” kata ujar Simon.

Simon mengatakan usia panen kacang tanah mencapai 3,5 sampai 4 bulan. Dimana biasanya petani kacang tanah di wilayah Magepanda menanam kacang tanah sejak bulan Mei dan panen itu di akhir September atau awal Oktober setiap tahunnya. Namun dalam dua tahun belakangan petani terpaksa panen di usia kacang tiga bulan atau baru 2 bulan lebih akibat musim panas.

“Kalau kami tanam bulan Mei maka akhir september atau awal Oktober baru kami panen. Tapi ini mulai akhir agustus sampai awal september kacang semuanya sudah mati. Jadi kami terpaksa panen walaupun yang ada isi hanya satu atau dua biji,” ujarnya.

Maria Nona Inez (48) salah seorang petani kacang lainnya mengatakan untuk lahan setengah hektar membutuhkan anggaran hampir Rp 3 juta untuk beli kacang dan pembelian obat pembasmian hama serta pupuk. Sedangkan hasilnya bisa mencapai 5 ratus sampai 600 ratus kg bersih kacang tanah.

Tetapi dalam dua tahun terakhir lanjut Nona Inez, bahwa petani kacang untuk lahan seluas setengah hektar paling tinggi 100 kg dan lahan seluas 1 hektar hanya 200 sampai 250 kg. Tentu menurut Nona Inez hal itu membuat sejumlah petani kacang tanah merugi karena hasil panen terkadang modalnya pun tidak kembali.

“Kalau hasil panen bagus kami jual bisa capai Rp 20 ribu per kg. Tetapi kalau panen paksa seperti ini kadang pembeli tawar sampai Rp 10 ribu per kg. Kami terpaksa jual sekalipun harga murah karena tuntutan kebutuhan ekonomi,” ujar Nona Inez yang dibenarkan oleh warga lainnya.

Secara terpisah salah seorang tokoh masyarakat Magepanda, Herry Hale (50) kepada VN mengatakan pasca gempa tahun 1992 membuat debit air di lima bendungan yang ada di wilayah kecamatan Magepanda menurun drastis. Selain itu faktor alam dengan curah hujan yang tidak menentu dan musim panas yang berkepanjangan.

Selain itu faktor alam lanjut Herry Hale, juga diakibatkan oleh ulah oknum manusia yang tidak bertanggung jawab yang melakukan pembakaran hutan sekitar bendungan, serta adanya kejahatan oknum tertentu yang melakukan perambahan hutan untuk lahan pertanian serta penebangan pohon pohon besar di sekitar bendungan.

“Kalau ulah manusia ini tidak bisa dibendung maka masyarakat jangan petani bisa mendapatkan hasil yang baik. Pemerintah harus tegas memberikan sanksi kepada oknum keras kepada perambah hutan,” kata Herry Hale.

Secara terpisah anggota DPRD Sikka dari Partai Gerindra, Sufriance Merison Mbotu meminta kepada pemerintah agar selain menindak tegas kepada para pelaku perambah hutan, juga pemerintah harus melakukan penghijauan pada setiap sumber air yang ada di Kabupaten Sikka termasuk di wilayah Magepanda. Hal itu untuk menjaga sumber air agar tidak kering pada musim kemarau.

“Pemerintah harus melakukan penghijauan sumber sumber mata air termasuk embung dan bendungan agar menjaga sumber air tidak kering. Sedangkan pelaku perambah hutan dan pembakaran hutan harus diberikan sanksi tegas tanpa tebang pilih,” kata mantan Wakil Ketua DPRD Sikka.(nus/S-1)