PHK Sepihak, Karyawan Seed Resort Lapor ke Distransnaker Rote Ndao

berbagi di:
img_20200514_105126

Edy Ardius

 

 

 

Frangky Johannis

Tak terima diberhentikan sepihak dan tidak diberikan pesangon dan hak-hak lainnya oleh PT Santic Sari Dewi (Seed Resort), karyawan perusahaan jasa hotel dan restoran yang beroperasi di Desa Nemberala, Kecamatan Rote Barat, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur melapor ke Dinas Transmigrasi dan Ketenagakerjaan (Distransnaker) setempat.

Edy Ardius, manager yang di-PHK kepada VN di Ba’a, Senin (11/5), menjelaskan, dirinya melaporkan nasibnya karena sudah terkatung-katung tanpa penyelesaian sejak akhir Maret lalu.

Edy mengisahkan sekitar pertengahan Maret lalu saat Corona sudah mulai jadi pandemi, owner yang berkewarganegaraan Maroko sudah tahu apa yang bakal terjadi. Sehingga memanggil dirinya dan mengatakan bahwa akibat Corona ini akan luar biasa susahnya, sehingga tidak mampu lagi membayar gaji saya. Untuk itu kontrak kerja selesai dan owner membayar gaji terakhir saja.

“Waktu itu dia (owner) hanya katakan akibat Corona akan sulit, saya tidak mampu bayar kamu, jadi kita selesai dan saya bayar gaji terakhir kamu,” kata Edy menirukan yang disampaikan owner Seed Resort.

Menurut Edy, dia diberhentikan sepihak tanpa pesangon, tiket untuk pulang ke Bali pun tidak diberikan. Dia juga dikeluarkan dari akomodasi yang disiapkan oleh perusahaan, dan tidak diberikan waktu mencari tempat tumpangan.

“Dalam kontrak saya diberikan akomodasi, makan-minum, dan tiket pesawat untuk pulang. Namun, karena tidak juga diberikan, maka saya bongkar ke Disnakertrans termasuk soal BPJS, lembur, cuti, dan hak-hak lain yang tidak pernah diberikan perusahaan tersebut kepada karyawan selama ini,” katanya.

Menurutnya, laporan sudah dibuat sejak 24 Maret lalu, tetapi PHK secara tertulis belum juga didapatkan. Sudah satu bulan lebih perusahaan mengulur waktu dan pas Covid-19 heboh, mereka dapat celah untuk menghindar dari mediasi.

Edy mengatakan mediasi yang dilakukan secara virtual dua pekan lalu di kantor Disnakertrans, saat itu pihak perusahaan melakukan pembelaan bahwa saya selaku manajer tidak masuk empat hari berturut-turut, melanggar kontrak kerja, dan menjadi makelar, padahal hal tersebut tidak saya lakukan.

“Saya berharap perusahaan punya bukti atas tuduhan tersebut. Apa tidak sebaliknya kami semua 18 karyawan tidak dibayar BPJS dan hak lainnya. Bahkan, dirumahkan tanpa konpensasi sedikit pun seperti hotel-hotel lainnya di Nemberala dan Boa,” ujarnya.

Kepala Dinas Transmigrasi dan Ketenagakerjaan Kabupaten Rote Ndao Frederik Haning yang dikonfirmasi melalui petugas UPT Pengawasan Ketenagakerjaan Provinsi NTT di Rote Ndao Jusuf Domi Adang mengatakan laporan karyawan Seed Resort atas nama Edy Ardius tersebut sudah diterima dan diproses sesuai aturan yang berlaku. Namun, proses mediasi sedikit mengalami kendala akibat pembatasan yang diakibatkan pandemi Covid -19.

Menurut Domi, pihaknya telah melakukan mediasi sebanyak dua kali dengan menyodorkan kewajiban pemberi kerja (Seed Resort) terhadap karyawan yang di-PHK sesuai Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan sebesar Rp 50 juta lebih. Namun, pihak pemilik hotel hanya mampu memberikan pesangon sekitar Rp 30 juta. Karena belum ada kesepakatan antara keduabelah pihak, maka masih akan dilakukan mediasi ketiga.

“Kami akan mengagendakan mediasi ketiga menggunakan protokoler Covid-19. Dalam mediasi tersebut jika pemilik hotel sepakat dengan pembayaran pesangon sesuai UU yang sudah disampaikan Rp 50 juta lebih itu, maka kasusunya selesai. Namun jika tidak ada kesempakatan, maka akan difasilitasi untuk diselesaikan pada tingkat penanganan perselisihan (peradilan),” ujarnya. (bev/ol)