Pilu di Fatukoa

berbagi di:
img-20210125-wa0011

Tangis keluarga di TPU Fatukoa, Minggu (24/1). Foto: Yapi/VN

 

 

Yapi Manuleus

Pandemi Covid-19 tak hanya menghentak dunia dengan keganasannya namun menyisakan pilu mendalam yang menyesakan dada.

Meski berada ribuan mil dari Wuhan, Cina tempat virus pertama kali ditemukan namun apa daya tiba juga di Kota Kupang, Kota KASIH.

Meningkatnya kasus Covid-19, minimnya kesadaran masyarakat dan melambungnya jumlah kasus tranmisi lokal membuat banyak orang harus kehilangan ayah, ibu, suami, istri, anak, kerabat dan sahabat. Kadang dalam waktu yang tidak terlalu lama, satu atau dua hari, virus merenggut nyawa yang dikasihi.

Mengetahui keluarga, kerabat atau sahabat positif Covid saja sudah membuat hati bergeming dan cemas apalagi mendengar nama mereka disebut telah pergi. Pahitnya, tak ada kesempatan melayat bagi keluarga besar, tak ada doa bersama selama satu atau tiga hari berturut-turut. Jenazah hanya akan dimandikan, didoakan oleh petugas tentu dengan memakai Alat Pelindung Diri (APD) lengkap, lalu dikuburkan dengan protokol kesehatan ketat.

Seperti tampak Minggu (24/1) di Taman Pemakaman Umum (TPU) Fatukoa, tempat para jenazah khusus Covid-19 di Kota Kupang dikuburkan. Sierene mobil jenazah menggaung tanda ada yang telah pergi lagi. Mobil jenazah memasuki area khusus pemakaman pasien Covid-19. Keluarga inti atau keluarga besar hanya menatap dari kejauhan.

img-20210125-wa0012

Petugas penguburan jenazah dengan sigap perlahan-lahan mengeluarkan jenazah dari mobil jenazah dan memasukan peti jenazah ke lubang makam yang disiapkan tanpa didampingi keluarga dan kerabat.

Suasana bertambah pilus, saat tangisan keluarga dan kerabat pecah membahana di tanah lapang Fatukoa.

“Bapa …. Bapa … kenapa pergi begitu cepat. Bapa e….Bapa e…,” teriak histeris keluarga saat itu.

Sendu, pilu menyayat hati. Sedih ditinggal orang yang dikasihi dan dihormati dalam waktu yang begitu cepat. Banyak keluarga yang saat menatap dari kejauhan masih berusaha mencerna makna semua ini agar bisa diterima dengan hati yang lapang.

Sementara puluhan orang lain yang sedang merenovasi makam keluarga mereka yang sudah dikubur lebih dahulu di lokasi yang sama tiba-tiba tertegun, menghentikan segala aktivitas untuk sejenak menatap proses pemakaman jenazah serta turut berduka. Mereka turut berempati dan merasakan pilu karena baru juga ditinggal pergi orang yang mereka kasihi.

Usai dimakamkan, petugas langsung meninggal lokasi sementara keluarga berusaha tegar menatap makam sambil memberi hormat terakhir.

Luther Lake (48), salah satu petugas yang sehari-hari bertigas menggali makam di lokasi itu menuturkan akhir-akhir ini selalu saja lima hingga enam orang jenasah Covid-19 dikubur dalam sehari.

“Ini kelihatannya sudah gawat betul-betul. Setiap hari lima jenasah kalau tidak sampai enam jenasah yang dikuburkan di sini. Ini hari saja kalau mau hitung sampai siang sudah lima orang ini,” ungkapnya.

Ia mengaku ikut merasakan pedihnya hati keluarga. Tangisan mereka sungguh menyiratkan kehilangan mendalam apalagi dikuburkan dengan cara yang tak biasa.

“Saya juga sering ikut sedih, mereka menangis tapi apa yang bisa mereka buat? Hanya doa semata,” ungkapnya.

Merasakan kepedihan keluarga dan kerabat setiap hari membuat Lukas sadar Covid bukan persoalan mudah. Ia hanya bisa berpesan agar masyarakat lebih taat dan patuh pada protokol kesehatan. Melindungi diri dan melindungi orang yang kita kasihi.

“Di luar kita boleh anggap tidak tahu. Tapi di sini situasi mencekam dengan lihat begitu banyak jenasah Covid-19 yang dikuburkan di sini. Lubang makam saja sudah masuk 80 lebih makam yang terisi. Pokoknya kurang, exavator gali lagi. Sedih namun itu sudah. Kita harus sadar sudah untuk memutus mata rantai Covid-19 agar tidak ada lagi tangis di Fatukoa ini,” ungkapnya.

Data terbaru jumlah pasien yang terpapar Covid 19 di Kota Kupang pada hari ini Selasa (26/1) tercatat jumlah Positif sebanyak 2.126 orang, Sembuh 700 orang, Dirawat 1.364 orang, dan yang meninggal dunia tercatat sebanyak 62 orang.

Semoga kita tak hanya ikut haru, namun ikut bertanggungjawab atas diri dan mereka yang kita kasihi dan hormati. Batasi diri, batasi langkah dan gerak. Taati prokes. Semoga bumi kembali sehat dan Kota Kupang, Kota KASIH kembali tersenyum. (bev/ol)