PKB, Ujung Tombak Kesuksesan Program BKKBN

berbagi di:
SAMSUNG CSC

Inspektur Utama (Irtama) BKKBN Agus Sukiswo sedang memberikan arahan dalam pertemuan bersama PKB seluruh NTT, Selasa (18/3) di Hotel Matahari Atambua. Foto: Beverly Rambu/VN

 
Beverly Rambu

Penyuluh Keluarga Berencana (PKB) menjadi ujung tombak kesuksesan berbagai program Kependudukan Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga (KKBPK) yang diselenggarakan Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) karena menjadi orang pertama yang berhadapan langsung dengan masyarakat di lapangan. Untuk mendukung tugas di lapangan, PKB setidaknya harus memiliki tiga kemampuan utama yakni kemampuan teknis, kemampuan manajerial, dan kemampuan sosio-kultural.

“Seorang PKB misalnya harus memahami benar informasi dan pengetahuan terkait kependudukan, keluarga berencana dan pembangunan keluarga. Dia akan menjadi corong informasi bagi masyarakat saat sosialisasi di lapangan. Secara manajerial, PKB harus bisa mengatur, mampu berkoordinasi dan menggerakan masyarakat, dan memiliki strategi untuk bisa mencapai tujuan program KKBPK. Hal yang paling penting, PKB harus memiliki kemampuan untuk memahami budaya atau kearifan lokal setempat. Bagaimana bisa melakukan pendekatan dengan masyarakat untuk mengkomunikasikan berbagai program yang ada,” ujar Inspektur Utama (Irtama) BKKBN Agus Sukiswo dalam pertemuan bersama PKB seluruh NTT, Selasa (18/3) di Hotel Matahari Atambua.

“PKB harus memiliki karakter yang kuat, bertanggung jawab dalam pelayanan, bekerja sesuai data dan standar kerja yang ada serta selalu melakukan evaluasi untuk mengukur kinerja diri (self control) sehingga selalu bisa melakukan perubahan positif saat bertugas di lapangan,” jelasnya.

Sebagai petugas lapangan, kata Agus, PKB perlu pengembangan metode pendekatan program kepada masyarakat agar tujuan kegiatan bisa tercapai. PKB bisa memperluas jaringan kerja dan bermitra dengan pihak lembaga lain untuk bisa secara bersama-sama menyukseskan berbagai program KKBPK.

Agus menegaskan, tugas PKB tidak mudah dan perlu bekerja lebih keras lagi. Pasalnya, di tingkat nasional Provinsi Nusa Tenggara Timur masih cukup tertinggal dibanding provinsi lain misalnya angka Total Fertility Rate (TFR) NTT 3,23 sementara rata-rata nasional 2,38. Contraceptive Prevalence Rate (CPR) atau prevalensi pemakaian kontrasepsi NTT 42,4 dan secara nasional 60,4 atau terendah nomor 3. Unmeet Need (orang yang ingin ber-KB tapi belum terpenuhi misalnya mereka yang tinggal di desa dan sulit mengakses fasilitas kesehatan) NTT 23,2 tertinggi secara nasional sementara rata-rata nasional 12,4. Lalu angka Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD) NTT 18,9 dan secara nasional 19,7 atau masuk kategori cukup baik.

“Data yang saya peroleh juga menunjukan jumlah anak yang mengalami stunting di NTT saat ini mencapai 1.117.606 anak dan tersebar di 22 kabupaten/kota. Ini tugas PKB, tugas kita bersama. Bagaimana kita bisa berperan untuk mengatasi hal ini,” tegasnya.
Peran PKB di Era Industri 4.0
Ia mengatakan di Era Industri 4.0, para penyuluh dituntut untuk bekerja profesional dan terus mengembangkan kompetensi di berbagai bidang terutama di bidang informasi dan teknologi (IT).

Ia menambahkan dalam menjalankan tugas di zaman ini PKB perlu memahami IT, mengikuti perkembangan IT dan menggunakan IT untuk mendukung tugas di lapangan.

Sementara Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi NTT Marianus Mau Kuru menegaskan kedisiplinan dalam bekerja dan melayani masyarakat sangat penting agar target bisa tercapai.

“Mental pegawai tidak bisa ditawar-tawar karena sebagai ASN kita punya tanggung jawab untuk melayani masyarakat dan menyukseskan program,” ujarnya.

Ia mengatakan sejak Januari 2018, PKB yang sebelumnya bekerja di bawah naungan pemda secara resmi diambil alih oleh BKKBN pusat. Untuk itu semua kinerja PKB bisa langsung tergambar dan dilihat di tingkat pusat. Aplikasi untuk memberikan informasi harian tentang kegiatan atau tugas di lapangan juga tidak bisa dimanipulasi karena terpantau dengan teknologi muktahir.

Ia mengingatkan PKB maupun seluruh ASN BKKBN untuk bekerja keras mendukung NTT bangkit dan sejahtera melalui kesuksesan program KKBPK.