PLN Selenggarakan Pelatihan Kader Posyandu di Desa Kolbano

berbagi di:
screenshot_2020-07-09-21-56-09-90
Putra Bali Mula

PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah Nusa Tenggara Timur melalui Program PLN Peduli menyelenggarakan Pelatihan Kader Posyandu di Aula Kantor Camat, Desa Kolbano Kabupaten TTS (Timor Tengah Selatan) pada tanggal 7-8 Juli 2020.

Sebanyak 20 kader dipilih Posyandu Desa Kolbano yang didukung oleh PLN bersama dengan Pemda (Pemerintah Daerah) Kabupaten TTS dan Yayasan Jaringan Peduli Masyarakat (JPM) khususnya di Desa Kolbano.

General Manager PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah Nusa Tenggara Timur Agustinus Jatmiko dalam pesannya kemarin (8/7), menilai hal ini untuk melakukan pencegahan dan penanganan stunting guna menurunkan angka balita stunting yang dimulai dari pelatihan kader yang menjadi garda terdepan dalam menangani stunting.

Hal tersebut disampaikan melalui Asistant Manager CSR PLN UIW NTT, Vincentsius Leonardo.

Menrutnya, pelatihan Kader Posyandu ‘Cegah Stunting melalui 1000 Hari Pertama Kehidupan’ tersebut merupakan wujud BUMN untuk Indonesia dan bentuk kepedulian PLN kepada masyarakat khususnya stunting.

Ia berharap pelatihan ini dapat bermanfaat bagi peserta pelatihan. Usai pelatihan, peserta juga dapat mengedukasi masyarakat di lingkungan sekitar.

“Sehingga apa yang diharapkan Pemerintah untuk menurunkan angka stunting di TTS tercapai sekaligus Mendukung kegiatan pariwisata di Desa Kolbano dengan pesona pantai batu warna-warni,” pesan Jatmiko.

Sementara itu, Sekretaris Camat Kecamatan Kolbano Chaterinus Banamtuan dalam acara pelatihan kader menyampaikan apresiasi kepada PLN.

“PLN selain memberi terang bagi kami melalui listrik untuk anak-anak bisa belajar di malam hari, juga dalam hal kesehatan mau terjun langsung peduli dalam pelatihan kader Posyandu untuk menurunkan jumlah stunting di Kecamatan Kolbano,” katanya.

Yohanes Pakereng, Direktur Yayasan Jaringan Peduli Masyarakat (JPM) berharap setelah pelaksanaan pelatihan pengetahuan peserta tentang stunting meningkat dan penerapan 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).

“Seperti kebutuhan gizi seimbang ibu hamil, pemberian ASI ekslusif, menyusui, makanan pendamping ASI, gizi seimbang dan pola asuh sehingga dapat menjadi agen perbaikan stunting di setiap Posyandu binaan masing-masing peserta,” kata dia.

Untuk diketahui, angka stunting tertinggi atau di atas 45 persen saat ini adalah di Kabupaten Kupang, TTS dan Kabupaten TTU (Timor Tengah Utara).

Apriani E. Fobia selaku Kepala Puskemas Kolbano mengungkapkan rasa terima kasih kepada PLN dan Yayasan JPM yang dengan antusias telah menunjang pelayanan yang merupakan bagian kegiatan nasional yang dilakukan di daerah-daerah.

“Khususnya di Kolbano tersapat 5 desa dan 1 desa ditunjuk untuk menangani stunting dengan menjalankan kegiatan-kegiatan yang mengarah penanganan dan pencegahan meningkatnya stunting. Stunting bukan hanya gizi tetapi juga faktor lain seperti tinggi badan dan berat badan yang juga merupakan stunting,” imbuhnya.

Ia juga mengatakan, daam 2 tahun ini dengan 20 orang tenaga posyandu hanya dapat memberikan bantuan kepada 5 anak karena keterbatasan dana.

“Kami sangat bersyukur. semoga niat baik ini terus berkembang, dimana dimulai dari lingkungan sendiri, bagaimana kesadaran masyarakat mencegah stunting dan khusus Para peserta pelatihan, yang merupakan ujung tombak dari Puskesmas (dari rakyat untuk rakyat), apa yang direncanakan semua dijalankan setelah selesai pelatihan untuk menurunkan penderita stunting,” tambahnya.

Ebenhaiser Taneo, ketua kelas peserta pelatihan kader posyandu, mengatakan, kegiatan penyuluhan yang diberikan dari PLN melalui Yayasan JPM kepada masyarakat  Desa Kolbano yang memiliki 4 Posyandu sangat bermanfaat dan berguna bagi semua komponen masyarakat di Desa Kolbano untuk mencegah meningkatnya penderita stunting dapat tercapai. (bev/ol)