Poktan Di Desa Mbuit Panen 75 Ton Jagung Hibrida Program TJPS

berbagi di:
img-20201119-wa0001

 

 

 

Gerasimos Satria

Kelompok Tani (Poktan) Desa Mbuit, Kecamatan Boleng, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) mulai memanen jagung Program Tanam Jagung Panen Sapi (TJPS) yang merupakan Program Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT),Viktor Bungtilu Laiskodat di bidang pertanian.

Petani di Desa Mbuit berhasil memanen jagung hibrida mencapai 75 ton lebih. Produktivitas rata-rata lahan jagung 5,3 ton per hektare pipil kering.

Benih jagung gibrida varietas Betras 4 yang ditanam pada periode April-September (ASEP) Tahun 2020 itu ditanam oleh 14 Poktan yang berada di Desa Mbuit dengan luas area mencapai 83 Ha.

Kepala Bidang Tanaman Pangan, Ahmad Rudi,Kamis (19/11) mengatakan kelompok tani di Desa Mbuit pada masa tanam periode ASEP telah menanam jagung mencapai 83 hektare. Sedikitnya 14 Ha tanaman jagung telah dipanen baru-baru ini dengan hasil panen mencapai puluhan ton dan produktivitas lahan jagung mencapai 5,4 ton per hektare pipil kering.

Dia menjelaskan panen jagung Program TJPS di Desa Mbuit kelompok tani Usaha Bersama dan Kelompok tani Gotong Royong Kegiatan TJPS Periode Asep Tahun 2020 target tanam 160 ha, realisasi tanam 83 Ha. Sisa belum tanam 77 ha yang dialihkan ke Kecamatan Welak untuk ditanam periode Oktober-Maret tahun 2020/2021.

Jagung yang dipanen, kata Ahmad Rudi, para petani dapat langsung dijual ke pedagang di pasar. Para petani menggiling jagung untuk jadi beras jagung dan harga lebih mahal berkisar Rp 8.000 – 10.000 per kilogram (Kg).

Selain itu, pengusaha pakan ternak Viktor Selamat siap membeli jagung program TJPS dengan kisaran harga Rp 3.200/kg pipilan kering dengan kadar 13-14 persen.

“Kelompok tani di Manggarai Barat merespon dengan baik program TJPS.Petani langsung memasarkan sendiri jagungnya,” kata Ahmad.

Rudi mengaku yang menjadi kendala para petani di Kabupaten Manggarai Barat selama ini, yakni ketersedian air kurang, hama dan penyakit tanaman, tidak tanam serempak, masih ada petani yang ragu menanam jagung karena soal pasar.Serta tanaman jagung masih berorientasi konsumtif bukan agribisnis.

“Program TJPS ini targetnya adalah sebagian hasil jagung ini diinvestasikan untuk membeli ternak, baik sapi, ayam, babi sesuai kebutuhan masyarakat masing-masing wilayah,” kata Ahmad.
(bev/ol)