Polair Polda NTT Tangkap Pelaku Bom Ikan di Sikka

berbagi di:
img-20200916-wa0014

 

KA (45) pelaku penangkapan ikan menggunakan bahan peledak yang berhasil diamankan polisi belum lama ini.

 

 

 

Yunus Atabara

 
DALAM operasi Direktorat Polairud Polda NTT berhasil menangkap seorang nelayan asal Desa Kolisia Kecamatan Magepanda Kabupaten Sikka, berinisial KA (45) yang kedapatan menangkap ikan menggunakan bahan peledak atau bom ikan di Perairan laut Flores.

Direktur Polair Polda NTT, Kombes Pol Andreas Susi Darto, melalui penyidik pembantu, Brigpol Kinglif Huma Kota, kepada VN Rabu (16/9) di Pos Mobile Polair Sikka mengatakan, penangkapan itu, berawal dari laporan masyarakat bahwa di wilayah perairan Kolisia sering terjadi penangkapan ikan menggunakan bahan peledak.

Berdasarkan informasi warga tersebut tim langsung melakukan patroli menggunakan KPP Sukur XXII-3007. Dalam patroli tim mendengar bunyi ledakan. Petugas langsung menuju ke arah ledakan terjadi dan berhasil mengamankan seorang nelayan.

“Setelah mendapat laporan, kami langsung patroli di perairan Maumere. Tiba-tiba kami mendengar bunyi ledakan dan kami langsung menuju ke arah ledakan itu dan langsung aman seorang nelayan,” ujarnya.

Serelah diinterogasi nelayan tersebut mengaku menangkap ikan menggunakan bom ikan. Hal itu menurut tersangka terpaksa ia lakukan karena terdesak kebutuhan ekonomi keluarganya.

Dalam peristiwa penangkapan itu polisi berhasil menyita barang bukti berupa satu unit sampan berwarna hijau, satu buah dayung, kacamata selam, serokan ikan, dan sebuah wadah penyimpanan bahan peledak dan perlengkapan berupa jerigen dan sebuah compresor.

Menurut Kinglif Huma Kota, pelaku saat ini sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh penyidik Pol Air dan sudah ditahan sejak (3/9) di Rutan Polres Sikka. Penyidik sedang melakukan pengembangan untuk memgetahui adanya kemungkinan pihak lain.

Tersangka dijerat dengan pasal 84 ayat 1 junto pasal 8 ayat 1 Undang – Undang 31 Tahun 2004 sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan Undang – Undang 45 Tahun 2009 tentang Perikanan dengan ancaman pidananya 6 tahun penjara.

Dalam waktu dekat kita akan dilimpahkan di Kejaksaan Tinggi untuk diteliti. Kalau sudah rampung, agar Kajati NTT kirim ke Kajari Sikka untuk dilakukan penuntutatan,” Kinglif Huma Kota.

Menurut Kinglif Huma Kota, menjelaskan bahwa dalam tahun 2020 kasus penangkapan nelayan yang menggunakan bom ikan di Sikka sudah 3 kasus. Dua kasus sudah ada putusan dan kasus ke-3 sementara dalam penyidikan. (Yan/ol)